Oranje Manado: Jurnalis di Balik Lensa

Diposting pada

Jejak Oranye di Tanah Minahasa: Kisah Cinta Abadi Warga Manado pada Timnas Belanda

Minahasa, tanah yang kaya akan sejarah dan budaya, menyimpan kisah unik yang terjalin erat dengan Negeri Kincir Angin, Belanda. Jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, wilayah ini memiliki kedekatan yang mendalam dengan Belanda, bahkan sempat diusulkan menjadi provinsi ke-12 mereka. Namun, sejarah mencatat bahwa bangsa Minahasa memilih untuk melebur dalam bingkai Indonesia, melahirkan para pahlawan gigih yang membela kedaulatan bangsa. Meski demikian, jejak Belanda tetap sulit terhapus dari Manado, ibu kota Provinsi Sulawesi Utara. Bukti nyata dari kedekatan ini dapat dilihat dari berbagai aspek, mulai dari kuliner khas seperti klapertart, sapaan akrab “mener” untuk guru dan “Noni” untuk wanita, hingga fenomena yang semakin menguat menjelang setiap gelaran Piala Dunia: popularitas tim nasional Belanda.

Menjelang Piala Dunia 2026, sentra penjualan bendera negara peserta Piala Dunia di Manado mulai diramaikan oleh permintaan bendera Belanda. Merah, putih, biru, warna kebanggaan Oranje, diperkirakan akan kembali berkibar megah di berbagai sudut kota, meskipun tanpa iringan lagu kebangsaan Wilhelmus Van Nassau. Fenomena ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah tradisi yang telah mengakar kuat, terutama di Kelurahan Sindulang 1, Kecamatan Tuminting, Kota Manado.

Sindulang 1: “Kampung Oranje” di Tepi Pantai

Selama perhelatan Piala Dunia, khususnya saat Qatar 2022 lalu, area tepi pantai di Sindulang 1, Lingkungan 1, berubah total. Lautan merah, putih, dan biru mendominasi pemandangan, dari pinggir pantai, lorong-lorong sempit, hingga halaman rumah penduduk. Bendera Belanda berkibar di mana-mana, menjadi saksi bisu kecintaan warga terhadap timnas negara Eropa tersebut.

Salah satu pemandangan paling mencolok adalah pemasangan bendera Belanda berukuran raksasa, tujuh kali empat meter, di tepi pantai. Di bawahnya, sebuah pondok sederhana didirikan, menjadi markas para penggemar timnas Belanda di kawasan tersebut. Ya, sebagian besar warga Sindulang 1, Lingkungan 1, adalah pengagum berat timnas Belanda.

Ikatan Darah dan Sejarah: Lebih dari Sekadar Penggemar

Hubungan antara warga Sindulang 1 dengan Belanda tidak hanya sebatas kekaguman pada sepak bola. Bagi banyak dari mereka, ikatan ini sudah mendarah daging, bahkan terjalin melalui keturunan. Beberapa warga di Sindulang 1 ternyata memiliki darah keturunan Belanda (Borgo), dan hubungan mereka dengan sanak saudara yang masih berada di Belanda terjalin sangat baik.

Robert Tawaris (62), salah seorang warga, menceritakan kisah neneknya yang merupakan keturunan Borgo Belanda. Neneknya menikah dengan warga Suriname dan sempat bermukim di sana. Meskipun telah meninggal, sang nenek kerap berkunjung ke Manado, bahkan melancong ke Bunaken. Sebelum kembali ke Suriname, neneknya selalu memberikan uang kepada cucu-cucunya di Manado.

Lebih jauh lagi, sang nenek bahkan membiayai pernikahan Robert dan sebelas saudaranya dengan uang Gulden Belanda. Ia selalu berupaya agar cucu-cucunya tidak melupakan Belanda. Salah satu caranya adalah dengan meminta mereka untuk mendukung timnas Belanda. “Karena itu kami dukung mati-matian timnas Belanda,” ungkap Robert sambil tersenyum.

Robert menatap Piala Dunia kali ini dengan optimisme tinggi. Ia merasa sudah saatnya Belanda tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi juara. Ia memuji komposisi tim saat ini, menyebut nama-nama seperti Frankie De Jong di lini tengah, Van Dijk dan Mathijs de Ligt di pertahanan, serta Memphis Depay dan striker muda Cody Gakpo di lini serang.

Asman: Sang Ketua Fans dengan Jiwa Oranje

Asman (73), ketua Fans Belanda di Sindulang, adalah sosok yang tak kalah bersemangat. Sebelum diwawancarai, ia sempat bertukar pakaian dan kembali dengan jaket oranye kebanggaannya. Di bagian belakang jaketnya terdapat tanda tangan seorang talent scouting asal Belanda. Ia juga menunjukkan foto dirinya mengenakan dasi berwarna oranye di ponselnya.

Asman menjelaskan bahwa banyak warga di Sindulang memiliki marga Belanda, seperti Antoni, Vanderslot, Lefrand, dan lain-lain. Mereka memiliki keluarga di Belanda, begitu pula Asman yang memiliki saudara jauh di negeri tersebut.

Baginya, kemeriahan Piala Dunia saat Belanda bermain ibarat sebuah pesta. Warga berkumpul, bersuka ria, dan menonton bareng, terutama saat tim kesayangan mereka meraih kemenangan. Ia bercerita, pernah suatu ketika Belanda absen dari Piala Dunia, suasana kampung terasa sepi, seolah menjadi “kampung mati”.

Demi kecintaannya pada Belanda, Asman tidak ragu mengeluarkan kocek dalam. Ia mengaku pernah menghabiskan lima juta rupiah hanya untuk memasang bendera. Ia berjanji akan menaikkan bendera Belanda lebih tinggi lagi jika timnas lolos ke babak 16 besar.

Cinta Asman kepada timnas Belanda bersifat tanpa syarat. “Meski mereka kalah kami tetap dukung karena ada kedekatan historis antara kami dengan timnas Belanda,” tegasnya. Kecintaan ini bahkan pernah membuatnya nekat. Saat timnas Belanda bertandang ke Indonesia, ia rela pergi ke Jakarta. Begitu pula ketika PSV Eindhoven, klub papan atas Belanda, tampil di Manado, ia menjadi salah satu yang pertama tiba di stadion.

Asman juga menyerukan kepada seluruh keluarga keturunan Belanda di Manado untuk mendoakan perjuangan Frankie De Jong dan kawan-kawan di Piala Dunia kali ini. “Mari kita bawa Belanda dalam doa,” ajaknya dengan penuh harap.

Kisah warga Sindulang 1 ini menjadi cerminan unik dari perpaduan identitas dan kecintaan yang melampaui batas geografis dan sejarah. Di tanah Minahasa, semangat Oranje terus berkobar, mewarnai setiap momen penting sepak bola dunia dengan semangat persaudaraan yang tak lekang oleh waktu.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan