Paguyuban Joyoboyo Kediri: Enam Tahun Berkarya dan Bermitra di Kutai Timur
Selama enam tahun terakhir, Paguyuban Joyoboyo Kediri (PJK) telah mengukuhkan kehadirannya di tanah Kutai Timur (Kutim). Lebih dari sekadar sebuah kelompok seni, PJK telah bertransformasi menjadi wadah penting bagi warga perantauan asal Kediri, Jawa Timur, sekaligus mitra strategis bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur dalam upaya pembangunan daerah.
Perjalanan Panjang dan Kontribusi Budaya
Ketua Paguyuban Joyoboyo Kediri Kutai Timur, Sirmani, menyampaikan rasa syukur atas perjalanan panjang organisasi yang dipimpinnya. Selama ini, PJK dikenal aktif mewarnai berbagai ajang bergengsi di Kutim. Kontribusinya terasa dalam berbagai acara, mulai dari Kirab Budaya hingga pentas seni yang memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Kutai Timur di Bukit Pelangi.
Eksistensi PJK di bidang kebudayaan, khususnya dalam menampilkan tarian Kuda Lumping atau Jaran Lumping, telah mendapatkan apresiasi langsung dari Bupati dan Wakil Bupati Kutim. Dukungan dari pemerintah daerah ini menjadi “napas utama” bagi para penggiat seni untuk terus melestarikan warisan leluhur di tanah perantauan.
“Dalam 6 tahun berjalan, banyak yang sudah kita jalankan sesuai dengan program-program pemerintah Kutai Timur. Di mana setiap event tertentu berkaitan dengan kesenian, kirab budaya, kemudian pentas seni bertepatan dengan ulang tahun Kutai Timur, Jowo-Boyo Kediri telah menyumbangkan tarian-tarian, khususnya Kuda Lumping,” ujar Sirmani pada Sabtu malam (31/1/2026).
Visi Ekonomi Mandiri dan Pemberdayaan Masyarakat
Meskipun demikian, Sirmani menegaskan bahwa visi PJK ke depan tidak hanya terbatas pada panggung hiburan. Ia menyadari bahwa keberlangsungan sebuah organisasi besar memerlukan kemandirian ekonomi. Oleh karena itu, PJK kini tengah gencar mengajukan proposal pemberdayaan masyarakat melalui sektor-sektor produktif.
PJK telah membidik sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan sebagai pilar ekonomi baru bagi para anggotanya. Langkah strategis ini diambil agar organisasi tidak terus-menerus bergantung pada sumbangan anggota atau donatur yang sifatnya tidak tetap untuk membiayai operasional pentas seni yang tergolong mahal.
“Capaian kalau dari swadaya anggota ini, pemberdayaan perikanan sendiri itu sudah menghasilkan. Tapi yang untuk dari pemerintah sendiri belum mendapatkan support dana bantuan itu. Makanya ini program kedepan kalau bisa sumbangan-sumbangan yang dijanjikan Pemkab Kutim bisa segera dicairkan untuk pengembangan peternakan maupun pertanian,” bebernya.
Mempererat Silaturahmi dan Antusiasme Publik
Terkait kekuatan internal, Sirmani membeberkan bahwa saat ini terdapat sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) yang terdata sebagai anggota PJK. Untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota, PJK secara rutin menggelar kegiatan “Kopdar” atau kopi darat. Pelaksanaan kegiatan ini pun dilakukan dengan sistem jemput bola, menjangkau berbagai wilayah di Kutai Timur, mulai dari Telaga Bening, perumahan KPC, hingga wilayah Batu Putih dan Kilo 14 Sangatta.
Antusiasme masyarakat terhadap kesenian yang ditampilkan oleh PJK juga terbukti sangat tinggi. Hal ini terlihat jelas saat mereka tampil di Kecamatan Kaubun beberapa waktu lalu. Alunan merdu gamelan yang mengiringi tarian Kuda Lumping berhasil menyedot ribuan penonton, bahkan membuat lokasi pertunjukan menjadi membludak.
“Harapan saya, karena ini kesenian budaya yang harus dilestarikan, maka kami berharap pemerintah memberikan peluang untuk pengembangan ini, terutama berkaitan dengan support dana. Harapan kita Pemda ikut mendukung program-program kami ke depan agar kami tidak collapse,” pungkasnya.
PJK terus berupaya menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pembangunan kemandirian ekonomi, sebuah sinergi yang krusial untuk keberlanjutan organisasi dan kontribusinya bagi masyarakat Kutai Timur.




















