Harga Bitcoin (BTC) kembali menghadirkan drama di pasar aset digital. Dalam sepekan terakhir, mata uang kripto terbesar ini mengalami penurunan drastis, kehilangan nilai hingga lebih dari US$15.000, terjungkal dari kisaran US$82.400 ke angka US$65.856. Kejadian ini bukan hanya sekadar koreksi harga, melainkan sebuah fenomena yang memicu gelombang likuidasi besar di pasar derivatif kripto, dengan lebih dari US$2,41 miliar posisi terhapus dalam 48 jam terakhir. Mayoritas dari posisi yang tergerus adalah posisi long, yang terjebak dalam pergerakan pasar yang tak terduga.
Penurunan signifikan kali ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Analis pasar mengidentifikasi setidaknya tiga peristiwa besar yang menjadi pemicu utama rontoknya harga Bitcoin. Peristiwa-peristiwa ini mencerminkan dinamika kompleks yang melibatkan pemain institusional, entitas besar dalam ekosistem kripto, serta sisa-sisa dari masa lalu industri ini.
Arus Keluar Dana dari ETF Bitcoin BlackRock
Salah satu faktor yang paling menonjol adalah arus keluar dana yang terus-menerus dari ETF Bitcoin milik BlackRock, yang dikenal sebagai IBIT. ETF ini, yang merupakan salah satu yang terbesar di dunia, mencatat sembilan sesi beruntun mengalami penarikan dana selama periode Mei 2026. Totalnya, sekitar US$2,43 miliar mengalir keluar dari fund ini hanya dalam satu bulan.
Transaksi yang paling mengejutkan adalah penjualan besar senilai US$1,26 miliar yang terjadi melalui mekanisme dark pool pada tanggal 26 Mei. Dark pool adalah mekanisme transaksi eksekusi perdagangan aset dalam jumlah besar yang tidak terlihat secara langsung di pasar publik. Aktivitas ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai siapa yang berada di balik penjualan tersebut dan apa motifnya, meskipun belum ada penjelasan resmi yang dirilis. Tindakan ini secara jelas menunjukkan adanya tekanan dari sisi institusi, yang pada gilirannya berdampak signifikan pada sentimen pasar secara keseluruhan.
Penjualan Simbolik oleh MicroStrategy
Perhatian pasar juga tertuju pada MicroStrategy, sebuah perusahaan yang dikenal agresif dalam mengakumulasi Bitcoin. CEO MicroStrategy, Michael Saylor, mengungkapkan penjualan pertama Bitcoin perusahaan sejak Desember 2022, yaitu sebanyak 32 BTC senilai US$2,5 juta. Dana ini digunakan untuk membayar dividen saham preferen.
Meskipun jumlah yang dijual tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan total kepemilikan MicroStrategy yang mencapai 843.706 BTC, aksi ini memiliki makna simbolis yang sangat kuat. Selama ini, pasar cenderung melihat MicroStrategy sebagai “pembeli tak terbatas” di pasar Bitcoin. Dengan adanya penjualan ini, meskipun dalam skala kecil, timbul ketidakpastian dan sedikit menggoyahkan persepsi investor yang selama ini mengandalkan aksi beli perusahaan tersebut. Hal ini tentu saja memengaruhi psikologi investor secara luas.
Pergerakan Mengejutkan dari Wallet Mt. Gox
Satu lagi peristiwa yang menambah gejolak di pasar adalah pergerakan dana dari wallet yang terafiliasi dengan Mt. Gox. Bursa Bitcoin yang bangkrut pada tahun 2014 ini kembali menjadi sorotan setelah dilaporkan memindahkan sejumlah besar Bitcoin, yaitu 10.422 BTC senilai sekitar US$739 juta, pada tanggal 2 Juni.
Mengingat tenggat waktu pengembalian dana bagi para kreditur Mt. Gox dijadwalkan pada Oktober 2026, setiap pergerakan wallet dalam skala besar seperti ini secara otomatis memicu spekulasi pasar. Kekhawatiran utama adalah para kreditur mungkin akan segera merealisasikan aset mereka dengan menjual Bitcoin tersebut. Hal ini tentu saja menciptakan tekanan jual tambahan di pasar spot, memperburuk kondisi yang sudah rapuh.
Di Indonesia, volatilitas harga Bitcoin dan aset kripto lainnya selalu menjadi perhatian para pelaku pasar. Banyak investor ritel di tanah air yang turut merasakan dampak dari penurunan tajam ini, terutama bagi mereka yang memiliki posisi long. Pergerakan harga yang ekstrem juga mendorong banyak investor untuk lebih berhati-hati dan mempertimbangkan kembali strategi investasi mereka.
Altcoin Menunjukkan Dinamika Berbeda
Yang menarik, meski Bitcoin mengalami penurunan yang tajam, altcoin tidak serta merta mengikuti pola klasik yang biasa terjadi saat Bitcoin anjlok. Secara historis, penurunan 10% pada Bitcoin seringkali diikuti oleh penurunan 20-40% pada altcoin. Namun, data terbaru menunjukkan perilaku yang sedikit berbeda.
Beberapa altcoin seperti Ethereum dan Solana hanya mengalami penurunan moderat, masing-masing sekitar 5%. Sementara itu, beberapa token lain justru menunjukkan ketahanan atau bahkan penguatan.
Situasi ini mengindikasikan bahwa pasar kripto semakin matang dan memiliki dinamika yang lebih kompleks. Korelasi antara Bitcoin dan altcoin tidak lagi linier seperti dulu. Investor mungkin mencari peluang diversifikasi atau ada sentimen positif yang spesifik pada token-token tersebut.
Secara teknikal, Bitcoin kini berada kurang dari 10% dari rata-rata bergerak 200 mingguan, menempati level support bulanan yang kuat dengan indeks kekuatan relatif (RSI) harian di bawah 25. Secara historis, kondisi ini seringkali menandai potensi titik terendah jangka pendek dan membuka peluang bagi altcoin untuk menguat, bahkan mungkin mengindikasikan awal dari fenomena “altcoin summer”.
Penurunan harga Bitcoin dalam sepekan terakhir ini merupakan kombinasi dari berbagai faktor yang saling terkait, mulai dari tekanan institusional melalui ETF, aksi simbolis dari perusahaan besar, hingga spekulasi yang dipicu oleh pergerakan dana dari entitas lama seperti Mt. Gox. Namun, dinamika altcoin yang stabil menunjukkan bahwa pasar kripto masih menyimpan potensi dan peluang tersendiri. Bagi investor di Indonesia dan di seluruh dunia, pemantauan ketat terhadap arus dana ETF, pergerakan wallet institusi, dan likuidasi di pasar derivatif akan menjadi kunci untuk memahami arah pasar dalam jangka pendek.
Penulis: Erwin






