00bcadd048bd387f72e4663bd326fe66

Warga tolak Agam Rinjani masuk ke Gunung Rinjani, sindir donasi Juliana: Jangan jadi pencitraan

Diposting pada

Ringkasan Berita:

  • Dulu, pria bernama asli Abdul Haris Agam itu dikenal usai keberhasilannya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari jurang sedalam 600 meter.
  • Kini, Agam Rinjani bersama Panji Petualang berencana mengunjungi Gunung Rinjani untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins.
  • Namun, warga justru menyatakan sikap berbeda.

 

Keinginan Agam Rinjani yang ingin masuk ke Gunung Rinjani bersama konten kreator Panji Petualang menuai penolakan warga.

Dulu, pria bernama asli Abdul Haris Agam itu dikenal usai keberhasilannya mengevakuasi jenazah pendaki asal Brasil, Juliana Marins, dari jurang sedalam 600 meter.

Kini, Agam Rinjani bersama Panji Petualang berencana mengunjungi Gunung Rinjani untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins.

Namun, warga justru menyatakan sikap berbeda.

Forum Wisata Lingkar Rinjani secara tegas menyatakan keberatan.

Ternyata warga mempermasalahkan soal donasi dan julukan pawang Rinjani yang disematkan kepada Agam.

Polemik Donasi dan Julukan Pawang Rinjani

Penolakan ini mencuat setelah Agam berencana kembali ke Gunung Rinjani bersama konten kreator ternama, Panji Petualang.

Kunjungan tersebut sedianya ditujukan untuk mengenang satu tahun proses evakuasi Juliana Marins. Namun, Forum Wisata Lingkar Rinjani secara tegas menyatakan keberatan.

Ketua Forum Wisata Lingkar Rinjani, Royal Sembahulun, mengungkapkan bahwa penolakan tersebut didasari oleh isu pengelolaan dana donasi pasca-evakuasi Juliana yang dianggap belum transparan.

 “Ada banyak janji dan utang yang belum diselesaikan, terutama yang berkaitan dengan donasi Juliana. Jangan sampai kedatangannya ke Rinjani justru menjadi ajang pencitraan di tengah masalah yang belum tuntas,” ujar Royal.

Selain masalah finansial, penyematan gelar Pawang Rinjani kepada Agam juga menjadi pemicu kemarahan tokoh adat.

Menurut Mertawi, tokoh adat Sembalun, gelar tersebut memiliki makna sakral dalam tradisi masyarakat setempat dan tidak bisa diberikan secara sembarangan.

“Menurut tradisi kita, khususnya yang tinggal di lingkar Rinjani, tidak semudah itu untuk menyebut diri sebagai Pawang Rinjani,” tegas Mertawi.

Panji Petualang Memohon Maaf

Polemik yang muncul akhirnya membuat Panji Petualang memberikan penjelasan secara langsung.

Melalui akun Instagram pribadinya, Panji menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat Lombok. Ia mengaku tidak mengetahui adanya persoalan lama yang berkaitan dengan rekan pendakiannya sehingga unggahan tersebut menimbulkan reaksi dari sejumlah pihak.

“Mohon maaf yang seluas-luasnya untuk semua keluargaku di Lombok. Khususnya untuk semua pihak yang tersinggung atau tersakiti karena postingan-ku,” tulis Panji melalui akun @panjipetualang_real.

Panji menjelaskan bahwa dirinya merasa kurang memahami konteks budaya setempat saat menggunakan istilah Pawang Rinjani dalam konten yang dibuatnya. Ia menyebut hal tersebut sebagai kekhilafan dan tidak bermaksud menyinggung pihak mana pun.

Perjalanan Hidup Agam Rinjani

Di luar kontroversi yang sedang terjadi, Agam Rinjani dikenal memiliki kisah perjalanan hidup yang penuh perjuangan.

Agam lahir di Makassar pada 22 Desember 1988. Sejak kecil, ia membantu keluarganya dengan bekerja sebagai pemulung di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang.

Keinginannya untuk terus belajar kemudian membawanya melanjutkan pendidikan di jurusan Antropologi Universitas Hasanuddin (Unhas). Saat berkuliah, ia mulai mendalami dunia pendakian sekaligus kemampuan penyelamatan melalui organisasi Korpala Unhas.

Setelah memilih tinggal di Sembalun, Lombok Timur, Agam menjalani kehidupan sebagai pemandu gunung, porter, serta relawan yang membantu berbagai operasi penyelamatan di kawasan Rinjani.

Selama bertahun-tahun berkegiatan di gunung tersebut, Agam tercatat telah mencapai puncak Rinjani lebih dari 350 kali. Ia juga disebut terlibat dalam sekitar 70 persen proses evakuasi di kawasan tersebut, termasuk misi vertical rescue yang memiliki tingkat risiko tinggi.

Nama Agam semakin dikenal setelah tim relawannya berhasil menangani proses evakuasi jenazah Juliana Marins pada Juni 2025.

Atas dedikasi dan keberaniannya dalam menjalankan misi kemanusiaan, Agam kemudian mendapat apresiasi dari pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

(Surya.co.id/Tribunnews.com/)

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan