Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberi sinyal bahwa keputusan terkait Iran bisa segera diambil, termasuk kemungkinan dimulainya lagi operasi militer. Pernyataan itu ia sampaikan saat meninggalkan Gedung Putih pada Sabtu (3/10/2026) untuk menghadiri kegiatan kampanye di Ohio. Di saat yang sama, Iran disebut tengah menyiapkan tanggapan yang lebih besar apabila serangan militer skala besar dari AS kembali dilakukan.
Trump menegaskan bahwa pemerintahannya akan menentukan langkah berikutnya terhadap Teheran. Ia juga mengulang klaim bahwa Iran sudah berada di titik lemah dalam upaya mengembangkan senjata nuklir. Dalam pernyataannya kepada wartawan, Trump mengatakan, “Kita akan membuat keputusan tentang Iran,” lalu menambahkan bahwa pilihan yang dihadapi adalah “cara yang mudah atau cara yang sulit.”
Isyarat itu muncul setelah Axios melaporkan pada Jumat (2/10/2026) bahwa para pembantu keamanan nasional utama Trump menggelar pertemuan tertutup di Camp David. Pertemuan tersebut disebut membahas sejumlah opsi Amerika Serikat atas Iran, sekaligus konflik Saudi-Houthi di Yaman. Laporan itu memperkuat dugaan bahwa Gedung Putih sedang menimbang langkah lanjutan di kawasan Timur Tengah.
Dari sisi Iran, sumber Reuters menyebut para pejabat di Teheran tidak percaya jalur diplomasi akan menghasilkan terobosan. Meski pembicaraan tetap dijalankan untuk mencegah eskalasi, pimpinan militer Iran dikabarkan menilai setiap serangan baru dari AS harus dibalas lebih keras dibanding sebelumnya. Karena itu, komandan senior Iran disebut sedang meninjau kemungkinan perluasan target, tidak hanya aset yang terkait dengan AS tetapi juga negara-negara pendukung operasi militer Amerika, bahkan lokasi di luar Timur Tengah.
Perencanaan tersebut berkaitan dengan rangkaian konflik selama tujuh bulan yang bermula dari serangan AS-Israel pada 28 Februari 2026. Gencatan senjata pada 8 April memang mengakhiri perang 40 hari itu, tetapi ketegangan masih muncul secara berkala. Di tengah situasi tersebut, laporan lain menyebut Pentagon tengah bersiap mengirim kelompok serang kapal induk ketiga serta tambahan kapal Korps Marinir ke kawasan Timur Tengah. Wall Street Journal pada Kamis (1/10/2026) melaporkan pengerahan itu berpotensi menambah sekitar 9.000 hingga 10.000 personel AS, dengan kapal, jet tempur, Marinir, dan pelaut diperkirakan tiba pada akhir November.
Rencana penguatan militer itu ikut memicu kritik di Washington. Senator AS Chris Van Hollen pada Jumat menuduh Trump sedang menambah kehadiran militer di Timur Tengah sambil menyembunyikan korban jiwa di kalangan tentara. Ia juga menuding pemerintah mendorong “perang pilihan ilegal” di Iran dan mendesak Kongres menghentikan pendanaan. Van Hollen mengatakan Trump tampak bersiap memperbarui perang bulan depan dan meminta parlemen tidak membiayainya.
Di tengah isu Iran, Trump tetap berkampanye di Ohio untuk mendukung kandidat Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu 3 November 2026. Dalam rapat umum di Vandalia, ia mengklaim akan ada “kejutan besar” dan menyebut lawan-lawan Demokratnya tidak memahami situasi. Trump juga mempromosikan kebijakan pemerintahannya terkait pusat data, terutama yang dibangun untuk kecerdasan buatan, sembari menegaskan proyek tersebut harus memberi manfaat bagi warga lokal.
Sumber: www.tribunnews.com




