Dunia maya baru-baru ini dihebohkan dengan video yang memperlihatkan kemampuan ChatGPT yang diklaim dapat mengetahui privasi pengguna, bahkan seolah-olah mengamati aktivitas mereka. Video-video yang beredar menampilkan pengguna yang mengajukan pertanyaan sederhana kepada ChatGPT, kemudian menerima jawaban yang dianggap sesuai dengan kondisi atau situasi di sekitar mereka.
Salah satu video yang viral diunggah oleh sebuah akun TikTok dan telah ditonton jutaan kali. Dalam video tersebut, pemilik akun menuliskan narasi yang mengungkapkan kekhawatiran bahwa ChatGPT seolah-olah memiliki akses ke kamera perangkat, sehingga dapat mengetahui apa yang sedang dikenakan atau dilakukan pengguna.
Fenomena ini memicu diskusi hangat dan kekhawatiran publik terkait keamanan data pribadi dan perlindungan privasi di era kecerdasan buatan. Banyak yang bertanya-tanya, benarkah ChatGPT memiliki kemampuan untuk mengetahui aktivitas pengguna dan mengakses privasi mereka?
Menelusuri Kebenaran di Balik Klaim
Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu dilakukan penelusuran lebih lanjut mengenai cara kerja ChatGPT dan batasan teknis yang ada. Chairman Lembaga Riset Keamanan Siber CISSReC, Pratama Persadha, memberikan tanggapannya terkait isu yang ramai diperbincangkan ini.
Menurut Pratama, klaim bahwa ChatGPT dapat mengetahui detail pribadi pengguna tanpa adanya input yang diberikan, seperti warna pakaian atau penggunaan jam tangan, tidaklah benar. Ia menegaskan bahwa ChatGPT tidak dirancang untuk mengaktifkan kamera perangkat, mengamati lingkungan sekitar, atau mengetahui apa yang dikenakan pengguna tanpa adanya informasi yang sengaja diberikan.
“Akses semacam itu secara teknis tidak mungkin terjadi tanpa izin eksplisit dari pengguna dan tanpa tanda yang jelas di tingkat sistem operasi,” jelas Pratama.
Sistem Operasi Melindungi Privasi Pengguna
Pratama menjelaskan bahwa sistem operasi modern seperti Android dan iOS mewajibkan setiap aplikasi untuk meminta izin pengguna sebelum menggunakan kamera. Selain itu, sistem operasi juga menampilkan indikator visual ketika kamera sedang aktif, sehingga penggunaan kamera secara tersembunyi sangat sulit dilakukan.
Bagaimana ChatGPT Memberikan Jawaban yang Akurat?
Jika ChatGPT tidak memiliki akses ke kamera atau informasi pribadi pengguna, lalu bagaimana ia dapat memberikan jawaban yang terkesan akurat dan sesuai dengan situasi pengguna? Pratama menjelaskan bahwa fenomena ini dapat dijelaskan melalui mekanisme kerja model bahasa yang digunakan oleh ChatGPT.
Dalam banyak kasus, respons yang dihasilkan oleh ChatGPT merupakan prediksi berbasis probabilitas yang disusun dari konteks percakapan, pilihan kata, serta asumsi umum yang lazim digunakan manusia. Sebagai model bahasa besar, ChatGPT mengolah pola bahasa dari input pengguna dan menghasilkan jawaban yang paling masuk akal secara statistik.
Tidak jarang, jawaban tersebut kebetulan sesuai dengan kenyataan, meskipun tidak didasarkan pada pengamatan visual apa pun. Pratama menganalogikan mekanisme ini dengan teknik cold reading, yaitu menyusun tebakan dari petunjuk umum tanpa akses langsung terhadap fakta sebenarnya.
Fitur Analisis Gambar dan Video pada ChatGPT
Pratama mengakui bahwa terdapat fitur tertentu yang memungkinkan AI untuk menganalisis gambar atau video. Namun, fitur ini hanya dapat digunakan apabila pengguna secara sadar mengaktifkannya, seperti menekan ikon kamera, memberikan izin akses, atau mengunggah konten visual secara langsung.
“Dalam kondisi itu, ChatGPT hanya memproses informasi visual yang memang disediakan oleh pengguna, bukan mengambil data dari kamera secara otomatis atau memantau aktivitas tanpa sepengetahuan mereka,” kata Pratama.
Ia menambahkan bahwa video viral yang memperlihatkan ChatGPT seakan mengetahui detail fisik pengguna kemungkinan besar terjadi karena adanya input visual yang telah diaktifkan, atau karena jawaban AI hanyalah prediksi yang kebetulan tepat berdasarkan teks pertanyaan.
Fokus pada Privasi yang Lebih Nyata
Pratama menilai bahwa narasi yang berkembang di media sosial seringkali berubah menjadi ketakutan berlebihan dan bercampur dengan informasi yang keliru. Padahal, isu privasi dalam penggunaan AI seharusnya difokuskan pada aspek yang lebih nyata, yaitu data yang secara sadar dibagikan oleh pengguna.
“Percakapan teks, gambar atau video yang diunggah, serta integrasi dengan data lain seperti kalender atau kontak memang dapat diproses oleh layanan AI sesuai kebijakan privasi penyedia layanan,” tutur Pratama.
Tips Menjaga Privasi di Era Kecerdasan Buatan
Dalam menghadapi era kecerdasan buatan, Pratama menekankan pentingnya sikap sadar dan kritis terhadap izin serta data yang diberikan. Berikut adalah beberapa tips yang dapat dilakukan untuk menjaga privasi di era kecerdasan buatan:
- Selektif dalam membagikan informasi pribadi: Berpikir dua kali sebelum membagikan informasi pribadi di platform online atau aplikasi yang menggunakan AI.
- Memahami fitur yang diaktifkan: Pelajari fitur-fitur yang diaktifkan pada aplikasi atau perangkat yang menggunakan AI, dan pastikan Anda memahami bagaimana data Anda digunakan.
- Memeriksa pengaturan privasi aplikasi: Periksa dan atur pengaturan privasi pada aplikasi yang Anda gunakan untuk membatasi akses ke data pribadi Anda.
- Membaca kebijakan privasi: Luangkan waktu untuk membaca kebijakan privasi dari layanan atau aplikasi yang Anda gunakan untuk memahami bagaimana data Anda dikumpulkan, digunakan, dan dilindungi.
- Berhati-hati dengan izin yang diberikan: Perhatikan izin yang diminta oleh aplikasi, dan hanya berikan izin yang benar-benar diperlukan untuk fungsi aplikasi tersebut.
Dengan menerapkan tips-tips ini, pengguna dapat memanfaatkan teknologi AI secara aman tanpa terjebak pada ketakutan yang tidak beralasan. Penting untuk diingat bahwa keamanan data dan perlindungan privasi adalah tanggung jawab bersama antara penyedia layanan dan pengguna.




