Perdebatan mengenai peran perempuan dalam rumah tangga kerap menjadi topik hangat, terutama di era digital yang memungkinkan pertukaran pandangan secara masif. Di berbagai platform media sosial, perbandingan antara istri yang memiliki karier di luar rumah dengan mereka yang memilih fokus sebagai ibu rumah tangga (IRT) tak jarang memicu diskusi. Ada yang mengagumi kemandirian dan pencapaian finansial istri pekerja, sementara yang lain menyanjung pengabdian penuh waktu dan fokus seorang IRT dalam mengurus keluarga. Namun, dari sudut pandang psikologi keluarga, manakah sebenarnya pilihan yang lebih sehat dan ideal bagi sebuah pernikahan?
Kunci Utama: Kesepakatan, Bukan Status Semata
Menurut seorang psikolog klinis yang berfokus pada anak, remaja, dan keluarga, Roslina Verauli, M.Psi., Psi., kesehatan sebuah unit keluarga tidak dapat diukur semata-mata dari status pekerjaan sang istri. Setiap keluarga, ia menjelaskan, memiliki “resep” kebahagiaan dan kesehatannya sendiri yang unik.
“Model keluarga yang paling sehat adalah pilihan yang sepenuhnya lahir dari kesepakatan bersama antara kedua belah pihak. Ini bukan mengenai pembagian peran yang didasarkan pada stereotipe gender yang sudah ketinggalan zaman,” ujar Verauli.
Implikasinya, sebuah keluarga yang menganut model tradisional, di mana suami berperan sebagai pencari nafkah utama dan istri fokus mengurus rumah tangga, bisa saja tetap memiliki kesehatan mental yang baik. Demikian pula, keluarga dengan model egaliter, di mana suami dan istri sama-sama berbagi tanggung jawab dalam mencari nafkah maupun mengelola urusan rumah tangga, juga berpotensi sehat. Inti dari keharmonisan bukanlah pada ‘apa’ peran yang dijalankan, melainkan pada ‘bagaimana’ peran tersebut disepakati dan dijalani bersama.
Pilihan Berdasarkan Kesadaran Diri, Bukan Paksaan
Seringkali, pilihan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga dipandang memiliki potensi risiko terhadap kesehatan mental perempuan. Namun, Verauli menekankan bahwa menjadi IRT dapat sangat menyehatkan, asalkan pilihan tersebut muncul dari kesadaran diri yang mendalam, bukan karena adanya paksaan atau tekanan dari lingkungan sosial.
Masalah-masalah psikologis dalam sebuah rumah tangga biasanya tidak timbul semata-mata karena istri tidak memiliki penghasilan sendiri. Sebaliknya, masalah sering kali muncul ketika ada aspek-aspek penting dalam relasi pernikahan yang mulai terkikis atau hilang.
“Masalah akan muncul ketika seorang istri merasa kehilangan identitas dirinya, kehilangan daya tawar dalam pengambilan keputusan, atau merasa tidak lagi dihargai dan berharga dalam dinamika pernikahan tersebut,” tambah Verauli. Selama seorang IRT tetap merasa memiliki ruang untuk tumbuh dan berkembang secara pribadi, serta kontribusinya dalam keluarga dihargai, maka kesehatan mental seluruh anggota keluarga kemungkinan besar akan tetap terjaga dengan baik.
Fondasi Rasa Aman Emosional
Verauli juga menggarisbawahi bahwa kesepakatan yang jelas mengenai peran dan tanggung jawab dalam rumah tangga merupakan fondasi utama bagi terciptanya emotional safety atau rasa aman emosional bagi kedua belah pihak. Tanpa adanya kesepakatan yang terdefinisi dengan baik, perbedaan ekspektasi antara suami dan istri dapat menumpuk menjadi kekecewaan yang akhirnya bermuara pada konflik yang berkepanjangan.
Penting untuk diingat bahwa kesepakatan ini bukanlah sesuatu yang kaku dan statis. Pasangan muda di era modern dituntut untuk memiliki fleksibilitas yang tinggi. Mereka perlu bersedia untuk meninjau ulang dan menyesuaikan kembali peran serta tanggung jawab mereka seiring dengan perubahan kondisi yang mungkin terjadi. Perubahan ini bisa meliputi faktor finansial, kehadiran buah hati yang menambah anggota keluarga, hingga kondisi kesehatan salah satu atau kedua belah pihak.
Fleksibilitas Peran di Tengah Tekanan Ekonomi
Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks saat ini, fleksibilitas dalam pembagian peran justru dapat menjadi penyelamat bagi keutuhan rumah tangga. Verauli menyebutkan adanya penelitian yang menunjukkan bahwa pasangan yang mampu berbagi risiko ekonomi secara adil dan menghindari kekakuan dalam memegang peran gender tradisional (gender role rigidity) cenderung memiliki ketahanan pernikahan yang lebih kuat, terutama ketika dihadapkan pada krisis atau masa-masa sulit.
Alih-alih terpaku pada pertanyaan klasik mengenai siapa yang seharusnya mencari uang dan siapa yang bertugas melakukan pekerjaan rumah tangga seperti mencuci piring, pasangan modern didorong untuk secara kolektif mendefinisikan ulang kontribusi masing-masing demi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Pesan Penting untuk Pasangan Muda
Roslina Verauli memberikan pesan penting kepada pasangan muda agar tidak terperangkap dalam standar ideal pernikahan dari masa lalu yang mungkin kini sudah tidak lagi relevan dengan realitas kehidupan modern.
“Pernikahan yang sehat di era modern dibangun di atas fondasi kesepakatan yang tulus antara kedua belah pihak. Ini bukan tentang berusaha memenuhi standar-standar lama yang mungkin sudah usang, melainkan tentang bagaimana menciptakan sebuah sistem baru yang lebih realistis, penuh pengertian, dan dilandasi kasih sayang bagi seluruh anggota keluarga, baik suami, istri, maupun anak-anak,” pungkasnya.



















