Suhu Panas di Lampung Masih dalam Batas Normal, BMKG Ingatkan Potensi Dampak Kemarau
Bandar Lampung – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II menegaskan bahwa kondisi suhu panas yang dialami masyarakat Lampung saat ini masih berada dalam kategori normal. Meskipun terasa menyengat, suhu udara tertinggi yang tercatat masih berkisar antara 33 hingga 34 derajat Celcius, dan ini umumnya terjadi pada jam-jam puncak panas, yaitu sekitar pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Rudi Harianto, Koordinator Bidang Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Radin Inten II, menjelaskan bahwa pada periode musim kemarau tahun ini, suhu udara di Lampung diprediksi akan berada dalam rentang yang cukup stabil, yaitu antara 23 hingga 34 derajat Celcius. “Saat ini suhunya masih normal, belum ada peningkatan suhu yang signifikan,” ujar Rudi pada Senin, 1 Juni 2026.
Ia juga menekankan bahwa kondisi panas yang terjadi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai suhu ekstrem. Menurut standar BMKG, suhu panas baru dianggap ekstrem apabila telah melampaui batas kenaikan 3 derajat Celcius dari rata-rata normalnya.
Meskipun demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap datangnya musim kemarau yang telah dimulai pada bulan Juni 2026. Prediksi BMKG menunjukkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada bulan Juli, Agustus, dan September mendatang. Musim kemarau ini diperkirakan akan berlangsung hingga bulan November. “Kita memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Juli, Agustus, dan September. Untuk musim kemarau sendiri kita perkirakan berlangsung sampai November,” ungkap Rudi.
Potensi Dampak Musim Kemarau yang Perlu Diwaspadai
Musim kemarau yang berlangsung panjang berpotensi menimbulkan berbagai dampak negatif yang perlu diantisipasi oleh masyarakat dan pemerintah. BMKG telah merinci beberapa potensi dampak yang perlu diwaspadai, antara lain:
- Kekeringan: Berkurangnya curah hujan secara signifikan dapat menyebabkan sumber-sumber air mengering, baik itu sumur, sungai, maupun mata air.
- Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla): Kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang memiliki vegetasi padat.
- Krisis Air Bersih: Kekeringan yang berkepanjangan dapat mengakibatkan kelangkaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, seperti minum, memasak, dan sanitasi.
- Penurunan Kondisi Kesehatan: Cuaca panas yang ekstrem dan minimnya pasokan air bersih dapat memicu berbagai masalah kesehatan, termasuk dehidrasi, heatstroke, dan penyebaran penyakit yang berkaitan dengan sanitasi buruk.
Wilayah yang Perlu Peningkatan Kewaspadaan
Berdasarkan analisis BMKG, beberapa wilayah di Lampung perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak musim kemarau, khususnya terkait kebakaran hutan dan lahan. Wilayah-wilayah tersebut meliputi:
- Kabupaten Lampung Tengah
- Kabupaten Lampung Timur
- Kabupaten Lampung Selatan
- Kabupaten Tulang Bawang
- Kabupaten Tulang Bawang Barat
- Kabupaten Mesuji
- Kabupaten Way Kanan
Selain itu, Kota Bandar Lampung juga menjadi salah satu wilayah yang secara historis kerap menghadapi persoalan krisis air bersih ketika musim kemarau berlangsung cukup panjang.
Teknologi Modifikasi Cuaca dan Imbauan BMKG
Menanggapi kekhawatiran akan dampak kemarau, Rudi Harianto menyatakan bahwa hingga saat ini belum ada rencana spesifik mengenai pelaksanaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) di Lampung. “Untuk modifikasi cuaca, sampai saat ini belum ada rencana,” tegasnya.
Menghadapi kondisi musim kemarau, BMKG memberikan sejumlah imbauan kepada masyarakat untuk meminimalkan dampak negatif yang mungkin timbul. Imbauan tersebut meliputi:
- Hemat Penggunaan Air: Masyarakat dihimbau untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari pemborosan.
- Perbaiki Kebocoran: Segera perbaiki saluran air yang mengalami kebocoran untuk mencegah hilangnya air secara percuma.
- Tampung Air Hujan: Manfaatkan sisa-sisa curah hujan yang mungkin masih turun dengan menampungnya untuk kebutuhan sehari-hari.
- Penyesuaian bagi Petani: Para petani disarankan untuk menyesuaikan jadwal tanam mereka dan memilih jenis tanaman yang memiliki ketahanan lebih baik terhadap kondisi kering.
BMKG juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah, petani, dan masyarakat dalam meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah antisipasi. Dengan demikian, dampak negatif dari musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung beberapa bulan ke depan dapat diminimalkan secara efektif.












