Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tengah merancang strategi baru untuk mendiversifikasi basis ekonominya, mengalihkan fokus pengembangan yang selama ini sangat terkonsentrasi di Batam. Melalui sebuah perencanaan strategis yang matang, Tanjungpinang kini diposisikan sebagai pusat kawasan industri baru. Langkah ini bertujuan untuk mendorong pemerataan investasi di seluruh wilayah Kepri serta mengurangi kesenjangan pertumbuhan ekonomi antarwilayah yang selama ini menjadi tantangan.

Fokus Pengembangan Ekonomi dalam Rapimprov Kadin Kepri 2025
Rencana ambisius untuk menjadikan Tanjungpinang sebagai pusat industri baru ini menjadi salah satu topik bahasan utama dalam Rapat Pimpinan Provinsi (Rapimprov) Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri yang diselenggarakan pada tahun 2025. Acara yang berlangsung di Hotel Aston Tanjungpinang pada hari Sabtu, 3 Desember 2025, ini mengumpulkan para pemangku kepentingan untuk menyelaraskan visi dan strategi pembangunan ekonomi daerah.
Ketua Umum Kadin Kepri, Achmad Ma’ruf Maulana, secara tegas menekankan betapa strategisnya pengembangan kawasan industri di ibu kota Provinsi Kepri ini. Ia menyoroti dua keunggulan kompetitif utama yang dimiliki Tanjungpinang: ketersediaan lahan yang luas dan posisinya yang strategis di jalur perdagangan regional. Keunggulan-keunggulan ini dinilai sangat potensial untuk dimaksimalkan demi memacu pertumbuhan ekonomi.
“Investasi harus diperluas ke luar Batam. Tanjungpinang memiliki potensi besar untuk tumbuh sebagai pusat ekonomi baru di wilayah Kepulauan Riau,” ujar Ma’ruf dalam pernyataannya. Penegasan ini mengindikasikan adanya dorongan kuat dari sektor swasta melalui Kadin untuk mendukung diversifikasi ekonomi Kepri.
Dompak dan Senggarang Menjadi Sentra Industri Terintegrasi
Pengembangan kawasan industri baru ini rencananya akan difokuskan pada dua area utama yang memiliki potensi besar, yaitu Dompak dan Senggarang. Kedua wilayah ini diproyeksikan akan dikembangkan menjadi sebuah kawasan industri terintegrasi dengan total luas lahan mencapai 1.900 hektare. Konsep kawasan industri terintegrasi ini mencakup berbagai fungsi vital untuk mendukung ekosistem bisnis yang kuat dan berkelanjutan.
Kawasan ini diproyeksikan akan berperan sebagai:
- Pusat Industri Terintegrasi: Dengan menyediakan fasilitas produksi yang modern dan canggih, kawasan ini diharapkan dapat menarik berbagai jenis industri manufaktur. Fokus pada integrasi akan memastikan efisiensi operasional dan sinergi antar pelaku industri.
- Hub Logistik: Memanfaatkan posisi geografis Tanjungpinang yang strategis di jalur perdagangan regional, kawasan ini akan dikembangkan sebagai pusat logistik yang efisien. Hal ini mencakup infrastruktur pendukung seperti pelabuhan, gudang, dan jaringan transportasi yang memadai untuk mendukung arus barang keluar masuk.
- Basis Ekonomi Kreatif: Selain industri konvensional, kawasan ini juga akan menyediakan ruang dan dukungan bagi pengembangan ekonomi kreatif. Hal ini sejalan dengan tren global yang melihat ekonomi kreatif sebagai pendorong inovasi dan pertumbuhan baru. Pemberian ruang bagi industri kreatif dapat menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah.
Langkah Konkret Pemerintah Provinsi Kepri untuk Menarik Investor
Menyambut rencana pengembangan kawasan industri ini, Pemerintah Provinsi Kepri telah menyiapkan serangkaian langkah konkret untuk meminimalisir hambatan dan menarik minat para investor. Wakil Gubernur Kepri, Nyanyang Haris Pratamura, menyatakan komitmen pemerintah dalam mewujudkan visi ini.
Saat ini, fokus utama pemerintah adalah pada penyiapan infrastruktur dasar yang memadai. Hal ini mencakup pembangunan dan peningkatan akses jalan, penyediaan pasokan listrik dan air yang stabil, serta pengembangan fasilitas pendukung lainnya yang krusial bagi operasional industri. Selain itu, penataan tata ruang yang cermat juga menjadi prioritas untuk memastikan pengembangan kawasan industri berjalan harmonis dengan lingkungan dan kebutuhan masyarakat.
“Lahan di Dompak dan Senggarang siap dikembangkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru. Kami ingin melihat lonjakan ekonomi di luar Batam,” tegas Nyanyang. Pernyataan ini menunjukkan tekad kuat pemerintah untuk tidak hanya mengandalkan satu kota sebagai pusat ekonomi, tetapi mendistribusikan potensi pertumbuhan ke wilayah lain.
Ia menambahkan bahwa saat ini, pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang masih berada di angka 2,9 persen. Angka ini dianggap belum optimal dan kehadiran kawasan industri yang baru diharapkan dapat menjadi katalisator untuk mendongkrak pertumbuhan tersebut. Ketersediaan kawasan industri yang terencana dengan baik dinilai sangat mendesak untuk menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat setempat, yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. Strategi ini merupakan langkah proaktif dalam menciptakan keseimbangan pembangunan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau.

















