Mengapa Karyawan Terbaik Sering Menjadi yang Paling Frustrasi
Psikologi menunjukkan bahwa karyawan terbaik di tempat kerja sering kali mengalami beban dan frustrasi yang lebih besar dibanding rekan-rekannya. Hal ini tidak disebabkan oleh ketidakmampuan mereka, melainkan karena mereka terlalu banyak diberi tanggung jawab tanpa mendapat pengakuan yang layak.
Gallup mencatat bahwa hanya 20 persen karyawan secara global yang benar-benar terlibat dengan pekerjaan mereka, sementara sisanya berjuang dalam diam. Berikut adalah sembilan alasan mengapa karyawan terbaik sering merasa frustrasi, berdasarkan sudut pandang psikologi:
1. Menanggung Tanggung Jawab Melebihi Jabatan Mereka
Sebanyak 77 persen karyawan mengambil tugas di luar deskripsi jabatan mereka, dan karyawan terbaik sering menjadi yang paling sering diminta untuk hal tersebut. Meskipun mereka tidak keberatan dengan tambahan tanggung jawab, mereka jarang mendapat kompensasi atau pengakuan yang sepadan atas kerja ekstra tersebut. Ketika beban terus meningkat tanpa imbalan yang layak, rasa tidak puas mulai menumpuk dan berubah menjadi kekecewaan yang dalam.
2. Menyadari Ketidakefisienan yang Tidak Disadari Orang Lain
Karyawan berprestasi tinggi sering kali menjadi yang pertama menyadari sistem kerja yang usang dan kebijakan manajemen yang tidak relevan. Ketika masalah-masalah ini diabaikan, pekerjaan mereka semakin berat dan frustrasi pun bertambah. Bahkan jika mereka mengangkat isu ini kepada manajemen, tanpa solusi nyata, kualitas kerja mereka akan terdampak secara signifikan.
3. Hanya Sedikit Waktu untuk Beristirahat
Karyawan berprestasi tinggi sering dipenuhi tugas tanpa ruang untuk bersantai atau melepaskan tekanan. Tanpa waktu untuk memulihkan diri, stres menumpuk hingga melampaui batas yang bisa ditanggung. Tanpa istirahat yang cukup, karyawan terbaik tidak akan mampu menghasilkan karya berkualitas.
4. Lebih Sering Diinterupsi Daripada Rekan Kerja Lainnya
Karyawan terbaik sering mengalami kesulitan menyelesaikan pekerjaan bukan karena menunda, melainkan karena terus-menerus ditarik untuk menangani hal lain. Rekan kerja dan manajer cenderung berasumsi bahwa karena mereka kompeten, mereka pasti selalu punya waktu untuk mengambil tugas tambahan siapa pun. Akibatnya, pekerjaan utama mereka sering tertunda dan mereka harus lembur hanya untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya sudah selesai.
5. Terlibat dalam Rapat yang Tidak Efisien
Sekitar 93 persen pekerja tidak puas dengan format rapat di tempat kerja mereka, sementara 45 persen menganggap rapat berlangsung terlalu lama. Karyawan produktif sering kali diikutsertakan dalam rapat-rapat yang menyita waktu kerja produktif mereka. Banyak rapat sebenarnya bisa diselesaikan melalui email, namun tetap dilakukan dan menggerogoti waktu yang seharusnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan nyata.
6. Bertanggung Jawab atas Hasil Kerja Tim Secara Keseluruhan
Karyawan terbaik sering kali dibebani ekspektasi untuk memastikan hasil kerja seluruh tim berjalan baik, meski itu bukan bagian dari jabatan mereka. Ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, merekalah yang paling sering menanggung konsekuensinya meskipun manajemen seharusnya yang bertanggung jawab. Situasi ini menimbulkan kepahitan terhadap atasan yang tidak menjalankan fungsi pengawasan dengan benar.
7. Jarang Mendapatkan Dukungan Karena Dianggap Selalu Bisa Mengatasi Segalanya
Karena hasil kerja mereka selalu dinilai baik, manajer cenderung berasumsi bahwa mereka tidak memerlukan bantuan atau arahan tambahan. Bahkan ketika mereka mendapat tugas tanpa instruksi jelas dan mencoba meminta bantuan, dukungan yang tersedia sangat terbatas atau bahkan tidak ada. Prestasi masa lalu tidak otomatis berarti seseorang mampu menangani semua tantangan baru tanpa panduan.
8. Jarang Mendapat Kredit Karena Pekerjaan Mereka Terlihat Mudah
Karyawan terbaik sering tidak mendapat pengakuan yang layak karena cara mereka menyelesaikan tugas sulit terlihat mudah dan tanpa usaha. Manajer sering berasumsi bahwa tugas tersebut tidak membutuhkan banyak upaya, padahal di baliknya ada kerja keras yang sangat signifikan. Tanpa pengakuan yang sepadan, perasaan tidak dihargai mulai mengakar dan membuat mereka merasa dimanfaatkan.
9. Lebih Jelas Melihat Kesenjangan dalam Kepemimpinan
Keterlibatan mendalam pada pekerjaan membuat karyawan terbaik dengan cepat mengenali tanda-tanda manajemen yang tidak terorganisir dan tidak kompeten. Mereka terpaksa memperhatikan masalah kepemimpinan ini karena dampaknya langsung mempengaruhi beban kerja dan ekspektasi yang diletakkan di pundak mereka. Ketika manajemen lemah dan tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan, dampaknya akhirnya dirasakan oleh seluruh orang di lingkungan kerja tersebut.




