Otoritas Turki menahan sebuah pesawat milik Caspian Airlines di Istanbul pada Selasa, 29 September 2026, setelah muncul sengketa pembayaran yang disebut mencapai 3 juta euro atau sekitar Rp60 miliar. Pesawat Boeing 737 itu sebelumnya sudah menyelesaikan proses naik penumpang dan tengah bersiap terbang dari Istanbul menuju Teheran ketika perintah penyitaan dijalankan. Akibatnya, penumpang diminta turun dari pesawat dan penerbangan tertunda.
Menurut laporan kantor berita Anadolu, langkah tersebut dilakukan berdasarkan keputusan pengadilan. Kasus ini disebut berkaitan dengan tagihan layanan bandara di Istanbul yang belum diselesaikan oleh maskapai Iran itu. Dalam penjelasan yang disiarkan televisi pemerintah Iran, Caspian Airlines menyebut penerbangan mereka mengalami “pembatasan operasional sementara” pada salah satu pesawat Boeing karena persoalan administratif di Turki.
Pesawat yang ditahan itu kemudian kembali ke Iran pada hari yang sama. Belum ada keterangan rinci dari pihak Turki mengenai langkah lanjutan setelah penyitaan tersebut. Di sisi lain, laporan yang beredar juga tidak mengaitkan kejadian ini dengan sanksi baru Amerika Serikat terhadap maskapai-maskapai Iran, meski tekanan internasional terhadap sektor penerbangan Iran memang sedang meningkat.
Turki sendiri sejauh ini belum mengikuti sanksi baru yang diumumkan Washington pada awal September 2026. Aturan itu memperingatkan bahwa pihak mana pun yang berbisnis dengan maskapai Iran bisa terputus dari sistem keuangan global yang didominasi dolar AS. Meski begitu, sejumlah penerbangan antara kedua negara masih tetap berjalan, termasuk layanan reguler yang dioperasikan Iran Air.
Namun, situasi berbeda dialami Mahan Air. Perusahaan yang juga bergerak di angkutan barang itu mengatakan pekan lalu bahwa mereka menangguhkan seluruh penerbangan ke Turki atas permintaan Ankara. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hubungan penerbangan Iran-Turki tengah berada dalam masa sensitif, baik karena urusan administratif maupun tekanan kebijakan luar negeri.
Di luar kasus Caspian Airlines, pemerintah AS pada hari Selasa juga mengumumkan sanksi baru terhadap 10 individu dan perusahaan yang disebut memiliki kaitan dengan militer Iran. Departemen Keuangan AS menuduh para perwakilan serta perusahaan teknologi yang berbasis di China, Pakistan, Turki, dan Arab Saudi terlibat dalam pembelian senjata dan komponen senjata untuk Iran. Tiga entitas yang masuk daftar itu berada di Iran.
Departemen Keuangan AS mengatakan langkah itu dimaksudkan untuk menekan kemampuan Iran membangun kembali program persenjataannya dan memperbesar biaya bagi pihak yang membantu pengadaan militer Teheran. Sanksi tersebut merupakan bagian dari Operasi Economic Outcast, kampanye yang diluncurkan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Agustus untuk membatasi akses Iran ke pasar global. Di tengah tekanan itu, mata uang Iran dilaporkan jatuh ke titik terendah sepanjang masa pada hari Selasa.
Sumber: www.tribunnews.com




