– Kepercayaan adalah dasar paling rapuh sekaligus paling berharga dalam hubungan antar manusia. Sekali cacat atau rusak maka membangunnya kembali bukanlah hal yang mudah.
Perkara inilah yang ditegaskan oleh pakar kesehatan jiwa, dr. Rasti, saat membahas dampak pengkhianatan terhadap hubungan pribadi maupun hubungan dalam pekerjaan.
Menurut dr. Rasti, kepercayaan bukan hanya perasaan saja, melainkan hasil dari proses panjang yang dibangun lewat ketetapan sikap dan integritas diri.
“Ketika seseorang diberi kepercayaan lalu berkhianat, maka secara psikologis kepercayaan itu bisa hilang sepenuhnya. Upaya pemulihan setelahnya akan jauh lebih berat dan memerlukan waktu sangat panjang,” kata dia.
Pengkhianatan, dalam konteks psikologi, meninggalkan luka emosional yang sering kali tak terlihat namun membekas lama.
Rasa aman berubah menjadi kewaspadaan, dan keyakinan bergeser menjadi kecurigaan.
Kondisi ini, menurut dr. Rasti, merupakan cara perlindungan diri alami manusia agar tidak kembali terluka.
“Sekali dikhianati, otak akan merekam pengalaman tersebut sebagai ancaman. Akibatnya, korban akan cenderung menutup diri, bahkan kepada orang yang sama,” ujarnya.
Tak jarang, dampak ini menjalar ke hubungan lain. Seseorang yang pernah dikhianati bisa mengalami kesulitan mempercayai orang baru, meski tidak memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa sebelumnya.
Kepercayaan Sulit Dipulihkan?
Dr. Rasti menjelaskan, memulihkan kepercayaan membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibanding proses membangunnya.
Permintaan maaf saja tidak cukup. Diperlukan perubahan perilaku yang rutin dilakukan, kejujuran, serta kesabaran dari pihak yang pernah berkhianat.
Namun, ia menegaskan bahwa tidak semua kepercayaan bisa kembali seperti semula akibat pengkhianatan.
“Ada kepercayaan yang bisa diperbaiki, tapi ada juga yang rusaknya sangat dalam. Itu sangat tergantung pada pengkhianatan dan kesiapan psikologis korban,” kata dia.
Untuk itu hal ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan bukan sesuatu yang bisa diperlakukan sembarangan.
Dalam hubungan keluarga, pertemanan, pekerjaan, hingga kepemimpinan, satu tindakan pengkhianatan dapat menghapus reputasi yang dibangun bertahun-tahun.
Dr. Rasti menilai, menjaga kepercayaan sama pentingnya dengan menjaga kesehatan mental.
“Kepercayaan adalah investasi jangka panjang. Sekali rusak, tak hanya emosional yang tertekan tapi juga hubungan antar manusia sangat tidak bisa diukur oleh materi,” ujarnya.
Meski memaafkan sering dianggap sebagai jalan keluar, dr. Rasti mengingatkan bahwa memaafkan tidak selalu memberikan kepercayaan kembali sepenuhnya.
“Memaafkan bisa menjadi proses penyembuhan diri, tapi memberi kepercayaan ulang adalah keputusan rasional yang perlu pertimbangan matang,” kata dia.
Di tengah rumitnya hubungan manusia, pesan dr. Rasti, kepercayaan adalah aset psikologis yang mahal. Sekali dikhianati, ia mungkin tak pernah kembali utuh. ***


















