Dalam rapat Komisi I DPR yang membahas penanganan bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, seorang anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menyoroti fenomena viralnya donasi masyarakat untuk korban bencana. Ia membandingkan jumlah donasi yang terkumpul dengan bantuan yang telah disalurkan oleh pemerintah. Endipat menekankan pentingnya pemerintah untuk lebih gencar dalam mensosialisasikan informasi mengenai bantuan yang telah diberikan kepada masyarakat.
Perbandingan Donasi Masyarakat dan Bantuan Pemerintah
Endipat menyampaikan bahwa donasi yang dikumpulkan oleh masyarakat, meskipun sangat berarti, jumlahnya relatif kecil dibandingkan dengan nilai bantuan yang telah digelontorkan oleh pemerintah. Ia mencontohkan, sumbangan individu sebesar Rp 10 miliar, sementara negara telah mengalokasikan dana triliunan rupiah untuk penanganan bencana di Aceh.
Kritik Terhadap Pemberitaan dan Relawan
Selain menyoroti perbedaan nilai donasi, Endipat juga mengkritik pemberitaan media sosial yang menurutnya kurang proporsional dalam menggambarkan peran pemerintah. Ia menyindir relawan yang baru datang ke lokasi bencana dan seolah-olah menjadi pihak yang paling berjasa, padahal pemerintah telah hadir sejak awal dan mendirikan ratusan posko.
Peran Kementerian Komunikasi dan Digital
Menanggapi hal ini, Endipat berharap Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo) dapat berperan lebih aktif dalam mengamplifikasi informasi mengenai bantuan pemerintah kepada daerah-daerah yang terkena bencana. Tujuannya adalah agar masyarakat tidak memiliki persepsi bahwa negara absen dalam penanganan bencana. Ia menekankan bahwa informasi yang beredar saat ini cenderung menyoroti kekurangan dan mengabaikan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh pemerintah.
Kritik Masyarakat Terhadap Kementerian Kehutanan
Endipat juga menyinggung kritik yang dilayangkan masyarakat terhadap Kementerian Kehutanan. Menurutnya, kritik tersebut muncul karena kurangnya informasi yang diterima masyarakat mengenai kinerja Kementerian Kehutanan, termasuk evaluasi kebijakan dan program penanaman pohon.
Inisiatif Donasi Masyarakat yang Viral
Sebagai informasi tambahan, sejak terjadinya bencana di Sumatera pada akhir November, berbagai inisiatif penggalangan dana muncul dari masyarakat. Salah satu yang viral adalah donasi yang diinisiasi oleh Ferry Irwandi, pendiri gerakan literasi digital Malaka Project. Dalam waktu 24 jam, Ferry berhasil mengumpulkan dana sebesar Rp 10 miliar.
Detail Penggalangan Dana oleh Ferry Irwandi
Pengumpulan donasi sebesar Rp 10 miliar tersebut berlangsung pada tanggal 2 Desember 2025. Melalui akun Instagram pribadinya, @irwandiferry, Ferry mengumumkan bahwa penggalangan dana di platform KitaBisa telah selesai setelah mencapai target Rp 10 miliar. Total dana yang terkumpul mencapai Rp 10.374.064.800 dari 87.605 donatur. “Selama 24 jam kita berhasil mengumpulkan 10,3 miliar rupiah donasi untuk korban bencana di pulau Sumatra,” tulis Ferry disertai unggahan tangkapan layar penggalangan dana dari situs Kitabisa.com.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Endipat Wijaya menekankan pentingnya keseimbangan informasi dalam pemberitaan mengenai penanganan bencana. Ia berharap pemerintah, melalui Kementerian Komunikasi dan Digital, dapat lebih proaktif dalam menyampaikan informasi mengenai upaya-upaya yang telah dilakukan, sehingga masyarakat memiliki pemahaman yang komprehensif dan tidak hanya terpaku pada kekurangan-kekurangan yang ada. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah dan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam penanganan bencana.


















