Sebuah peristiwa dari masa lalu kembali mencuat dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, melibatkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Video yang memperlihatkan Trump bertindak sebagai juri dalam sebuah kontes model remaja pada tahun 1991 telah menyebar luas. Kontes yang dimaksud menampilkan para peserta berusia sekitar 14 tahun, memicu berbagai reaksi dan peninjauan ulang atas keterlibatan Trump dalam acara tersebut.
Kontes “Look of the Year” dan Peran Donald Trump
Kontes yang menjadi sorotan ini bernama “Look of the Year” Elite Modeling tahun 1991. Dalam rekaman video yang beredar, Donald Trump terlihat duduk bersama para juri lainnya di meja penilaian. Ia tampak aktif mencatat, mengajukan pertanyaan kepada para model remaja, bahkan memberikan instruksi mengenai cara berpose di hadapan para juri. Kehadirannya dan perannya dalam kontes ini kini kembali diangkat ke permukaan, memicu diskusi tentang etika dan praktik dalam industri modeling pada masa itu.
Dugaan Eksploitasi dalam Industri Modeling
Penelusuran lebih lanjut oleh surat kabar The Guardian mengungkap sisi gelap dari kontes tersebut. Ditemukan bahwa ajang “Look of the Year” diduga hanyalah sebuah kedok bagi para individu kaya raya untuk menjalin hubungan dengan para gadis remaja yang berpartisipasi. Laporan ini menambah daftar panjang pengawasan ketat terhadap Elite Modeling Management, sebuah agensi yang telah menyelenggarakan kompetisi model Elite Model Look sejak tahun 1983.
Pada tahun 2020, The Guardian juga pernah melaporkan berbagai tuduhan pelecehan seksual yang berkaitan dengan agensi ini. Salah satu tuduhan yang signifikan adalah bahwa pendiri Elite Modeling, John Casablancas, diduga memanfaatkan kompetisi tersebut untuk mengeksploitasi model-model remaja. Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa Donald Trump sendiri belum pernah didakwa dalam kasus-kasus terkait pelecehan atau eksploitasi, dan tidak ada tuduhan serupa yang secara langsung ditujukan kepadanya dalam konteks ini.
Pengakuan Trump dan Skandal Jeffrey Epstein
Dalam sebuah wawancara yang mengejutkan pada tahun 2005 dengan pembawa acara radio ternama, Howard Stern, Donald Trump pernah mengakui tindakannya memasuki ruang ganti para kontestan sebelum kompetisi dimulai. Ia menjelaskan bahwa tujuannya adalah untuk “memeriksa” para kontestan. Trump bahkan secara terbuka menyatakan, “Dan Anda melihat wanita-wanita yang tampak luar biasa. Saya bisa lolos dari hal-hal seperti itu.” Pengakuan ini kini kembali menjadi sorotan di tengah isu yang beredar.
Di sisi lain, Donald Trump juga pernah mengeluarkan pernyataan keras dan membantah berbagai tuduhan yang berkaitan dengan skandal Jeffrey Epstein. Ia menyebut isu-isu tersebut sebagai “hoaks” dan mengkritik beberapa pendukungnya sendiri yang dianggap “lemah” karena menuntut penyelidikan federal yang lebih mendalam terkait Epstein.
Ketegangan semakin memuncak ketika laporan dari Wall Street Journal menuduh Trump mengirimkan kartu ucapan ulang tahun ke-50 kepada Jeffrey Epstein. Merespons tuduhan ini, Trump bahkan menggugat pemilik The Journal, taipan media konservatif Rupert Murdoch, atas pencemaran nama baik, dengan tegas mengklaim bahwa surat tersebut adalah palsu.
Meskipun Trump telah membantah keras, banyak media berita kini kembali mengungkit kembali hubungan yang pernah diketahui publik antara Trump dan Epstein. Jeffrey Epstein sendiri didakwa atas kasus perdagangan seks anak di bawah umur dan meninggal dunia karena bunuh diri saat Donald Trump menjalani masa jabatan pertamanya sebagai presiden. Peristiwa ini kembali menghidupkan diskusi tentang koneksi antara kedua tokoh tersebut dan implikasinya.



















