🔥 TERKINI

Asap Masih Mengepul: Pemadaman Karhutla Desa Sokoi Berlanjut

Hendra Oleh: Hendra
5 dilihat
Selasa, 09 Juni 2026 - 15:47 WIB • Waktu baca: 5 menit
Iklan Atas Artikel (Before Content)

Upaya Intensif Pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan di Pelalawan Berlanjut

PELALAWAN – Perjuangan melawan api yang melalap hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, Riau, kembali dilanjutkan dengan intensitas tinggi pada Selasa, Juni 2026. Meskipun telah berupaya keras sejak Kamis, 28 Mei 2026, setelah api pertama kali terdeteksi pada Rabu, 27 Mei 2026, lahan yang terbakar belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

Upaya pemadaman ini melibatkan kolaborasi dari tim udara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Riau. Keduanya mengerahkan helikopter Water Bombing (WB) yang secara rutin menjatuhkan bom air dari udara. Namun, meskipun telah digempur oleh helikopter WB setiap hari, api belum menunjukkan tanda-tanda padam total.

Kepala BPBD Pelalawan, Zulfan, M.Si., menjelaskan situasi terkini pada Selasa, Juni 2026. “Hari ini api sudah padam, tapi masih berasap. Ada beberapa titik asap yang harus ditangani tim di lapangan,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sejak awal, api yang membakar semak belukar dan kebun sawit ini telah terpantau dengan seksama. Prioritas utama dalam penanganan adalah menggunakan kekuatan udara melalui helikopter WB.

Keputusan untuk tidak mengirimkan tim pemadam darat pada tahap awal didasari oleh pertimbangan logistik. Jarak tempuh menuju lokasi yang sangat jauh dan kondisi medan yang sulit dijangkau menjadi kendala signifikan.

Namun, pada Sabtu, 30 Mei 2026, situasi mulai berubah dengan kedatangan tim Manggala Agni di lokasi Karhutla. Kehadiran mereka membawa harapan baru dengan dilengkapi peralatan yang memadai untuk melakukan pemadaman darat. Bersamaan dengan upaya darat ini, helikopter WB tetap memberikan dukungan krusial dengan terus menjatuhkan bom air dari udara. Kombinasi kedua metode ini akhirnya membuahkan hasil, dan kobaran api yang ganas berhasil dijinakkan.

Meskipun api utama telah berhasil dikuasai, tim masih menghadapi tantangan dalam proses pendinginan dan memastikan tidak ada bara api yang tersisa. “Luas lahan yang terbakar belum bisa dihitung karena tim Manggala masih fokus pada pemadaman dan pendinginan. Mudah-mudahan hari ini clear,” terang Zulfan, optimis bahwa situasi akan segera sepenuhnya terkendali.

Saat ini, titik api di Kabupaten Pelalawan masih terpusat di Desa Sokoi, yang telah menjadi fokus penanganan selama enam hari terakhir. Wilayah lain di Pelalawan dilaporkan nihil titik api, menunjukkan keberhasilan upaya pencegahan dan penanganan yang telah dilakukan di area tersebut.

Tantangan dan Strategi Penanganan Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, khususnya di wilayah seperti Riau, merupakan fenomena tahunan yang membawa dampak buruk bagi lingkungan, kesehatan, dan perekonomian. Desa Sokoi, Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan, menjadi salah satu bukti nyata betapa kompleksnya penanganan Karhutla ini.

Faktor-faktor yang Memperparah Kondisi:

  • Kondisi Geografis: Lokasi yang sulit dijangkau, seperti rawa-rawa atau lahan gambut yang dalam, membuat akses tim darat menjadi sangat terbatas. Hal ini memaksa ketergantungan pada metode pemadaman udara.
  • Cuaca: Musim kemarau yang berkepanjangan dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api dan mempersulit upaya pemadaman.
  • Jenis Vegetasi: Kebakaran lahan gambut memiliki karakteristik unik. Gambut yang kering dapat terbakar dari bawah permukaan, menciptakan bara api yang sulit ditemukan dan dipadamkan, bahkan setelah api di permukaan padam.

Sinergi Antar Lembaga:

Keberhasilan dalam penanganan Karhutla sangat bergantung pada koordinasi dan sinergi yang kuat antara berbagai lembaga. Dalam kasus ini, terlihat jelas kolaborasi antara:

  1. BNPB: Sebagai lembaga pemerintah pusat yang memiliki kewenangan dan sumber daya untuk memberikan dukungan operasional, termasuk pengerahan aset udara seperti helikopter Water Bombing.
  2. BPBD Provinsi Riau: Bertindak sebagai perpanjangan tangan BNPB di tingkat provinsi, mengkoordinasikan upaya pemadaman di lapangan dan melaporkan perkembangan kepada pusat.
  3. BPBD Pelalawan: Memiliki peran krusial dalam pemantauan dini, mobilisasi sumber daya lokal, dan koordinasi dengan tim di lapangan.
  4. Manggala Agni: Unit pemadam kebakaran hutan dan lahan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang memiliki keahlian khusus dalam penanganan Karhutla, termasuk dalam menghadapi medan sulit dan melakukan pemadaman darat.

Metode Pemadaman:

  • Water Bombing (WB): Merupakan metode efektif untuk menjangkau area yang sulit diakses oleh tim darat. Helikopter menjatuhkan ribuan liter air yang dapat memadamkan api di permukaan dan mendinginkan area yang terbakar.
  • Pemadaman Darat: Melibatkan tim yang bergerak langsung ke titik api menggunakan peralatan seperti selang air, pompa, dan alat pemotong vegetasi. Metode ini penting untuk memadamkan bara api yang tersisa dan membuat sekat bakar guna mencegah perluasan api.
  • Patroli dan Pemantauan: Kegiatan pemantauan titik api secara rutin menggunakan teknologi seperti satelit dan drone, serta patroli rutin oleh tim darat, sangat penting untuk deteksi dini dan respons cepat.

Dampak Karhutla dan Upaya Pencegahan

Dampak Karhutla tidak hanya terbatas pada kerugian materiil akibat rusaknya lahan dan vegetasi. Asap yang dihasilkan dapat menyebar ke wilayah yang luas, menyebabkan masalah kesehatan serius seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pernapasan, dan iritasi mata. Selain itu, Karhutla juga berdampak pada penurunan kualitas udara, gangguan transportasi udara, dan kerugian ekonomi akibat terganggunya aktivitas perkebunan dan pariwisata.

Oleh karena itu, upaya pencegahan menjadi kunci utama dalam mengatasi masalah Karhutla. Beberapa strategi pencegahan yang dapat dilakukan meliputi:

  • Edukasi Masyarakat: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya Karhutla dan praktik pengelolaan lahan yang aman, seperti larangan membakar lahan untuk pembukaan perkebunan.
  • Penegakan Hukum: Memberikan sanksi tegas bagi pelaku pembakaran lahan ilegal.
  • Pengelolaan Lahan Gambut: Menerapkan teknik pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan untuk menjaga kelembaban dan mengurangi risiko kebakaran.
  • Sistem Peringatan Dini: Mengembangkan dan memperkuat sistem peringatan dini Karhutla yang responsif dan akurat.

Kasus di Desa Sokoi menjadi pengingat bahwa perjuangan melawan Karhutla memerlukan komitmen jangka panjang, kolaborasi yang solid, dan kesadaran kolektif dari seluruh elemen masyarakat.

Tinggalkan Tanggapan

Indeks Berita →