Merayakan Akhir Bulan Maria: Komitmen Baru Umat Katolik untuk Iman yang Bertumbuh
KUPANG – Ratusan umat Katolik dari Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua di Kota Kupang berkumpul di Gua Maria paroki setempat pada Senin sore, 1 Juni 2026, untuk mengikuti ibadat penutupan Bulan Maria. Acara khidmat ini dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal Keuskupan Agung Kupang (KAK), RD Erik Kfun, dan menjadi penanda penting bagi umat untuk merefleksikan dan memperbarui komitmen iman mereka.
Pelaksanaan ibadat ini sengaja digelar sehari setelah tanggal 31 Mei, yang merupakan penutup resmi Bulan Maria, karena tahun itu bertepatan dengan hari Minggu. Hal ini memberikan kesempatan lebih luas bagi umat untuk berpartisipasi dalam rangkaian doa dan devosi yang telah dijalani sepanjang bulan Mei. Lebih dari sekadar mengakhiri periode devosi, perayaan ini menekankan pentingnya Bulan Maria sebagai momentum pembaruan iman yang mendalam, mendorong umat Katolik untuk terus bertumbuh dalam kekudusan hidup sehari-hari.
Bunda Maria: Teladan Iman yang Hidup dan Berbuah
Dalam homilinya yang menyentuh, RD Erik Kfun mengajak seluruh umat untuk menjadikan Bunda Maria sebagai teladan utama dalam menghayati iman yang hidup dan menghasilkan buah-buah kebaikan dalam tindakan nyata. Ia menekankan bahwa pengakuan iman dalam tradisi Kristiani tidaklah cukup jika hanya berhenti pada ucapan. Iman yang sejati, menurut RD Erik, haruslah terwujud nyata dalam kehidupan sehari-hari melalui penerapan kebajikan, kasih yang tulus, penguasaan diri yang baik, serta pelayanan yang penuh kerendahan hati kepada sesama.
“Sebagai orang beriman, kita dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi juga menghasilkan buah-buah kebaikan dalam kehidupan sehari-hari,” ujar RD Erik, menekankan panggilan aktif setiap umat.
RD Erik Kfun juga merujuk pada bacaan liturgi pada hari itu, yang mengingatkan umat tentang pentingnya terus menerus bertumbuh dalam kebajikan dan senantiasa terbuka menerima rahmat Allah yang dianugerahkan. Ia menyoroti sosok Bunda Maria sebagai gambaran paling sempurna dari sikap tersebut. Kesetiaan, kerendahan hati, dan ketaatan Maria yang tak tergoyahkan kepada kehendak Tuhan menjadikannya teladan iman yang tak ternilai.
“Maria adalah kebun anggur yang subur bagi karya Roh Kudus. Ia menerima, merawat, dan tetap setia kepada Yesus hingga di bawah kaki salib,” jelasnya, menggambarkan peran sentral Maria dalam rencana keselamatan ilahi.
Lebih dari Sekadar Penutup: Awal Komitmen Baru
RD Erik menegaskan bahwa berakhirnya Bulan Maria tidak seharusnya dimaknai sebagai akhir dari penghormatan dan devosi kepada Bunda Maria. Sebaliknya, perayaan penutupan ini seharusnya menjadi titik awal bagi sebuah komitmen baru. Komitmen ini adalah untuk menjalani hidup yang lebih kudus, lebih dekat dengan Kristus, dan terus meneladani sifat-sifat luhur Bunda Maria.
“Marilah kita teguh dalam iman, setia dalam kasih, dan rendah hati dalam setiap situasi hidup sehingga menghasilkan buah-buah yang berkenan kepada Allah,” ajaknya, menginspirasi umat untuk membawa semangat Bulan Maria ke dalam kehidupan mereka di masa mendatang.
Ibadat penutupan Bulan Maria di Paroki Santo Fransiskus Asisi Kolhua berlangsung dalam suasana yang sangat khidmat. Ratusan umat yang hadir turut serta dalam Misa yang dipimpin oleh RD Erik Kfun. Ia didampingi oleh RD Yoakim Konis dan RD Toni Kobesi, yang bersama-sama memimpin perayaan sakral tersebut.
Melalui rangkaian doa Rosario yang telah dilaksanakan sebelumnya dan puncak Perayaan Ekaristi ini, umat mengakhiri Bulan Maria dengan ungkapan syukur yang mendalam. Mereka bersyukur atas penyertaan Tuhan yang tak henti-hentinya, yang dirasakan melalui perantaraan doa-doa Bunda Maria. Perayaan ini menjadi pengingat bahwa iman Katolik adalah perjalanan yang terus menerus, di mana setiap momen, termasuk penutupan sebuah devosi, adalah undangan untuk pertumbuhan spiritual yang lebih baik.












