Merger Garuda Indonesia dan Pelita Air: Menuju Holding Maskapai BUMN di 2026
Jakarta – Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, yang dikenal sebagai Danantara Indonesia, telah menetapkan target ambisius untuk merampungkan proses merger antara PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dan Pelita Air pada kuartal pertama tahun 2026. Langkah strategis ini diharapkan akan membentuk sebuah holding maskapai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang kuat, dengan Garuda Indonesia berada di garis depan.
Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara, menjelaskan bahwa visi di balik penggabungan ini adalah untuk menyatukan seluruh lini bisnis maskapai ke dalam satu ekosistem yang terintegrasi di bawah naungan Garuda Indonesia. Ia meyakinkan publik bahwa Danantara telah aktif melakukan berbagai perbaikan dan transformasi pada bisnis Garuda Indonesia.
“Pasti kami harus memantau proses transformasi daripada Garuda Indonesia, ini nantinya akan menjadi lebih baik,” ujar Dony dalam sebuah kesempatan di Jakarta, usai menghadiri acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026. Pernyataan ini mengindikasikan komitmen kuat terhadap peningkatan kinerja dan efisiensi operasional maskapai nasional.
Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh Dony adalah jaminan bahwa tidak akan ada pengurangan tenaga kerja pasca-merger. “Makanya proses konsolidasi ini kami menghindari ada pengurangan orang, mereka akan dibawa,” tegasnya. Hal ini menunjukkan bahwa strategi Danantara lebih berfokus pada optimalisasi sumber daya manusia yang ada, bukan pada pemangkasan.
Mengapa Merger Ini Penting? Mencegah Kanibalisme Pasar
Febriany Eddy, Managing Director Non-Financial Holding Operasional Danantara, sebelumnya telah memaparkan alasan mendasar di balik rencana merger kedua maskapai ini. Kunci utama dari penggabungan ini adalah untuk mencegah terjadinya “kanibalisme pasar”, yaitu situasi di mana maskapai-maskapai dalam satu grup justru bersaing secara agresif satu sama lain, sehingga merugikan keseluruhan ekosistem.
“Tadi kuncinya adalah dalam rencananya pasti akan dipastikan untuk tidak saling kanibal. Orang Garuda–Citilink saja kami tidak izinkan, apalagi nanti Pelita,” ujar Febri dalam sebuah kesempatan di Kantor Danantara. Penegasan ini menunjukkan bahwa manajemen sudah memiliki pengalaman dalam mengelola hubungan antar maskapai dalam satu grup, seperti antara Garuda Indonesia dan Citilink, dan akan menerapkan prinsip serupa untuk Pelita Air.
Menurut Febriany, langkah penggabungan usaha ini perlu dieksekusi terlebih dahulu sebelum melangkah ke tahapan-tahapan selanjutnya. Bagian terpenting dari proses streamline atau penyederhanaan ini adalah menghilangkan kompetisi internal yang tidak sehat dan potensi terjadinya kanibalisme pasar.
“Nah bagaimana segmentasinya, branding-nya itu tunggu lah, tunggu,” kata Febri, mengindikasikan bahwa detail mengenai pembagian segmen pasar dan strategi branding akan dirinci lebih lanjut setelah proses merger berjalan. Fokus awal adalah menciptakan fondasi yang kokoh melalui konsolidasi.
Saling Memperkuat: Adopsi Praktik Terbaik
Lebih lanjut, Febriany Eddy juga memberikan pandangan positif mengenai potensi sinergi antar maskapai. Ia menilai bahwa Pelita Air memiliki banyak praktik baik yang dapat diadopsi oleh entitas lain di dalam ekosistem maskapai BUMN.
“Likewise, ada best practice di Citilink dan Garuda yang harus menjadi manfaat dari Pelita Air. Jadi disitu kami saling memperkuat diri,” ungkap Febri. Pernyataan ini menyoroti filosofi win-win solution dalam merger ini, di mana setiap maskapai akan berkontribusi dan mendapatkan manfaat dari keunggulan masing-masing.
Dengan demikian, merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air bukan sekadar penggabungan entitas, melainkan sebuah strategi komprehensif untuk membangun holding maskapai BUMN yang efisien, kompetitif, dan mampu bersaing di kancah domestik maupun internasional. Target rampung pada awal 2026 diharapkan menjadi tonggak baru bagi industri penerbangan nasional.



















