околоссылочный3 google 3 текст3
AA1ODce8

Dari 5-6 ton jadi 12,4 ton per hektare, ini sistem tanam baru yang diklaim mentan

Diposting pada

.CO.ID, JAKARTA — Produktivitas padi hingga 12,4 ton per hektare dari rata-rata sekitar 5-6 ton menjadi klaim hasil uji lapangan sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) yang kini disiapkan pemerintah untuk mendukung swasembada pangan berkelanjutan.

Lompatan hasil panen yang mendekati tiga kali lipat itu menjadi alasan Kementerian Pertanian mulai memperluas penerapan metode tersebut. Pertanyaan berikutnya, bagaimana produktivitas padi bisa meningkat sejauh itu?

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan PM-AAS dikembangkan dengan memadukan tiga pendekatan utama, yakni optimalisasi fotosintesis tanaman melalui pengaturan jarak tanam menggunakan sistem tanam 4:1 dan 6:1, peningkatan populasi tanaman secara berkesinambungan (continuous planting), serta penerapan pertanian presisi (precision agriculture) agar penggunaan pupuk, air, dan input produksi menjadi lebih efisien.

Menurut Amran, pendekatan tersebut bukan hanya mengejar hasil panen yang lebih tinggi, tetapi juga meningkatkan keuntungan petani melalui efisiensi biaya usaha tani.

“Kalau petani sudah merasakan keuntungan yang besar, mereka akan menanam dengan sendirinya. Tidak perlu lagi didorong terus-menerus karena usaha taninya sudah terbukti menguntungkan,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ia mengatakan model PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas padi dari rata-rata sekitar 5-6 ton menjadi minimal 10 ton, bahkan hasil uji lapangan telah mencapai 12,4 ton per hektare.

“Model yang dikembangkan ini mampu meningkatkan produktivitas padi hingga hampir tiga kali lipat, dari rata-rata sekitar 5–6 ton menjadi minimal 10 ton bahkan mencapai 12,4 ton per hektare,” kata Amran saat memimpin Rapat Koordinasi Perluasan Pelaksanaan PM-AAS secara hybrid.

Menurut dia, peningkatan hasil panen tersebut juga didorong oleh bertambahnya populasi tanaman. Jika pada pola budidaya sebelumnya populasi berkisar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektare, melalui PM-AAS jumlahnya dapat meningkat menjadi sekitar 800 ribu hingga satu juta rumpun per hektare.

“Kalau jajar legowo memperbaiki fotosintesis, maka sistem kontinyu meningkatkan populasi tanaman. Populasi yang biasanya sekitar 300 ribu hingga 360 ribu rumpun per hektare bisa meningkat menjadi 800 ribu sampai satu juta rumpun. Dengan populasi hampir tiga kali lipat, produksinya juga sangat masuk akal meningkat hingga mendekati tiga kali lipat,” jelasnya.

Selain meningkatkan produksi, Amran menilai sistem tersebut dapat menekan biaya produksi.

“Kalau ini diterapkan dengan benar, biaya pupuk dan air bisa jauh lebih efisien. Input turun, tetapi hasil panen meningkat. Di situlah keuntungan petani akan naik,” ujarnya.

 

Amran mengatakan peningkatan produktivitas menjadi kunci menjaga swasembada beras secara berkelanjutan sekaligus mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia berkembang menjadi lumbung pangan dunia.

Namun, pemerintah menegaskan capaian tersebut masih berasal dari proses riset dan pengujian lapangan. PM-AAS merupakan hasil penelitian selama hampir dua tahun yang menggabungkan pengalaman penerapan sistem jajar legowo di Indonesia, praktik budidaya modern yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, serta teknologi pertanian presisi yang berkembang di China.

“Setelah dua tahun kami melakukan penelitian dan pengujian di lapangan, saya semakin yakin metode ini mampu meningkatkan produksi secara signifikan. Targetnya minimal 10 ton per hektare, bahkan hasil uji lapangan sudah mencapai 12,4 ton per hektare,” ungkapnya.

Karena itu, pemerintah menyiapkan dukungan benih, pendampingan teknis, serta mengerahkan penyuluh pertanian lapangan (PPL) sebagai ujung tombak penerapan PM-AAS. Fokus awal akan dilakukan di daerah irigasi.

“Seluruh PPL harus bergerak. Fokus kita di daerah irigasi terlebih dahulu. PM-AAS akan kita kawal bersama hingga 2029 agar benar-benar mampu meningkatkan produksi nasional,” tegas Amran.

Dorongan memperluas PM-AAS juga mendapat perhatian Presiden Prabowo Subianto. Saat menghadiri Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, Rabu (24/6), Presiden menyatakan teknologi pertanian yang ditampilkan dalam PM-AAS menjadi modal penting menuju cita-cita Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

“Banyak sekali inovasi, teknologi baru, teknik-teknik baru yang dikembangkan oleh masyarakat pertanian dipimpin Menteri Pertanian. Hasilnya menurut saya sangat revolusioner,” kata Presiden Prabowo.

Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menghadiri acara panen raya padi di Desa Gentan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Rabu (24/6/2026). – (Dok Humas Pemprov Jateng)

PM-AAS Gabungkan Teknologi Indonesia, AS, dan China, Apa Bedanya dengan Cara Tanam Biasa?

