Satpam Sragen Mengubah Peran: Dari Penjaga Jadi Pahlawan Banjir Sumatera

Diposting pada

Setiawan, Satpam Berhati Emas: Mengabdikan Diri di Tengah Deru Banjir Sumatra

Kelelahan masih terpancar jelas dari wajah Setiawan (43) saat ditemui beberapa waktu lalu. Meski telah kembali ke tanah kelahirannya di Sragen, Jawa Tengah, jejak panjang perjalanan dan beratnya tugas kemanusiaan di Sumatra belum sepenuhnya sirna dari tubuhnya. Baru saja tiba di Sragen pada Sabtu sore, 27 Desember 2025, setelah hampir sebulan penuh mendedikasikan diri sebagai relawan banjir, Setiawan tak menunggu lama. Tanpa jeda istirahat yang berarti, ia langsung kembali menjalani rutinitasnya sebagai satuan pengamanan (Satpam) di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 78 Sragen.

Perjalanan yang ditempuh Setiawan bukanlah sekadar perpindahan geografis, melainkan sebuah langkah penuh tekad untuk menolong sesama. Ia berangkat pada 1 Desember 2025 pukul 03.00 WIB dan baru kembali dari Sumatra pada 26 Desember, tiba di Jakarta pada hari yang sama, sebelum melanjutkan perjalanan hingga tiba di Sragen pada Sabtu sore. Keputusan besar ini diambil setelah ia mendapatkan izin dari Kepala SRT 78 Sragen. Dari Sragen, ia menuju Semarang untuk bergabung dengan tim relawan lain asal Jawa Tengah, mempersiapkan diri menghadapi medan berat dan situasi darurat di lokasi bencana.

Dedikasi dari Solo Raya untuk Sumatra

Setiawan, seorang ayah satu anak, merupakan satu dari empat relawan asal Solo Raya yang tergabung dalam tim Basarnas Jawa Tengah. Pada hari keberangkatan, para relawan dibagi menjadi tiga tim, masing-masing membawa logistik penting untuk menunjang operasi kemanusiaan di daerah yang terdampak banjir parah di Sumatra.

Bagi Setiawan, dunia penyelamatan dan tanggap bencana bukanlah hal yang asing. Sejak tahun 2005, ia telah aktif sebagai relawan SAR Himalawu. Pengalaman panjang ini menjadikannya sosok yang terbiasa menghadapi risiko dan tantangan demi menyelamatkan nyawa orang lain. Ia telah malang melintang dalam misi kemanusiaan di berbagai daerah, termasuk pengalaman berharga saat terjun membantu korban bencana di Padang dan erupsi Gunung Merapi.

Panggilan Jiwa Menggantikan Rekan yang Lelah

Keputusan Setiawan untuk berangkat ke Sumatra bukanlah tindakan impulsif. Dorongan utamanya berasal dari kepekaan nurani dan rasa tanggung jawab yang mendalam sebagai seorang relawan. Ia melihat bahwa sebelum bencana banjir di Sumatra terjadi, para relawan dari Jawa Tengah telah terkuras tenaganya akibat penanganan bencana lain yang beruntun, seperti di Cilacap dan Banjarnegara.

“Kalau saya pribadi, melihatnya sebelum bencana Sumatra ini kan ada bencana di Cilacap, yang mana Cilacap belum selesai, ada bencana di Banjarnegara, dari relawan Jateng semua fokus di situ semua,” jelasnya. Ia menyadari bahwa rekan-rekannya sesama relawan di Jawa Tengah membutuhkan waktu untuk pulih, baik secara fisik maupun emosional. “Belum istirahat, dua sampai tiga hari kemudian banjir Sumatra terjadi, saya berpikir teman-teman masih butuh rehat, dari Jawa Tengah kemungkinan sedikit yang berangkat ke sana, akhirnya ini menjadi panggilan jiwa, ya sudah waktunya saya menggantikan relawan yang sedang istirahat,” tambahnya, mengungkapkan motivasi di balik pengabdiannya.

Istri yang Memahami Jalan Hidup Sang Suami

Menariknya, Setiawan mengaku baru sempat berpamitan dengan istrinya setelah ia tiba di lokasi bencana. Namun, hal ini bukanlah sumber masalah dalam rumah tangganya. Sang istri telah lama memahami dan menerima jalan hidup yang dipilih oleh suaminya. “Kalau istri sudah biasa, karena dulu pernah berangkat ke Padang, juga ke Merapi, jadi istri sudah paham,” pungkasnya, menunjukkan dukungan penuh dari keluarga.

Kisah Setiawan adalah potret nyata tentang pengabdian tanpa pamrih yang seringkali luput dari sorotan media. Tanpa mencari pujian, tanpa gelar kehormatan, ia rela menempuh ribuan kilometer, meninggalkan keluarga dan kenyamanan rumah demi membantu sesama yang tengah dilanda musibah. Di saat banyak orang merayakan pergantian tahun, Setiawan justru kembali ke pos jaganya di sekolah, melanjutkan perannya sebagai penjaga. Bukan hanya penjaga keamanan fisik, tetapi juga penjaga nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan