Di bawah terik matahari Bangka Belitung, Suroto, seorang pengrajin bata merah berusia 50 tahun, dengan tekun menjalankan roda usahanya di bawah naungan pondok beratap daun rumbia. Dengan balutan kaus sederhana dan celana pendek, tangannya yang cekatan mengolah tanah liat yang tertumpuk di belakang pondok. Prosesnya berulang: diaduk, dibentuk, dicetak, dijemur di bawah sinar matahari, hingga akhirnya dibakar menggunakan kayu api. Sang istri setia mendampingi, memastikan setiap tahapan produksi berjalan lancar.
Usaha bata merah yang telah digeluti Suroto selama dua dekade ini menjadi saksi bisu ketekunan dan perjuangan hidupnya. Berlokasi di Dusun III, Desa Belo Laut, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, usahanya tak hanya menjadi sumber mata pencaharian, tetapi juga harapan bagi warga sekitar.
Setiap harinya, Suroto mampu mencetak sekitar 1.000 bata merah dengan ukuran standar 20×10 cm, dan juga 800 unit batako. Ia menjelaskan bahwa fokus usahanya saat ini hanya pada bata merah dan batako. Produksi genteng yang dulu sempat ia jalani, kini terpaksa dihentikan karena menurunnya minat pembeli.
“Sekarang usaha saya fokus pada bata merah dan batako. Genteng sudah tidak lagi diproduksi karena peminat menurun,” ungkapnya.
Alasan di balik pergeseran fokus produksi ini cukup mendasar. Menurut Suroto, genteng membutuhkan banyak bahan pendukung seperti kayu dan reng, yang pada akhirnya meningkatkan biaya pemasangan secara signifikan. Berbeda dengan atap asbes yang dinilai lebih praktis, cepat dipasang, dan lebih hemat biaya.
Meskipun bahan baku utama, yakni tanah liat, dan proses pembuatannya relatif sama, harga jual bata merah dan batako saat ini berada di kisaran Rp 2.200 per unit. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan genteng yang dulu ia jual seharga Rp 2.000 per biji. Namun, ia mengakui bahwa jumlah pembeli bata merah dan batako saat ini memang belum terlalu banyak.
“Bahan tetap tanah liat, cuma cetakan dan cara membuatnya berbeda. Sekarang hanya fokus bata merah dan batako, pembelinya memang kurang,” keluhnya.
Harapan untuk Kelangsungan Usaha dan Kesejahteraan Masyarakat
Suroto mengungkapkan harapannya agar usaha-usaha kecil seperti miliknya dapat terus bertahan. Keberlangsungan usaha ini penting untuk menjaga peluang kerja bagi warga di sekitarnya. Ia juga menyoroti permasalahan pengangguran yang tinggi, terutama di kalangan anak muda, akibat terbatasnya lapangan pekerjaan.
“Harapan saya ada program gentengisasi untuk membantu masyarakat. Banyak anak muda ingin ikut bekerja, tapi mencari pekerjaan susah,” katanya.
Dukungan terhadap gagasan peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui program gentengisasi juga datang dari Pemerintah Desa Belo Laut. Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) setempat, Suhaidir, atau yang akrab disapa Kojek, menegaskan dukungan penuh pemerintah desa terhadap program tersebut, yang ia yakini merupakan bagian dari kebijakan pemerintah pusat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
“Dulu banyak pabrik atau usaha genteng di Desa Belo Laut. Sekarang sebagian hanya bertahan dengan bata merah dan batako karena operasional dan daya beli masyarakat menurun. Sebagian beralih ke asbes dan seng,” jelas Kojek.
Saat ini, tercatat masih ada sekitar tiga hingga empat lokasi produksi bata merah dan batako yang beroperasi di Desa Belo Laut. Kojek meyakini bahwa produksi genteng masih memiliki potensi untuk dikembangkan, terutama jika ada program pemberdayaan dari pemerintah yang diterapkan secara luas dan efektif.
“Kami mendukung gentengisasi. Jika ada pengusaha atau perusahaan yang memproduksi genteng lagi, yang penting bisa mengakomodir biaya dan mengurangi pengangguran di Desa Belo Laut,” tutupnya.
Wacana Gentengisasi: Antara Potensi dan Tantangan Budaya Lokal
Di sisi lain, wacana gentengisasi yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto turut mendapat perhatian dari pemerhati budaya. Wahyu Kurniawan, Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Belitung, menilai gagasan tersebut positif, namun menekankan pentingnya memperhatikan aspek budaya dan regulasi lokal dalam implementasinya.
“Gagasan Presiden bagus, tapi dalam praktiknya harus tetap memperhatikan Undang-Undang Kebudayaan,” ujarnya.
Wahyu menjelaskan bahwa setiap daerah memiliki kekhasan arsitektur tradisionalnya masing-masing. Di Belitung, terdapat Peraturan Daerah (Perda) Bangunan Gedung yang secara spesifik menekankan pentingnya menjaga kekhasan arsitektur lokal.
“Sejarah mencatat bangunan beratap genteng baru muncul abad ke-20, terutama pada bangunan kolonial dan beberapa rumah bangsawan dari Palembang. Secara budaya, genteng bukan tradisi lokal,” paparnya.
Oleh karena itu, Wahyu menyarankan agar program gentengisasi sebaiknya dimulai dari bangunan milik pemerintah, seperti kantor dinas atau bangunan nasional yang memiliki jejak kolonial, sebagai langkah awal untuk menjadi contoh dan inspirasi. Penerapan secara langsung ke seluruh masyarakat dinilai kurang tepat karena teknik pembangunan rumah dengan genteng belum dikenal luas dan masyarakat perlu adaptasi.
“Kalau dipaksakan, tidak membudaya. Teknik pembangunan rumah dengan genteng belum dikenal di sini, masyarakat harus belajar dulu,” tegasnya.
Selain pertimbangan budaya, ketersediaan dan harga material menjadi faktor penting lainnya. Wahyu menyoroti bahwa genteng belum diproduksi secara luas di Belitung, sehingga harganya berpotensi melonjak tinggi. Ia mencontohkan pengalaman saat pemugaran museum, di mana harga genteng cukup mahal karena harus didatangkan dari luar daerah.
Meskipun demikian, Wahyu melihat adanya potensi produksi lokal jika material genteng dikembangkan. Belitung memiliki bahan baku bata merah yang melimpah, meskipun diperlukan kajian lebih lanjut mengenai kesesuaian jenis tanah liat untuk produksi genteng.
Keunggulan genteng juga terlihat dari daya tahan materialnya yang tinggi. Ia memberikan contoh atap Museum Tanjungpandan di Belitung yang dibangun pada tahun 1910. Hingga tahun 2026, genteng di museum tersebut masih utuh, meskipun sebagian telah diganti untuk presisi.
“Genteng asli masih ada, terlihat dari tulisan Tan Liok Tiaw Batavia Java dan Fabriek Tan Liok Tiaw Tangerang. Hanya warnanya berubah karena lumut, tapi fisiknya tetap kokoh. Belitung tidak pernah memproduksi genteng sendiri; semua berasal dari Tangerang, atap perabong dari Palembang,” ungkapnya.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun Belitung tidak memiliki sejarah produksi genteng lokal, material tersebut telah terbukti memiliki kualitas dan daya tahan yang baik, serta dapat menjadi alternatif jika dikembangkan dengan dukungan dan kajian yang tepat.



