Salah satu keunikan sistem Pertanian Modern-Advanced Agriculture System (PM-AAS) adalah metode ini tidak dibangun dari satu pendekatan pertanian saja. Menurut Kementerian Pertanian, PM-AAS merupakan hasil perpaduan pengalaman budidaya padi di Indonesia, praktik pertanian modern yang dipelajari di Arkansas, Amerika Serikat, serta teknologi pertanian presisi yang berkembang di China. Kombinasi inilah yang disebut menjadi pembeda utama dibandingkan pola budidaya konvensional.

Dari Indonesia, PM-AAS mengadopsi pengalaman penerapan sistem jajar legowo yang telah lama digunakan untuk meningkatkan penerimaan cahaya matahari oleh tanaman padi. Pengaturan jarak tanam ini bertujuan mengoptimalkan proses fotosintesis sehingga setiap rumpun memperoleh ruang tumbuh yang lebih baik. Sistem tersebut sudah dikenal luas di kalangan petani Indonesia, tetapi dalam PM-AAS penerapannya dipadukan dengan pendekatan lain yang lebih modern.

Sementara itu, pengalaman dari Arkansas, Amerika Serikat, memberi pengaruh pada pengelolaan budidaya yang lebih terukur dan berbasis efisiensi. Arkansas merupakan salah satu wilayah penghasil padi terbesar di Amerika Serikat dan dikenal mengembangkan praktik budidaya modern, termasuk pengelolaan air, mekanisasi, dan manajemen lahan yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Komponen ketiga berasal dari perkembangan pertanian presisi (precision agriculture) yang dalam beberapa tahun terakhir berkembang pesat di China. Pendekatan ini memanfaatkan data dan teknologi untuk mengatur penggunaan pupuk, air, benih, maupun input produksi secara lebih tepat sesuai kebutuhan tanaman. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan hasil panen, tetapi juga mengurangi pemborosan sumber daya.

 

Dengan demikian, PM-AAS bukan sekadar memperkenalkan pola tanam baru, melainkan menggabungkan tiga kekuatan yang memiliki karakter berbeda. Indonesia menyumbangkan pengalaman budidaya padi tropis, Amerika Serikat memberikan pendekatan manajemen pertanian modern, sedangkan China memperkuat aspek pertanian presisi yang semakin banyak diterapkan dalam sistem produksi pangan.

Meski demikian, efektivitas PM-AAS dalam skala nasional masih memerlukan pembuktian lebih lanjut. Kementerian Pertanian sendiri menyatakan metode tersebut baru melalui proses riset dan uji lapangan selama hampir dua tahun, serta akan terus dikawal implementasinya hingga 2029. Artinya, keberhasilan di lokasi uji masih perlu dibuktikan dapat direplikasi secara konsisten pada berbagai kondisi lahan, iklim, dan sistem irigasi di Indonesia.

Menuju Lumbung Pangan Dunia

Keberhasilan PM-AAS tidak hanya diukur dari kenaikan produktivitas padi di tingkat petani. Jika metode ini benar-benar dapat diterapkan secara luas dan menghasilkan peningkatan produksi yang konsisten, dampaknya berpotensi mengubah posisi Indonesia dalam peta ketahanan pangan global. Itulah sebabnya pemerintah mengaitkan PM-AAS dengan target yang lebih besar, yakni menjaga swasembada pangan secara berkelanjutan hingga mewujudkan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.

Selama ini, tantangan terbesar swasembada bukan hanya meningkatkan hasil panen pada satu musim atau satu lokasi, tetapi mempertahankan produksi nasional di tengah pertumbuhan penduduk, perubahan iklim, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan. Karena itu, peningkatan produktivitas per hektare dinilai menjadi salah satu strategi paling realistis ketika ruang untuk memperluas lahan pertanian semakin terbatas.

 

Apabila produktivitas yang dicapai pada uji lapangan PM-AAS dapat direplikasi secara konsisten di wilayah-wilayah sentra produksi, volume gabah nasional berpotensi meningkat tanpa harus membuka lahan pertanian baru dalam skala besar. Kenaikan produksi seperti itu tidak hanya memperkuat cadangan beras nasional, tetapi juga memperbesar ruang bagi pemerintah untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di dalam negeri.

Namun, menjadi lumbung pangan dunia memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar menghasilkan beras dalam jumlah besar. Status tersebut juga menuntut kemampuan menjaga produksi secara berkelanjutan, memiliki sistem distribusi yang efisien, cadangan pangan yang memadai, serta daya saing yang cukup apabila suatu saat memasuki pasar ekspor. Dengan kata lain, produktivitas tinggi merupakan salah satu syarat penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu.

Karena itu, pemerintah menegaskan target jangka pendek tetap berfokus pada swasembada pangan yang berkelanjutan. Setelah kebutuhan dalam negeri dapat dipenuhi secara konsisten, barulah peluang meningkatkan ekspor menjadi lebih terbuka. Arah inilah yang juga disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman ketika menyebut bahwa sasaran pemerintah bukan hanya mempertahankan swasembada, tetapi juga mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia berkembang menjadi lumbung pangan dunia.

Meski demikian, target tersebut masih memerlukan pembuktian di lapangan. PM-AAS sendiri baru melalui tahap riset dan uji lapangan selama hampir dua tahun, sementara pemerintah berencana mengawal implementasinya hingga 2029. Dengan demikian, keberhasilan di sejumlah lokasi uji belum dapat langsung disamakan dengan keberhasilan nasional. Sejauh mana PM-AAS mampu mengubah wajah pertanian Indonesia akan sangat bergantung pada konsistensi penerapan metode tersebut di berbagai daerah dengan karakteristik lahan dan sistem irigasi yang berbeda.

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan