Ukraina memperluas penggunaan sistem tanpa awak dalam perang melawan Rusia dengan mengirim robot darat bersenjata dan bermuatan bahan peledak ke belakang garis lawan. Langkah itu menjadi bagian dari Operasi Vivaldi di Donetsk utara, yang dijalankan Korps Angkatan Darat Ketiga Ukraina untuk menahan tekanan Rusia menuju Sloviansk dan Kramatorsk. Presiden Volodymyr Zelenskyy membahas perkembangan operasi ini saat mengunjungi pos komando korps tersebut pada 30 September 2026 dan menerima laporan langsung dari komandannya, Andrii Biletskyi.
Menurut pemerintah Ukraina, operasi ofensif itu telah mengembalikan 176 kilometer persegi wilayah ke bawah kendali Kyiv. Jumlah tersebut lebih besar dibanding laporan tahap sebelumnya yang menyebut 125 kilometer persegi. Dalam pembaruan pada 20 September, Kyiv mengatakan 125 kilometer persegi telah dipulihkan, termasuk sekitar 50 kilometer persegi yang direbut kembali dari pendudukan Rusia. Saat itu, Ukraina juga mengumumkan pembebasan Shandryholove dan Derylove serta pemulihan kontrol penuh atas Drobysheve.
Sejumlah lokasi lain kemudian dilaporkan kembali dikuasai Ukraina, di antaranya Novoselivka, Oleksandrivka, Yarova, Drobysheve, Karpivka, dan Novomykhailivka. Pemerintah juga menyebut ada beberapa permukiman tambahan yang dibebaskan. DeepState, kelompok pemantau medan perang Ukraina, secara terpisah turut melaporkan kemajuan pasukan Kyiv di kawasan tersebut. Reuters mencatat, perkembangan ini penting karena Rusia terus berupaya menekan pertahanan Ukraina di bagian utara Donetsk, wilayah yang menjadi jalur menuju Sloviansk dan Kramatorsk.
Yang membuat Operasi Vivaldi menonjol bukan hanya hasil teritorialnya, tetapi juga cara Ukraina memadukan drone udara, robot darat, peperangan elektronik, artileri, dan infanteri. Dalam beberapa misi, robot tidak dilepas dari garis depan Ukraina, melainkan diangkut lebih dulu dengan drone bomber berat. Korps Angkatan Darat Ketiga menjelaskan bahwa drone besar itu membawa unmanned ground vehicles atau UGV ke wilayah belakang Rusia, lalu menurunkannya agar robot melanjutkan serangan dari darat.
Pada fase kedua operasi, UGV disebut berhasil diterjunkan lebih dari 10 kilometer di belakang garis Rusia. Biletskyi menyebut metode itu sebagai yang pertama di dunia, meski klaim tersebut belum bisa diverifikasi secara independen. UGV yang digunakan memiliki peran beragam: sebagian membawa bahan peledak untuk serangan kamikaze, sementara platform lain dipakai untuk membawa senjata, logistik, atau menjalankan tugas yang sebelumnya dikerjakan tentara.
Tujuan penggunaan robot ini bukan untuk menggantikan prajurit sepenuhnya. Ukraina justru ingin menempatkan mesin pada bagian perang yang paling berisiko sebelum infanteri bergerak maju. Korps Ketiga merangkum pendekatan itu dengan menegaskan bahwa kemenangan tetap ditentukan infanteri, tetapi robot dikirim lebih dulu agar lebih sedikit nyawa yang dipertaruhkan. Di sisi lain, pengiriman robot jauh ke belakang garis musuh bukan perkara mudah karena drone pengangkut berukuran besar bisa menjadi sasaran apabila terdeteksi Rusia.
Untuk menjaga operasi tetap tersembunyi, Ukraina mengandalkan peperangan elektronik guna mengacaukan drone pengintai Rusia dan menempatkan sistem pertahanan udara untuk membatasi pengawasan lawan. Cara ini memungkinkan drone pengangkut mendekati target sebelum melepas robot darat, yang kemudian bergerak menyerang dari permukaan. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang drone kini bergeser dari penggunaan satu alat tempur menjadi jaringan yang menghubungkan sensor, electronic warfare, drone udara, robot darat, artileri, dan manusia. Meski tiga fase Vivaldi sudah berjalan, operasi itu belum selesai; pada 30 September, Zelenskyy dan para komandan Korps Ketiga justru membahas persiapan fase keempat. Ia juga bertemu Resimen Sistem Nirawak Terpisah ke-21 Kraken untuk membahas pengembangan UGV dan peningkatan unsur robotik dalam struktur tempur Ukraina.
Sumber: news.republika.co.id




