Xi Jinping Tegaskan Optimisme China di Tengah Tekanan Ekonomi dan Isu Taiwan

Diposting pada

Presiden China Xi Jinping memanfaatkan resepsi Hari Nasional di Beijing, Rabu (30/9/2026), untuk mengirim sinyal percaya diri tentang arah pembangunan negaranya. Di hadapan sekitar 800 undangan dari dalam dan luar negeri, Xi menyebut sosialisme dengan karakteristik China telah memperlihatkan keunggulan yang besar dan menegaskan bahwa kebangkitan China tidak bisa dihentikan, meski ekonomi sedang menghadapi tekanan dan situasi global masih penuh ketidakpastian.

Acara itu digelar di Balai Agung Rakyat, sehari sebelum China memperingati Hari Nasional pada 1 Oktober. Dalam pidatonya, Xi menempatkan capaian 77 tahun Republik Rakyat China sebagai bukti bahwa model politik dan pembangunan yang dijalankan Partai Komunis China (PKC) mampu bertahan sekaligus menghasilkan kemajuan. Ia menilai modernisasi sistem dan kemampuan tata kelola negara terus membaik, dan menyebut perjalanan kebangkitan bangsa sebagai proses yang tak dapat dibendung.

Xi, yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Komite Sentral PKC dan Ketua Komisi Militer Pusat, meminta masyarakat tetap yakin pada arah pembangunan yang ditempuh pemerintah. Menurut dia, tujuan nasional hanya bisa dicapai lewat ketekunan dan tindakan nyata. Ia menegaskan bahwa keberhasilan akan datang jika seluruh pihak tetap memegang sasaran dan bergerak maju secara konsisten.

Dalam pidato yang menjadi salah satu sorotan utama perayaan tahun ini, Xi kembali menonjolkan klaim keberhasilan ekonomi dan stabilitas sosial sebagai fondasi kekuatan sistem China. Ia mengatakan selama 77 tahun PKC memimpin, negara itu berhasil meraih apa yang disebutnya sebagai dua pencapaian besar: pertumbuhan ekonomi yang cepat dan stabilitas sosial dalam jangka panjang. Xi juga menyebut China sudah menuntaskan sasaran seratus tahun pertama, yakni membangun masyarakat yang relatif sejahtera secara menyeluruh, dan kini bergerak menuju tujuan berikutnya sebagai negara sosialis modern.

Namun, Xi tidak menutup mata terhadap kondisi ekonomi yang sedang tidak ringan. Ia mengakui perekonomian China tetap bergerak maju di tengah tekanan, sambil menunjukkan daya tahan dan vitalitas yang kuat. Reuters melaporkan, Xi meminta pemerintah memastikan target ekonomi dan sosial sepanjang 2026 tercapai, sembari mempertahankan pendekatan mencari kemajuan tanpa mengabaikan stabilitas. Ia juga mendesak percepatan pembentukan pola pembangunan baru, pendalaman reformasi dan keterbukaan, serta penyeimbangan antara pembangunan dan keamanan.

Pesan ekonomi itu muncul pada awal masa pelaksanaan Rencana Lima Tahun ke-15 China untuk 2026–2030. Xi menekankan perlunya memastikan tahun pertama periode tersebut berjalan baik, karena Beijing tengah menghadapi perubahan besar dalam perdagangan global, persaingan teknologi, dan dinamika geopolitik yang makin rumit. Di saat yang sama, ia juga menyoroti perlindungan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian penting dari agenda pembangunan nasional.

Selain ekonomi, Taiwan kembali menjadi bagian penting dari pidato Xi. Ia menyerukan peningkatan pertukaran dan kerja sama lintas Selat, tetapi sekaligus menegaskan penolakan terhadap gerakan kemerdekaan Taiwan dan campur tangan pihak luar. Beijing memandang Taiwan sebagai wilayahnya dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan untuk penyatuan, sementara pemerintah Taiwan menolak klaim tersebut. Isu ini juga tetap menjadi sumber ketegangan utama antara China dan Amerika Serikat, yang tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Taipei tetapi tetap memasok senjata dan terikat pada Taiwan Relations Act. Xi juga menegaskan kembali kebijakan satu negara, dua sistem untuk Hong Kong dan Makau, dengan harapan kedua wilayah itu terus terhubung lebih erat dengan pembangunan nasional China.

Sumber: news.republika.co.id

Tinggalkan Balasan