Prakiraan Cuaca Jawa Tengah: Hujan Ringan Mendominasi, Waspadai Peralihan Musim
Jawa Tengah, April 2026 – Warga Jawa Tengah diimbau untuk bersiap menghadapi kondisi cuaca yang beragam pada hari Rabu, April 2026. Berdasarkan prakiraan cuaca terkini, sebagian besar wilayah Jawa Tengah diprediksi akan diguyur hujan ringan, sementara beberapa daerah lainnya akan menikmati cuaca cerah berawan. Peralihan menuju musim kemarau juga menjadi perhatian, sehingga kewaspadaan perlu ditingkatkan.
Informasi ini disampaikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang. Untuk memastikan aktivitas harian tidak terganggu, masyarakat disarankan untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sesuai dengan prediksi cuaca di daerah masing-masing.
Prediksi Cuaca Lengkap untuk Besok:
Hujan Ringan Diprakirakan Melanda di 28 Wilayah:
- Banjarnegara
- Banyumas
- Batang
- Boyolali
- Brebes
- Cilacap
- Demak
- Grobogan
- Jepara
- Karanganyar
- Kendal
- Klaten
- Kota Pekalongan
- Kota Magelang
- Kota Salatiga
- Kota Semarang
- Kota Tegal
- Magelang
- Pekalongan
- Purbalingga
- Purworejo
- Semarang
- Sragen
- Sukoharjo
- Tegal
- Temanggung
- Wonogiri
- Wonosobo
Tujuh Wilayah Diprediksi Cerah Berawan:
- Blora
- Kebumen
- Kota Surakarta
- Kudus
- Pati
- Rembang
Suhu udara diperkirakan akan berkisar antara 16 hingga 33 derajat Celcius, dengan kecepatan angin rata-rata antara 5 hingga 11 kilometer per jam.
Antisipasi Puncak Kemarau dan Kesiapan Distribusi Air Bersih
BMKG memproyeksikan puncak musim kemarau di Jawa Tengah akan terjadi pada bulan Agustus hingga September 2026. Menanggapi potensi kekeringan yang mungkin timbul, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mengklaim telah menyiapkan stok air bersih sebanyak 123 juta liter yang siap didistribusikan ke 18 kabupaten/kota yang berpotensi terdampak.
Namun demikian, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyatakan bahwa distribusi air bersih tersebut berpotensi terkendala oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi. Pihaknya tengah melakukan kajian dan perhitungan terkait biaya distribusi mengingat kondisi tersebut.
“Kami masih melakukan kajian dan penghitungan terkait biaya distribusi mengingat adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi,” ujar Bergas dalam keterangan tertulis seusai rapat koordinasi pengendalian operasional kegiatan (POK) triwulan I-2026 di Kantor Gubernur Jawa Tengah, Kota Semarang, pada Senin, 4 Mei 2026.
Bergas juga menambahkan bahwa informasi dari BMKG mengindikasikan pengaruh fenomena El Nino pada tahun 2026 akan menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang di Jawa Tengah. Ancaman kekeringan tahun ini diprediksi tidak jauh berbeda dengan puncak kemarau ekstrem yang terjadi pada tahun 2019 dan 2023.
“Kemarau mulai terjadi di Jawa Tengah pada Juni mendatang,” ungkapnya.
Sebaran Ketersediaan Air Bersih di Jawa Tengah:
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah memetakan ketersediaan air bersih di berbagai daerah. Klaten tercatat memiliki stok air bersih terbanyak, disusul oleh beberapa kabupaten lainnya.
Daerah dengan Ketersediaan Air Bersih Terbanyak:
- Klaten: 57,6 juta liter
- Boyolali: 13,4 juta liter
- Kabupaten Semarang: 12,9 juta liter
- Blora: 5,1 juta liter
- Purworejo: 5,06 juta liter
- Wonosobo: 5 juta liter
- Purbalingga: 4,4 juta liter
- Wonogiri: 3,7 juta liter
- Banjarnegara: 3,6 juta liter
- Grobogan: 3,1 juta liter
Di sisi lain, beberapa daerah melaporkan ketersediaan air bersih yang lebih rendah:
- Batang: 331 ribu liter
- Kota Salatiga: 250 ribu liter
- Demak: 150 ribu liter
- Kabupaten Pekalongan: 80 ribu liter
Terdapat pula beberapa daerah yang tidak melaporkan ketersediaan air bersihnya karena merasa tidak pernah terdampak kekeringan, seperti Kota Solo dan Kota Magelang.
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menegaskan bahwa penanganan masalah kekeringan akan dilakukan secara bersama-sama, termasuk melalui pelibatan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
“Kami akan koordinasikan lagi termasuk dengan beberapa pelibatan BUMD juga akan kami kondisikan agar dampak kemarau bisa dikurangi termasuk dampak ke swasembada pangan,” jelasnya.
Langkah-langkah antisipatif ini diharapkan dapat meminimalkan dampak kekeringan dan menjaga ketahanan pangan di seluruh wilayah Jawa Tengah.




