Lonjakan Laporan Satwa Liar Masuk Permukiman di Surabaya: Ular Menjadi Ancaman Utama
Surabaya – Awal tahun 2026 menjadi periode yang cukup mengkhawatirkan bagi warga Surabaya. Sejumlah laporan mengenai kemunculan satwa liar, terutama ular, di kawasan permukiman dilaporkan meningkat tajam. Tim Kerja Operasional Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Surabaya mencatat lonjakan signifikan dalam laporan masuknya hewan ke rumah warga.
Menurut Ketua Tim Kerja Operasional Kedaruratan BPBD Kota Surabaya, Arif Sunandar, sepanjang bulan Januari hingga Februari 2026, pihaknya menerima total 81 laporan terkait satwa liar yang memasuki area perumahan. Laporan tersebut mencakup berbagai jenis hewan, mulai dari ular, buaya, iguana, biawak, monyet, hingga hewan domestik seperti anjing dan kucing.
“Ada kurang lebih 81 kejadian laporan satwa liar masuk ke rumah warga, satwa liar yang dilaporkan ular, buaya, iguana, biawak, monyet, anjing, kucing,” ujar Arif Sunandar di Surabaya pada Minggu (15/2).
Ular Mendominasi Laporan, Sanca Menjadi Spesies yang Paling Sering Ditemui
Dari keseluruhan laporan yang diterima, sebanyak 43 kasus secara spesifik berkaitan dengan kemunculan ular. Arif Sunandar menjelaskan bahwa peningkatan laporan reptil ini sangat dipengaruhi oleh kondisi musim hujan yang sedang berlangsung. Curah hujan yang tinggi dan intensitasnya yang tidak menentu diketahui mengganggu habitat alami ular, mendorong mereka untuk mencari tempat berlindung di luar habitat aslinya, termasuk memasuki area permukiman warga.
Jenis ular yang paling sering dilaporkan masuk ke permukiman warga adalah ular sanca. Hewan ini memiliki kebiasaan unik, yaitu sering ditemukan bersembunyi di berbagai tempat di dalam rumah. Lokasi yang umum meliputi plafon rumah, kandang ayam, lemari pakaian, saluran air atau selokan, bahkan hingga kamar mandi warga.
“Ular sanca itu memang sekali bertelur bisa ratusan. Jadi biasanya kalau petugas menemukan atau ada laporan sekali di daerah itu, beberapa saat akan ada laporan lagi di daerah itu,” imbuh Arif Sunandar, menjelaskan fenomena ini.
Faktor Pemicu Kemunculan Ular di Musim Hujan
Arif Sunandar membenarkan bahwa kemunculan ular di pemukiman Surabaya memang cenderung meningkat signifikan selama musim hujan. Salah satu faktor utama adalah perubahan volume air, terutama di sungai dan saluran air. Saat hujan deras mengguyur, volume air ini meningkat drastis, yang secara tidak langsung dapat terbawa oleh arus.
“Kalau cuaca ekstrem gini, hujan deras, air sungai kan naik ya, tinggi, itu yang membuat ularnya juga naik. Makanya kadang kalau ada genangan, kadang ada ular itu karena dia kena arus, kebawa arus,” terang Arif.
Selain terbawa arus, dalam beberapa kasus, ular juga nekat memasuki celah sempit di dekat rumah warga dengan tujuan untuk berburu mangsa. Mangsa utama ular di lingkungan perkotaan seringkali adalah tikus. Ketika tikus berlari mencari perlindungan ke dalam rumah atau saluran air, ular pun akan mengikutinya. Namun, setelah berhasil masuk ke dalam celah yang sempit, ular tersebut terkadang kesulitan untuk keluar kembali, sehingga akhirnya ditemukan oleh penghuni rumah.
“Tikusnya lari ke got, ke perumahan, makanya ada yang di kamar mandi, ada di dalam rumah kan ngejar makanannya, makanya kita kadang menemukan di plafon, macam-macam,” ungkapnya.
Evakuasi Ular Piton di Kenjeran dan Imbauan Kewaspadaan
Kejadian terbaru yang berhasil ditangani oleh petugas adalah evakuasi seekor ular piton dengan panjang kurang lebih 4 meter. Ular tersebut ditemukan pada Minggu siang (15/2) di Jalan Kedinding Tengah Jaya 1 No 24, Kecamatan Kenjeran, Kota Surabaya. Ular piton tersebut ditemukan berada di dalam kandang ayam dan diketahui telah memangsa salah satu ayam di kandang tersebut.
Meskipun hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa yang disebabkan oleh kemunculan ular di Surabaya, Arif Sunandar tetap menekankan pentingnya kewaspadaan dan tindakan antisipasi bagi seluruh masyarakat. Ia mengimbau warga untuk secara rutin melakukan pembersihan di lingkungan sekitar rumah, serta menghindari membiarkan area menjadi terlalu rimbun.
Lingkungan yang bersih dan tertata rapi akan mengurangi potensi tempat persembunyian bagi tikus, yang merupakan sumber makanan utama bagi ular. Dengan mengurangi populasi tikus, diharapkan ancaman kemunculan ular di permukiman juga dapat diminimalisir.
“Seperti memberihkan rumah secara rutin, jangan sampai ada rimbun-rimbunan begitu, karena tikus sukanya di situ (tikus adalah mangsa ular), kebersihan lingkungan itu penting,” pungkas Arif Sunandar.
Warga diharapkan untuk selalu berhati-hati, terutama saat melakukan aktivitas di area yang berpotensi menjadi tempat persembunyian ular, seperti di sekitar saluran air, gudang, atau area yang jarang terjamah. Jika menemukan ular, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan segera menghubungi pihak berwenang atau tim penanggulangan bencana untuk penanganan lebih lanjut.


















