PSI: Arena Uji Kekuatan Politik Jokowi Pasca-Kepresidenan
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) kini menjadi pusat perhatian dalam lanskap politik Indonesia, bukan hanya sebagai partai baru yang berupaya menancapkan eksistensinya, tetapi juga sebagai panggung uji coba kekuatan politik mantan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi). Dukungan penuh yang dilontarkan Jokowi untuk PSI, partai yang kini dipimpin oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep, dipandang sebagai sebuah strategi politik yang lebih dalam daripada sekadar pembuktian “kesaktian” politiknya pasca-jabatannya.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno, menganalisis bahwa keterlibatan Jokowi secara terang-terangan dalam mendukung PSI, termasuk komitmennya untuk bekerja keras demi partai tersebut, menandakan sebuah arena baru bagi Jokowi untuk menguji sejauh mana pengaruh politiknya masih bertahan. Pernyataan Jokowi yang berjanji akan “bekerja mati-matian” untuk PSI, seperti yang disampaikannya dalam berbagai forum, termasuk Kongres PSI di Solo pada Juli 2025 dan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar pada Januari 2026, menjadi bukti konkret dari komitmen tersebut.
Keraguan dan Keyakinan Terhadap Pengaruh Politik Jokowi
Munculnya keraguan di kalangan publik mengenai apakah Jokowi masih memiliki “kesaktian” politik seperti dulu adalah hal yang wajar. Rekam jejak Jokowi dalam berbagai kontestasi politik memang fenomenal. Ia berhasil memenangkan dua kali Pemilihan Wali Kota Solo (2005 dan 2010), Pemilihan Gubernur DKI Jakarta (2012), serta dua kali Pemilihan Presiden (2014 dan 2019). Kemenangan demi kemenangan ini membangun citra Jokowi sebagai sosok politik yang sulit dikalahkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah aura kemenangan tersebut masih bisa ditularkan kepada PSI ketika Jokowi tidak lagi memegang jabatan publik tertinggi dan tidak lagi bernaung di bawah partai politik besar seperti PDIP?
Di sisi lain, ada pula pandangan yang meyakini bahwa pengaruh politik Jokowi belum surut sedikit pun. Dukungan yang ia berikan kepada PSI, meskipun tidak lagi dalam kapasitas sebagai presiden, dianggap sebagai sinyal kuat bahwa Jokowi masih memiliki basis dukungan dan kemampuan untuk memobilisasi massa. Keyakinan ini dipegang teguh oleh sebagian kalangan PSI dan pendukungnya.
Namun, Adi Prayitno berpendapat bahwa perdebatan mengenai apakah Jokowi masih “sakti” atau tidak bukanlah inti dari persoalan ini. Ia menekankan bahwa PSI lebih tepat dilihat sebagai arena uji kekuatan politik Jokowi. Dalam konteks ini, keberhasilan PSI, terutama dalam upayanya untuk pertama kalinya menembus parlemen, akan menjadi tolok ukur utama.
PSI Sebagai Medan Uji Coba Politik Jokowi
Adi Prayitno menjelaskan bahwa yang terpenting adalah bagaimana Jokowi akan menggerakkan sumber daya politiknya, membangun jaringan, dan meyakinkan masyarakat melalui PSI. Keberhasilan partai ini dalam pemilu mendatang akan menjadi indikator nyata dari kekuatan politik Jokowi di luar struktur pemerintahan dan partai besar. Ini bukan hanya tentang seberapa besar “kesaktian” personal Jokowi, tetapi lebih pada bagaimana ia mampu menerjemahkan pengaruhnya menjadi dukungan elektoral bagi partai baru.
“Yang di ujung ini tentu adalah uji kekuatan politik Pak Jokowi sebenarnya, dengan scene [adegan] politiknya di PSI. Bagaimana partai ini untuk pertama kalinya lolos ke parlemen, kerja-kerja politik, networking, meyakinkan masyarakat itu tentu adalah kunci bagaimana memenangkan hati masyarakat saat pemilu,” papar Adi.
