
Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada anak seringkali memicu kekhawatiran mendalam bagi para orang tua. Fenomena ini bukan sekadar penolakan anak terhadap makanan, melainkan bisa menjadi indikator adanya ketidaknyamanan yang lebih kompleks pada diri si kecil. Memahami akar permasalahan GTM menjadi langkah krusial sebelum orang tua memutuskan strategi penanganannya.
Mengurai Akar Penyebab Gerakan Tutup Mulut (GTM) pada Anak
Menurut dr. Ayudya Soemawinata, BMedSc (Hons), IBCLC, seorang dokter sekaligus konsultan laktasi, mengidentifikasi penyebab GTM adalah langkah awal yang paling fundamental. Berbagai faktor dapat berkontribusi pada perilaku GTM, mulai dari aspek sensorik hingga kondisi kesehatan yang terkadang tidak kasat mata.
1. Faktor Sensorik: Sensitivitas terhadap Rasa, Tekstur, dan Aroma
Salah satu pemicu GTM yang paling umum dan relatif mudah dikenali adalah faktor sensorik. Anak mungkin menolak makanan karena merasa tidak nyaman dengan rasa, tekstur, atau bahkan aroma tertentu dari makanan yang disajikan.

Contohnya, anak mungkin belum siap secara oromotor, yang berarti kemampuan mengunyah atau mengolah tekstur makanan tertentu belum matang. Hal ini seringkali terlihat pada anak yang cenderung hanya “mengemut” makanan tanpa benar-benar mengunyah atau menelannya.
2. Kondisi Kesehatan: Sakit yang Menurunkan Nafsu Makan
Kondisi kesehatan anak memegang peranan penting dalam nafsu makannya. Ketika anak sedang sakit, wajar jika nafsu makannya menurun, sama seperti orang dewasa. Namun, ada pula kondisi sakit yang tidak tampak jelas dari luar, seperti Infeksi Saluran Kemih (ISK).
Meskipun tidak terlihat secara fisik, ISK dapat menyebabkan ketidaknyamanan pada perut anak, yang pada akhirnya memicu penolakan terhadap makanan.
3. Tumbuh Gigi: Nyeri yang Menghambat Proses Makan
Proses tumbuh gigi juga dapat menjadi penyebab anak mengalami GTM. Gusi yang membengkak dan terasa nyeri saat tumbuh gigi dapat membuat anak enggan untuk mengunyah makanan.

“Atau, ‘Nggak kok, Dok, anak saya tuh gak sakit apa-apa’, bisa jadi sakitnya nggak kelihatan. Kayak ISK, Infeksi Saluran Kemih, kan nggak kelihatan, tapi perut nggak nyaman karena itu,” jelas dr. Ayudya saat ditemui dalam acara Grand Opening Play At Sora di Jakarta Selatan, Minggu (14/12).
4. Sensitivitas terhadap Rasa: Pentingnya Variasi Sejak Dini
Faktor rasa juga memiliki bobot yang signifikan. Anak bisa saja menjadi sangat sensitif terhadap rasa-rasa tertentu. Oleh karena itu, sangat disarankan bagi ibu menyusui untuk tidak membatasi jenis makanan yang dikonsumsi selama masa menyusui. Dengan mengenalkan berbagai macam rasa melalui ASI, anak akan memiliki “khazanah rasa” yang lebih luas. Hal ini akan mempermudah mereka untuk menerima dan beradaptasi dengan makanan pendamping ASI (MPASI) yang akan diperkenalkan kelak.
Strategi Mengatasi GTM: Memberi Ruang Eksplorasi dan Kesabaran
Setelah memahami berbagai potensi penyebab GTM, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi penanganan yang tepat. Pendekatan yang berfokus pada pemberdayaan anak dan kesabaran orang tua seringkali membuahkan hasil yang positif.

Dalam proses makan, sangat penting bagi orang tua untuk memberikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi. Salah satu metode yang sangat disarankan adalah dengan menyiapkan dua piring atau dua mangkuk makanan. Satu piring diperuntukkan bagi orang tua untuk menyuapi anak, sementara piring lainnya disediakan agar anak dapat bereksplorasi sendiri dengan makanannya.
Biarkan anak bebas memegang, mencium, merasakan, bahkan menumpahkan makanan. Meskipun aktivitas ini mungkin terlihat berantakan dan kurang rapi, proses eksplorasi ini sangat krusial. Melalui sentuhan dan interaksi langsung, anak akan mulai mengenal makanan sebagai sesuatu yang bukan asing baginya.
“Dia boleh rasain, dia boleh jatuhin, dia boleh tumpahkan. Banyak banget penyebabnya harus dicari di balik itu kenapa,” tegas dr. Ayudya.
Pendekatan ini tidak hanya membantu anak mengatasi keengganan makan, tetapi juga membangun hubungan yang lebih positif antara anak dan makanan. Dengan kesabaran dan pemahaman, orang tua dapat membantu anak melewati fase GTM dan kembali menikmati waktu makan dengan gembira.




