Jakarta – Industri perbankan Indonesia diperkirakan akan terus menunjukkan stabilitas yang kuat di tahun 2026. Proyeksi ini disampaikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang menekankan bahwa meskipun ada tantangan global, sektor perbankan diharapkan dapat mempertahankan kinerja positifnya.
Dian Ediana Rae, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, menjelaskan bahwa pertumbuhan kredit dan Dana Pihak Ketiga (DPK) diperkirakan akan tetap stabil pada tahun 2026. Hal ini akan didukung oleh kualitas kredit yang terjaga dan permodalan yang kuat. Lebih lanjut, laba industri perbankan juga diantisipasi akan terus tumbuh positif.
Namun, Dian juga mengingatkan bahwa ketidakpastian ekonomi global dan perkembangan domestik akan terus mempengaruhi dinamika kinerja perbankan. Faktor-faktor ini perlu menjadi perhatian utama, karena pertumbuhan kredit sangat bergantung pada stabilitas ekonomi dan geopolitik global, serta kondisi dalam negeri. Beberapa faktor domestik yang penting meliputi:
- Permintaan kredit atau pembiayaan dari dunia usaha
- Kondisi iklim investasi
- Prospek pertumbuhan ekonomi nasional
OJK berharap bahwa seluruh pemangku kepentingan di dalam negeri dapat bekerja sama untuk memperkuat berbagai aspek yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Sinergi ini akan menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, sehingga penyaluran kredit yang sehat dan memberikan kontribusi positif dapat tercapai.
Kinerja Kredit Perbankan 2025: Tinjauan
Pertumbuhan kredit perbankan nasional sepanjang tahun 2025 tercatat sebesar 9,69 persen secara year-on-year (yoy). Angka ini memang tidak mencapai dua digit, dan sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kredit pada tahun sebelumnya yang mencapai 10,39 persen. Meskipun demikian, capaian ini masih berada dalam kisaran target yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI), yaitu antara 8 hingga 11 persen.
Secara lebih rinci, kinerja kredit investasi menunjukkan pertumbuhan yang sangat kuat sepanjang tahun 2025, yaitu sebesar 21,06 persen secara yoy. Pertumbuhan ini sejalan dengan kelanjutan proyek-proyek infrastruktur dan ekspansi modal yang dilakukan oleh berbagai perusahaan. Namun, pertumbuhan kredit di segmen lain tidak seoptimal kredit investasi.
Berikut rincian pertumbuhan kredit di segmen lain:
- Kredit modal kerja: 4,52 persen (yoy)
- Kredit konsumsi: 6,58 persen (yoy)
Kredit yang Belum Dicairkan (Undisbursed Loan)
Jumlah kredit yang belum dicairkan (undisbursed loan) tercatat mencapai Rp 2.439,2 triliun per Desember 2025. Angka ini setara dengan 22 persen dari total plafon kredit. Meskipun demikian, rasio aset likuid terhadap DPK (AL/DPK) masih terjaga di level yang sehat, yaitu 28,57 persen. Pertumbuhan DPK juga cukup menggembirakan, yaitu mencapai 13,83 persen pada tahun 2025.
Target Pertumbuhan Kredit 2026
Untuk tahun 2026, industri perbankan menargetkan pertumbuhan kredit di kisaran 8 hingga 12 persen. Target ini mencerminkan optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia, meskipun tetap memperhatikan berbagai tantangan yang ada.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Kredit
Beberapa faktor utama yang akan mempengaruhi pertumbuhan kredit di tahun 2026 antara lain:
- Kondisi Ekonomi Global: Ketidakpastian ekonomi global, termasuk inflasi, suku bunga, dan tensi geopolitik, dapat mempengaruhi sentimen investasi dan permintaan kredit.
- Kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia: Kebijakan fiskal dan moneter yang diambil oleh pemerintah dan Bank Indonesia akan memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan kredit.
- Permintaan Domestik: Permintaan domestik, baik dari sektor konsumsi maupun investasi, akan menjadi pendorong utama pertumbuhan kredit.
- Sektor Unggulan: Pertumbuhan kredit di sektor-sektor unggulan, seperti infrastruktur, manufaktur, dan pertanian, akan memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
- Inovasi dan Teknologi: Pemanfaatan teknologi digital dalam layanan perbankan dapat meningkatkan efisiensi dan memperluas akses terhadap kredit, terutama bagi UMKM.
Strategi untuk Mencapai Target Pertumbuhan Kredit
Untuk mencapai target pertumbuhan kredit di tahun 2026, industri perbankan perlu menerapkan berbagai strategi, antara lain:
- Fokus pada Sektor Prioritas: Mengarahkan penyaluran kredit ke sektor-sektor prioritas yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, seperti infrastruktur, manufaktur, dan UMKM.
- Peningkatan Efisiensi: Meningkatkan efisiensi operasional dan menurunkan biaya kredit untuk meningkatkan daya saing.
- Manajemen Risiko yang Hati-hati: Menerapkan manajemen risiko yang hati-hati untuk menjaga kualitas kredit dan meminimalkan potensi kerugian.
- Pemanfaatan Teknologi: Memanfaatkan teknologi digital untuk meningkatkan efisiensi, memperluas jangkauan, dan meningkatkan kualitas layanan.
- Kerjasama dengan Pemerintah dan Lembaga Lain: Meningkatkan kerjasama dengan pemerintah dan lembaga lain untuk mendukung program-program pembangunan dan meningkatkan akses terhadap kredit.
Dengan menerapkan strategi-strategi tersebut, industri perbankan diharapkan dapat mencapai target pertumbuhan kredit yang telah ditetapkan dan memberikan kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia secara keseluruhan.




















