Dodi Simangunsong: Pancasila & Gen Z, Menelisik Akar Sejarah Bangsa

Diposting pada

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Medan dari Fraksi Partai Demokrat, Dodi Robert Simangunsong SH, baru-baru ini menggelar sebuah kegiatan sosialisasi yang sangat penting. Bertempat di Jalan Pulau Harapan, Kecamatan Medan Kota, pada hari Sabtu, 30 Mei 2026, acara ini secara khusus difokuskan pada Pembinaan Ideologi Pancasila dan Wawasan Kebangsaan. Sasaran utama dari kegiatan ini adalah Generasi Z dan generasi setelahnya, yang dikenal sebagai Post-Z. Tujuan penyelenggaraannya adalah untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai ideologi negara di tengah arus deras digitalisasi dan globalisasi yang terus berkembang pesat.

Dalam sesi paparannya yang mendalam, Dodi Robert Simangunsong menekankan betapa krusialnya bagi generasi muda untuk memiliki pemahaman yang utuh mengenai historisitas Pancasila. Menurut pandangannya, pemahaman yang kokoh mengenai seluruh proses yang dilalui, mulai dari kelahiran, perumusan, hingga akhirnya penetapan Pancasila sebagai dasar negara, merupakan fondasi yang paling utama. Fondasi ini sangat penting dalam upaya menangkal berbagai ancaman, seperti radikalisme yang semakin mengkhawatirkan dan degradasi moral yang kerap melanda kalangan remaja saat ini.

“Generasi Z dan Post-Z ini adalah para pemegang kemudi yang akan menentukan arah masa depan bangsa kita. Mereka harus benar-benar memahami bahwa Pancasila bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja, melainkan hasil dari proses dialektika yang sangat mendalam dari para pendiri bangsa yang berhasil menyatukan seluruh keberagaman yang ada di Indonesia,” ujar Dodi dengan penuh keyakinan.

Sebagai seorang legislator dari Partai Demokrat di Kota Medan, Dodi membedah tiga fase yang dianggap paling krusial dalam sejarah pembentukan Pancasila. Pembahasan ini disampaikan secara rinci kepada seluruh peserta yang hadir.

Tiga Fase Kunci dalam Sejarah Pancasila

  1. Fase Kelahiran Pancasila:
    Fase ini merujuk pada momen bersejarah ketika Ir. Soekarno menyampaikan pidatonya yang legendaris pada tanggal 1 Juni 1945. Pidato tersebut disampaikan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang pertama. Dalam pidato inilah, untuk pertama kalinya, istilah “Pancasila” dicetuskan dan diperkenalkan sebagai gagasan dasar negara.

  2. Fase Perumusan Pancasila:
    Setelah gagasan awal muncul, dilanjutkan dengan fase perumusan yang lebih mendalam. Proses pematangan materi Pancasila ini dilakukan oleh sebuah badan khusus yang dikenal sebagai Panitia Sembilan. Hasil dari kerja keras mereka adalah lahirnya Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada tanggal 22 Juni 1945, yang menjadi langkah penting dalam penyempurnaan naskah dasar negara.

  3. Fase Penetapan Pancasila:
    Fase terakhir dan paling menentukan adalah penetapan final Pancasila. Pengesahan akhir ini tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945, yang dilakukan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada tanggal 18 Agustus 1945. Momen ini menandai secara resmi Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia.

Dodi menilai bahwa pengangkatan kembali visualisasi dan narasi sejarah ini sangat disengaja. Tujuannya adalah agar generasi muda tidak sampai kehilangan “obor sejarah” mereka, yaitu pemahaman yang kuat tentang akar dan nilai-nilai yang membentuk bangsa ini. Sesi interaktif pun dibuka lebar untuk memfasilitasi antusiasme para peserta yang menunjukkan sikap kritis dan keingintahuan yang tinggi.

Acara yang berlangsung dengan tertib ini juga tidak lupa menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi di era media sosial. Dodi secara khusus mengajak para peserta untuk memanfaatkan teknologi digital yang ada. Ia mendorong mereka untuk aktif menyebarkan konten-konten positif yang mampu mencerminkan nilai-nilai luhur bangsa, seperti semangat gotong royong dan toleransi antar sesama.

“Media sosial harus kita banjiri dengan narasi-narasi yang membangun persatuan, bukan narasi yang justru menimbulkan perpecahan. Pancasila sejatinya adalah alat pemersatu yang paling ampuh, yang telah membuat Indonesia tetap kokoh berdiri hingga hari ini,” tegas Dodi.

Kegiatan sosialisasi ini turut dihadiri oleh berbagai elemen penting di masyarakat setempat. Tampak hadir Lurah Sitirejo I Kecamatan Medan Kota beserta seluruh jajaran kepala lingkungan (kepling) yang ada di wilayah tersebut. Selain itu, hadir pula para tokoh masyarakat dan ratusan pemuda setempat yang antusias mengikuti jalannya acara.

Kegiatan sosialisasi ini diakhiri dengan sebuah komitmen bersama yang kuat. Komitmen ini datang dari seluruh aparatur kelurahan dan para tokoh pemuda setempat. Mereka berjanji untuk bersama-sama mengawal implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Kecamatan Medan Kota, demi terciptanya masyarakat yang berlandaskan pada ideologi negara yang telah disepakati bersama.

Gambar Gravatar
Luna merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan