Banjir Terjang Lima Desa di Bondowoso, Ratusan KK Terdampak, Fasilitas Umum Rusak
Bondowoso, Jawa Timur – Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kecamatan Cermee, Bondowoso, pada Minggu, 11 Januari 2025, menyebabkan banjir di lima desa. Peristiwa alam ini berdampak pada ratusan kepala keluarga serta merusak sejumlah fasilitas umum, termasuk sekolah dan infrastruktur jalan.
Lima desa yang terendam banjir meliputi Desa Cermee, Ramban Kulon, Ramban Wetan, Suling Kulon, dan Grujugan. Genangan air tidak hanya memasuki rumah warga, tetapi juga meluas ke area penting lainnya seperti Kantor Kecamatan, Taman Kanak-kanak Pertiwi, dan beberapa unit pertokoan di sekitar Pasar Cermee.
Menurut keterangan Camat Cermee, Rizki Idham Lukmana, penyebab utama banjir adalah curah hujan yang sangat tinggi. Air dari areal persawahan meluap dan mengalir ke permukiman warga, menyebabkan ketinggian air mencapai 30 hingga 40 sentimeter di jalan-jalan.
Kronologi dan Dampak Banjir yang Meluas
Banjir di area Pasar Cermee memiliki karakteristik khusus. Genangan air yang masuk ke pertokoan dan kantor kecamatan disebabkan oleh hambatan aliran air. Sebuah pohon mangga yang tumbang dilaporkan menghalangi saluran irigasi, sehingga air dari persawahan tidak dapat mengalir dengan lancar dan akhirnya meluber ke jalan serta area sekitarnya.
“Tidak semua rumah kemasukan air, ya. Ketinggian air di jalan sekitar 30-40 cm,” jelas Camat Rizki Idham Lukmana. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa tidak ada warga yang perlu dievakuasi karena ketinggian air yang relatif tidak ekstrem. Air banjir dilaporkan mulai surut pada pukul 22.30 WIB pada hari yang sama.
Pelayanan Publik Tetap Berjalan Normal
Meski dilanda banjir, pelayanan di Kantor Kecamatan Cermee dipastikan tetap berjalan seperti biasa. Rizki Idham Lukmana menjelaskan bahwa ruangan yang terdampak paling parah adalah rumah dinas camat. Sementara itu, ruangan-ruangan yang vital untuk operasional pelayanan publik dilaporkan masih aman dari genangan air.
“Layanan tetap normal,” tegasnya.
Penanganan awal pasca-banjir dilakukan oleh warga secara mandiri dengan membersihkan rumah mereka dari sisa lumpur dan genangan. Sementara itu, tim gabungan yang terdiri dari unsur Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Republik Indonesia (Polri), Pemerintah Desa (Pemdes), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Palang Merah Indonesia (PMI), dan para relawan, fokus pada normalisasi aliran air di jalan raya yang sempat tergenang dan menyebabkan kemacetan.
Ratusan KK Terdampak, Fasilitas Umum Mengalami Kerusakan
Kepala Bidang Rehabilitasi, Rekonstruksi, dan Logistik BPBD Bondowoso, Riski Bahana, merinci bahwa sekitar 875 kepala keluarga (KK) terdampak langsung oleh banjir ini. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa sejauh ini tidak ada laporan mengenai kerusakan properti atau kerugian materiil yang signifikan, meskipun data masih terus dalam proses pendataan.
Fasilitas umum juga tidak luput dari dampak banjir. Beberapa sekolah mengalami kerusakan, dan yang paling terlihat adalah kerusakan pada lapisan aspal jalan yang terangkat akibat derasnya aliran air.
“Data masih terus kita proses. Untuk Fasum ada sekolah dan jalan yang tadi aspalnya terangkat,” ujar Riski Bahana. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada korban jiwa dalam peristiwa banjir ini.
Kesaksian Warga: Hujan Deras Datang Tiba-tiba
Kholifah, salah seorang warga Desa Cermee, menceritakan kronologi terjadinya banjir. Menurutnya, hujan turun dua kali pada hari itu. Awalnya, hujan turun dengan intensitas sedang di sore hari, namun menjelang Maghrib, hujan kembali turun dengan deras.
“Habisnya sholat Maghrib kan hujan. Jam 6 lewat berapa itu, hujannya agak deras. Pas masuk air,” tuturnya.
Ia menggambarkan bahwa ketinggian air di luar rumah bisa mencapai sepinggang orang dewasa, bahkan hingga sepusar. Situasi tersebut memaksa dirinya dan keluarga untuk segera mengungsi ke bagian depan rumah yang lebih tinggi untuk menghindari peningkatan ketinggian air yang terus terjadi.
“Kalau di rumah sini selutut, kalau di luar sampai pinggang, se pusar,” ungkapnya, menggambarkan perbedaan ketinggian air di dalam dan di luar rumahnya.
Menyikapi kondisi ini, rencana gotong royong untuk membersihkan sisa-sisa banjir akan segera dilaksanakan keesokan harinya oleh warga dan berbagai pihak terkait. Upaya bersama ini diharapkan dapat memulihkan kondisi desa dan fasilitas umum yang terdampak.