Jokowi: Komitmen “Habis-habisan” untuk PSI
Jokowi sendiri telah menyatakan komitmennya yang luar biasa untuk mendukung PSI. Dalam Rakernas PSI di Makassar, ia berseru, “Saudara bekerja keras untuk PSI, saya pun akan bekerja keras untuk PSI.” Ia bahkan meningkatkan intensitasnya dengan mengatakan, “Saudara-saudara bekerja mati-matian untuk PSI, saya pun akan bekerja mati-matian untuk PSI,” yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari para peserta. Pernyataan ini ditutup dengan penegasan, “Saudara bekerja habis-habisan untuk PSI, saya pun akan bekerja habis-habisan untuk PSI.”
Dukungan Jokowi untuk PSI bukan hal baru. Sebelumnya, dalam kongres PSI di Solo, ia telah menyatakan dukungan penuh dan berjanji akan bekerja keras. Saat itu, Jokowi juga menyoroti perubahan logo PSI dari tangan dan mawar menjadi gajah, yang ia interpretasikan sebagai simbol ilmu pengetahuan, menandakan bahwa PSI adalah partai yang cerdas dengan anggota yang cerdas.
Arahan Politik, Bukan Sekadar Motivasi
Adi Prayitno juga memberikan pandangannya mengenai pernyataan Jokowi yang mengklaim hadir di Rakernas PSI sebagai “motivator.” Menurut Adi, pidato dan dukungan Jokowi tersebut jauh melampaui sekadar sambutan atau motivasi biasa. Ia menyebutnya sebagai “arahan politik kelas dewa.”
“Makanya kemarin ketika Jokowi memberikan, bukan sambutan bagi saya, itu arahan politik. Arahan, bukan motivasi lagi ya. Kalau dibilang motivator, lebih dari itu gitu. Istilahnya, arahan politik itu kelasnya sudah tingkat dewa,” ujar Adi.
Arahan politik ini, menurut Adi, adalah agar PSI, yang memiliki mimpi besar untuk menjadi partai besar, harus membangun struktur yang kuat dari tingkat pusat hingga akar rumput, termasuk di RT dan RW.
Sebelumnya, Jokowi sendiri mengungkapkan bahwa kehadirannya di Rakernas PSI di Makassar bukan dalam kapasitas struktural, melainkan sebagai penyemangat bagi para kader. “Sebagai motivator,” tutur Jokowi kepada wartawan. Ia menekankan pentingnya peran tersebut di tengah kebutuhan akan partai politik yang membawa nilai positif bagi negara. “Gini, partai ini perlu disemangati karena negara kita memerlukan partai yang baik, memerlukan politik kebaikan, memerlukan politik yang baik,” ungkapnya.
Jokowi juga menyatakan pandangannya bahwa PSI memiliki prospek jangka panjang di Indonesia, bahkan menyebutnya sebagai “masa depan partai politik Indonesia.” Ia pun menegaskan kesanggupannya untuk turun ke daerah demi mendukung PSI dan mendorong seluruh jajaran pengurus untuk bekerja keras demi partai dan pada akhirnya demi negara.
Mengenai peluang PSI dalam kontestasi politik nasional, Jokowi optimis bahwa partai tersebut memiliki peluang untuk lolos ke parlemen dengan struktur dan semangat yang ada saat ini. Namun, ia mengingatkan bahwa target partai tidak boleh berhenti pada pencapaian minimal tersebut. “Ya kalau yang saya lihat, kalau untuk masuk Senayan dengan struktur yang ada sekarang ini, dengan semangat yang ada sekarang ini insyaallah tidak ada masalah. Tapi targetnya bukan itu,” tegas Jokowi.
Komitmen Jokowi untuk PSI, yang diinterpretasikan sebagai uji kekuatan politiknya, serta pandangannya terhadap prospek partai ini, menjadikan PSI sebagai salah satu aktor penting yang patut dicermati dalam dinamika politik Indonesia ke depan.



















