Sebagai negara kota terkecil di dunia, Vatikan memiliki pengaruh yang luar biasa dalam dunia internasional. Meskipun luasnya hanya 0,44 kilometer persegi, Vatikan telah menjadi pusat spiritual dan moral bagi lebih dari 1,4 miliar umat Katolik. Namun, peran Vatikan dalam diplomasi global semakin menonjol, terutama dalam konteks hubungan dengan Indonesia. Dalam 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Vatikan, keduanya telah membuktikan bahwa kekuatan tidak selalu ditentukan oleh ukuran wilayah, tetapi oleh nilai-nilai yang diperjuangkan.
Sejarah Hubungan Indonesia dan Vatikan
Hubungan antara Indonesia dan Vatikan genap 75 tahun pada 13 Maret 2024. Angka ini menunjukkan betapa harmonisnya hubungan yang telah mulai menjalin kerja sama sejak pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan RI oleh Takhta Suci pada 1947. Pada saat itu, Vatikan menjadi salah satu negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia. Keputusan ini membuka pintu bagi negara-negara lain di Eropa dan Amerika untuk mengikuti jejak Vatikan mengakui kedaulatan Indonesia.
Pada 13 Maret 1950 silam, Takhta Suci memulai hubungan diplomatik dengan Indonesia dengan status Internuciatur Apostolik. Status itu kemudian naik menjadi apostolic nunciature (Nunsiatur Apostolik) pada tanggal 6 Desember 1966. Pengakuan kemerdekaan dan kedaulatan RI oleh Takhta Suci kala itu tidak terlepas dari peran diplomasi Mgr Albertus Soegijapranata SJ, Uskup Keuskupan Agung Semarang, yang merupakan uskup pribumi pertama Indonesia.
Karena diplomasinya itu, fondasi hubungan RI-Vatikan semakin menguat hingga Paus Pius XII saat itu melantik Mgr Georges-Marie Joseph Hubert Ghislain de Jonghe d’Ardoye MEP sebagai utusan apostolik pertama, yang kemudian jadi Duta Besar pertama Takhta Suci di Indonesia. Sementara Sukarjo Wiryopranoto menjadi Duta Besar pertama RI untuk Takhta Suci.
Vatikan sebagai Pusat Diplomasi Spiritual
Menurut Duta Besar LBBP RI untuk Takhta Suci, Michael Trias Kuncahyono, Vatikan melihat bahwa Indonesia memiliki pengalaman unik dalam mengembangkan persaudaraan dalam kemajemukan, yang bisa dijadikan contoh bagi bangsa lain. Vatikan memandang nilai-nilai RI yang terkandung dalam Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan ketuhanan “Yang Satu” menunjukkan bahwa Indonesia adalah negara yang menarik.
“Takhta Suci, tidak hanya mengapresiasi hal itu, tetapi juga mengaguminya. Apalagi sekarang ini, di mana banyak negara terpecah-pecah karena perbedaan etnis dan agama,” kata Trias, dalam keterangannya, Kamis (13/3).
Para Paus, sejak Paus Pius XII hingga Paus Fransiskus, disebut amat mengagumi Pancasila. Dalam pidatonya di Istana Negara, Paus antara lain mengatakan bahwa semboyan nasional Bhinneka Tunggal Ika di Indonesia “menggambarkan dengan baik realitas yang beraneka ragam ini, yaitu masyarakat yang beragam yang bersatu dengan kokoh dalam satu negara.”
Indonesia, di sisi lain, memandang Takhta Suci sebagai negara berdaulat tanpa kekuatan militer yang memiliki otoritas spiritual yang jangkauannya melampaui batas negara.
Kerja Sama dalam Berbagai Bidang
Vatikan bergantung pada interaksi yang rumit antara persuasi moral, doktrin teologis, dan perjanjian hukum untuk membentuk keterlibatan internasionalnya, tidak seperti kekuatan tradisional yang menggunakan diplomasi melalui pengaruh ekonomi atau kekuatan militer. Bagi Takhta Suci, diplomasi bukan instrumen negara betapapun kecilnya, melainkan instrumen institusi keagamaan yaitu Gereja Katolik.
Tujuan utama Vatikan adalah dalam tatanan spiritual, moral dan kemanusiaan, termasuk penghormatan terhadap hak asasi manusia kolektif dan individu. Di antara hak-hak tersebut termasuk hak kebebasan beragama tidak hanya bagi umat Katolik, tetapi juga bagi pemeluk agama lain.
“Maka hubungan dengan Takhta Suci menjadi sangat khas: tidak ada kerja sama ekonomi, militer, dan juga politik. Tetapi penekanan lebih pada kerja sama dalam bidang kebudayaan, sosial, pendidikan, agama, dan lingkungan hidup,” ucap Trias.
Kerja sama itu salah satunya ditunjukkan melalui 1729 biarawan/biarawati Indonesia yang belajar, berkarya, dan memimpin biara di berbagai kota di Italia.
Kesamaan Pandangan dalam Isu Internasional
Menurut Trias, Indonesia dan Vatikan memiliki banyak kesamaan pandangan, sikap, dan posisi terhadap isu-isu internasional, seperti perdamaian. Misalnya dalam isu Palestina, Yaman, Myanmar, Nigeria, Ukraina, dan berbagai wilayah konflik lainnya. Selain itu, kedua negara juga punya kesamaan pandangan dalam isu hak asasi manusia, hak-hak perempuan dan anak-anak, lingkungan hidup, keamanan pangan, serta keamanan air.
Dalam konflik Israel-Palestina, misalnya, Indonesia dan Vatikan sama-sama mendukung tegas solusi dua negara. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Takhta Suci menurut Trias untuk mendukung upaya bersama menegakkan kebebasan beragama, khususnya di Indonesia, yang harus diakui masih ada beberapa catatan. Selain itu, juga untuk mendorong terciptanya kedamaian dalam kehidupan bermasyarakat yang majemuk. Hal ini, menurut Trias, harus ditingkatkan di tengah tantangan dunia yang begitu kompleks.
Vatikan sebagai Entitas Unik dalam Dunia Diplomasi
Vatikan bukan hanya sebuah negara kecil, tetapi juga sebuah entitas unik dalam dunia diplomasi. Dengan struktur pemerintahan yang sepenuhnya di bawah otoritas Paus, Vatikan menggunakan pendekatan diplomatik yang berbeda dari negara-negara lain. Pendekatan ini didasarkan pada persuasi moral, doktrin teologis, dan perjanjian hukum.
Selain itu, Vatikan juga memiliki peran penting dalam isu-isu global seperti perdamaian, hak asasi manusia, dan lingkungan hidup. Suara Paus sering kali didengar oleh negara-negara besar, meskipun Vatikan tidak memiliki kekuatan militer atau ekonomi yang signifikan.
Dengan semua faktor tersebut, Vatikan telah menjadi titik diplomasi baru di dunia. Dalam situasi global yang semakin kompleks, Vatikan menunjukkan bahwa kekuatan tidak selalu datang dari ukuran, tetapi dari nilai-nilai yang diperjuangkan dan suara yang dipercaya dunia.
Penulis : wafaul

















