Jakarta menjadi saksi bisu dimulainya era baru mobilitas udara pada hari ini, dengan uji coba perdana mobil terbang yang turut merambah langit Ibu Kota Nusantara (IKN). Perhelatan ini bukan sekadar demonstrasi teknologi mutakhir, melainkan sebuah lompatan strategis Indonesia untuk mengukuhkan posisinya dalam pengembangan transportasi masa depan. Uji coba ini menandai ambisi besar untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen teknologi transportasi udara yang andal.
Inovasi Udara untuk Indonesia Maju
Pengembangan Urban Air Mobility (UAM) atau yang populer disebut taksi terbang, kini menjadi fokus utama di IKN. Namun, visi yang diusung jauh melampaui sekadar memenuhi kebutuhan transportasi di masa depan. Kepala Riset dan Inovasi CLGI Asia-Pasifik, Mohammed Ali Berawi, menegaskan bahwa pengembangan teknologi di IKN dirancang secara fundamental untuk mentransformasi Indonesia dari sekadar pasar menjadi pusat produksi teknologi transportasi udara. Pendekatan ini sejalan dengan cita-cita besar Indonesia untuk menjadi negara maju pada tahun 2045.
Ali, yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN periode 2022-2025, menekankan pentingnya Indonesia menjadi ‘prosumer’, yaitu produsen sekaligus konsumen teknologi. “Kita harus menjadi prosumer, produser sekaligus customer. Tidak bisa begini-begini terus kalau mau Indonesia maju di 2045,” ujarnya dalam sebuah diskusi yang digelar di Jakarta Selatan.
Alih Teknologi, Bukan Sekadar Adopsi
Pendekatan yang diadopsi dalam pengembangan UAM ini adalah melalui serangkaian proof of concept (POC) yang melibatkan kolaborasi erat dengan perusahaan teknologi global. Tujuannya jelas: memastikan terjadinya alih teknologi yang substantif, bukan sekadar adopsi. Indonesia harus mampu menguasai kemampuan produksi dan pengembangan teknologi transportasi udara secara mandiri.
Mohammed Ali Berawi secara tegas menyatakan bahwa model bisnis yang hanya menjadikan Indonesia sebagai agen atau broker teknologi asing tidak akan diberikan ruang. “Saya sampaikan kalau seandainya teman-teman pengusaha Indonesia, datang ke IKN cuma mau jadi agen mau jadi broker, salah tempat. Tapi kalau seandainya mau membangun teknologinya dan produksinya, saya orang pertama yang akan memasukkannya,” tegasnya, menunjukkan komitmen kuat terhadap kemandirian teknologi nasional.
Uji Coba Sebagai Jembatan Pengetahuan
Uji coba taksi terbang yang dilakukan di IKN menjadi sarana krusial untuk mewujudkan transfer teknologi. Skema POC yang dijalankan memungkinkan pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh penyedia teknologi, membebaskan anggaran negara. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Hyundai, misalnya, telah mengirimkan unit kendaraan udara mereka langsung dari Korea Selatan untuk keperluan demonstrasi di IKN.
Pemerintah, dalam hal ini, berperan sebagai fasilitator utama, menyediakan dukungan infrastruktur dan lokasi pelaksanaan uji coba. “POC yang dilakukan di IKN semuanya tidak menggunakan biaya negara. Itu semuanya ditanggung oleh technology provider, termasuk UAM,” ungkap Ali.
Pendekatan ini memungkinkan Indonesia untuk secara langsung mengamati dan mempelajari kapabilitas teknologi yang ada, sekaligus mendalami aspek-aspek teknis pengembangannya. Transfer pengetahuan tidak hanya berhenti pada dokumen atau kajian akademik, melainkan harus melalui interaksi langsung dan mendalam antara para insinyur global dan para insinyur nasional. Oleh karena itu, berbagai demonstrasi teknologi di IKN dirancang agar insinyur Indonesia dapat terlibat aktif dalam proses spesifikasi hingga pengembangan sistem.
Potensi dan Tantangan di Depan Mata
Keberhasilan uji coba mobil terbang ini membuka berbagai spekulasi dan optimisme mengenai masa depan transportasi di Indonesia. Kemampuan untuk melakukan perjalanan udara vertikal di perkotaan berpotensi mengurangi kemacetan yang selama ini menjadi momok di kota-kota besar seperti Jakarta. Selain itu, IKN sebagai pusat pengembangan teknologi ini diharapkan dapat menjadi katalisator inovasi di berbagai sektor.
Namun, tantangan besar masih membayangi. Regulasi yang komprehensif dan memadai untuk operasional mobil terbang perlu segera disiapkan. Aspek keselamatan, kesiapan infrastruktur pendukung seperti vertiport, hingga pelatihan sumber daya manusia yang terampil akan menjadi kunci utama dalam mewujudkan visi mobilitas udara perkotaan yang aman dan efisien. Uji coba yang dilakukan hari ini adalah langkah awal yang signifikan, namun perjalanan panjang masih terbentang untuk menjadikan mobil terbang sebagai solusi transportasi yang terintegrasi dan dapat diakses oleh masyarakat luas. Ini adalah investasi jangka panjang untuk mewujudkan Indonesia yang lebih terhubung dan inovatif.
Penulis: Erwin






