Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak tawaran damai tujuh hari yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Penolakan itu ia sampaikan kepada wartawan di Gedung Putih, Washington D.C., pada Sabtu (26/9/2026), tepat sebelum berangkat ke Tennessee untuk menghadiri agenda kampanye. Usulan Teheran sebelumnya mengaitkan pembukaan jalur pelayaran strategis itu dengan dimulainya lagi pembicaraan nuklir dan pencabutan blokade laut AS atas pelabuhan Iran.
Dalam keterangannya, Trump menyebut Iran ingin bernegosiasi karena posisi mereka sedang terdesak dalam konflik di kawasan. Ia juga menilai permintaan semacam itu wajar dibicarakan, meski pada akhirnya tetap menolak. “Saya menolak usulan mereka,” kata Trump kepada awak media, seraya mengatakan bahwa Teheran ingin agar selat tersebut dibuka segera karena mereka kalah sangat jauh.
Rencana yang diajukan Iran itu berasal dari Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi dalam rangkaian Sidang Majelis Umum PBB ke-81 di New York. Menurut penjelasannya, proposal tersebut disampaikan ke Washington lewat perantara Qatar. Skema yang ditawarkan memberi tenggat tujuh hari sejak AS menerima usulan, dimulai dengan tahap awal selama empat hingga lima hari, lalu pembukaan selat pada hari keenam, dan pembicaraan nuklir pada hari ketujuh.
Teheran meminta imbalan yang tidak kecil. Selain penghentian blokade laut terhadap pelabuhan Iran, mereka menuntut pemulihan keringanan sanksi atas ekspor minyak dan pelepasan aset Iran yang dibekukan sekitar 12 miliar dolar AS atau setara Rp214,9 triliun dengan kurs Rp17.909. Iran juga menginginkan gencatan senjata yang mencakup Lebanon dan Yaman. Jalur pelayaran baru yang diusulkan itu nantinya akan beroperasi melintasi sebagian besar perairan Iran.
Sikap Trump terhadap Iran tidak berhenti pada penolakan tersebut. Laporan The Wall Street Journal yang dikutip media menyebut ia secara pribadi meragukan Teheran akan benar-benar membongkar program nuklirnya. Bahkan, menurut laporan itu, Trump sempat memberi tahu para pembantunya bahwa ia memperkirakan serangan pengeboman terhadap Iran bisa kembali terjadi setelah pemilihan paruh waktu di Amerika Serikat pada November mendatang. Pada Jumat (25/9/2026) malam, ia juga mengunggah peta di Truth Social yang memberi nama Selat Hormuz sebagai “Trump Strait”.
Dari pihak Iran, Araghchi menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima tekanan. Ia mengatakan pilihan kini berada di tangan Amerika Serikat dan menolak paksaan maupun intimidasi. Presiden Iran Masoud Pezeshkian, usai bertemu Sekretaris Jenderal PBB António Guterres, juga menyatakan Teheran tidak pernah meninggalkan meja perundingan, tetapi tidak lagi percaya pada AS karena pengalaman sebelumnya. Sementara itu, juru bicara Korps Garda Revolusi Islam, Hossein Mohebi, mengatakan pasukannya tidak akan menghentikan pembalasan sampai tujuh syarat Iran dipenuhi.
Situasi ini terjadi di tengah perang yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Konflik tersebut telah menewaskan ribuan orang, melemahkan kemampuan militer konvensional Iran, dan mengganggu distribusi minyak dunia sehingga biaya hidup global ikut terdorong naik.
Sumber: www.idntimes.com




