Tragedi Sungai Melawi: Dua Anak Ditemukan Meninggal, Pencarian Satu Korban Lanjut
Sintang, Kalimantan Barat – Kehilangan dua nyawa akibat tenggelam di Sungai Melawi menjadi duka mendalam bagi masyarakat Sintang. Tim SAR gabungan pada Jumat, 13 Februari 2025, berhasil menemukan jenazah korban kedua yang tenggelam. Korban kedua ini diketahui berinisial DR, seorang pelajar sekolah dasar, ditemukan dalam kondisi terapung tidak jauh dari lokasi terakhir kali ia terlihat sebelum tenggelam.
Sebelumnya, pada hari yang sama, tim SAR juga telah menemukan jenazah korban pertama yang berinisial ANG. Kedua jenazah kini telah disemayamkan di rumah duka masing-masing, meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.
Upaya pencarian oleh tim SAR gabungan masih terus berlanjut untuk menemukan satu lagi anak yang dilaporkan hilang dan diduga tenggelam di Sungai Melawi.
Peristiwa tragis ini bermula pada Kamis, 12 Februari 2026, sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB. Tiga anak dilaporkan hilang dan diduga tenggelam di kawasan Jalan Teuku Umar RT 07 RW 02, Kelurahan Ladang, Sintang.
Kronologi Kejadian yang Mengerikan
Menurut keterangan seorang saksi mata bernama Raihan, saat kejadian ia sedang duduk di sebuah kafe yang berlokasi di tepi Sungai Melawi. Dari posisinya, Raihan melihat tiga orang anak sedang berenang di tengah sungai. Tiba-tiba, ketiga anak tersebut tampak memberikan isyarat seperti meminta pertolongan.
Tanpa pikir panjang, Raihan secara spontan berenang menuju tengah sungai untuk memberikan pertolongan. Berkat keberanian dan kesigapan Raihan, dua orang anak berhasil diselamatkan dari keganasan arus sungai.
“Secara spontan Raihan berenang ke tengah sungai dan berhasil menyelamatkan dua orang,” ujar Kapolres Sintang AKBP Sanny Handityo melalui Kapolsek Sintang Kota IPTU Heru Woldy.
Dua anak yang berhasil diselamatkan oleh Raihan masing-masing berinisial SEP dan KIM. Keduanya dilaporkan selamat dari insiden tersebut.
Namun, setelah dilakukan pendataan lebih lanjut dan berdasarkan keterangan dari orang tua anka bernama KIM, ternyata ada tiga teman anaknya yang belum berhasil diselamatkan dan diduga kuat telah tenggelam. Ketiga anak yang dilaporkan hilang tersebut adalah ANG, FEN, dan DIR.
Proses Pencarian dan Identifikasi Korban
Begitu laporan diterima, tim SAR gabungan yang terdiri dari berbagai unsur, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Basarnas, Kepolisian, TNI, serta relawan, segera dikerahkan ke lokasi kejadian. Operasi pencarian dilakukan dengan fokus di area sekitar titik terakhir korban terlihat hingga ke hilir sungai.
Pencarian pada hari pertama, Kamis (12/2/2026), belum membuahkan hasil. Arus sungai yang cukup deras dan kondisi cuaca yang kurang mendukung menjadi kendala dalam upaya pencarian.
Memasuki hari kedua, Jumat (13/2/2025), semangat tim SAR tidak padam. Mereka melanjutkan operasi dengan strategi yang lebih terarah. Sekitar pukul 10.00 WIB, tim SAR berhasil menemukan jenazah korban pertama, ANG, dalam kondisi terapung. Penemuan ini memberikan sedikit kelegaan namun juga menambah kesedihan mendalam bagi keluarga yang menanti.
Tidak berselang lama, pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB, tim SAR kembali menemukan jenazah korban kedua, DR. Penemuan jenazah DR ini memperkuat dugaan bahwa ketiga anak yang dilaporkan hilang memang menjadi korban tenggelam.
Dua Jenazah Telah Diserahkan, Satu Masih Dicari
Setelah berhasil dievakuasi, kedua jenazah, ANG dan DR, segera dibawa ke daratan. Proses identifikasi awal dilakukan oleh tim medis. Setelah dipastikan identitasnya, kedua jenazah kemudian diserahkan kepada pihak keluarga untuk segera dimakamkan sesuai dengan adat yang berlaku.
Sementara itu, pencarian terhadap satu korban lagi yang belum ditemukan, FEN, masih terus dilakukan. Tim SAR gabungan tetap berupaya keras dengan menyisir seluruh area yang dicurigai menjadi lokasi terakhir korban terlihat. Mereka berharap dapat segera menemukan FEN agar keluarga yang masih diliputi kecemasan dapat menemukan kejelasan.
Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar bantaran sungai, untuk selalu meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak dihimbau untuk tidak bermain atau berenang di sungai tanpa pengawasan orang dewasa, terutama di area yang memiliki arus deras atau kedalaman yang tidak diketahui. Keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Tragedi ini menjadi pengingat pentingnya edukasi keselamatan air dan pentingnya pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak-anak, terutama di dekat perairan.

















