BEM SI Tegaskan Tidak Akan Melakukan Demo Tanpa Persiapan Matang
Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mengambil sikap terkait isu rencana demonstrasi besar pada Agustus 2026. Koordinator Pusat BEM SI periode 2026-2027, Andira Yofi Sulendra, menyatakan bahwa hingga saat ini organisasi tersebut belum menentukan apakah akan melakukan aksi turun ke jalan.
Andira menjelaskan bahwa BEM SI sedang melakukan konsolidasi setelah Musyawarah Nasional (Munas). Proses konsolidasi dilakukan untuk memperkuat struktur kepengurusan dan menyatukan pembacaan terhadap berbagai isu yang berkembang di masyarakat.
BEM SI Tidak Ingin Demo Hanya Karena Isu Trending
Andira menegaskan bahwa BEM SI tidak ingin gerakan mahasiswa dibangun secara reaksioner atau hanya karena isu sedang tren. Menurutnya, mahasiswa tetap memiliki posisi sebagai gerakan intelektual dan moral. Oleh karena itu, setiap keputusan untuk turun ke jalan harus melalui pembacaan masalah dan konsolidasi yang matang.
“Kami tidak ingin gerakan BEM SI sifatnya reaksioner atau sekadar ikut karena sedang ramai. Prinsip kami tetap, mahasiswa itu punya peran sebagai gerakan intelektual dan gerakan moral,” ujarnya.
Andira juga menekankan bahwa BEM SI tetap terbuka untuk menggelar demonstrasi jika hasil konsolidasi menunjukkan ada persoalan yang memang perlu dikawal melalui aksi massa.
“Kalau dari hasil konsolidasi dan pembacaan kami memang ada persoalan yang harus dikawal sampai turun ke jalan, tentu kami akan turun. Tapi kalau belum sampai ke sana, kami juga tidak akan memaksakan aksi hanya karena ada isu bahwa akan ada demo besar,” katanya.
Menurutnya, demonstrasi bukanlah tujuan akhir dari gerakan mahasiswa, melainkan salah satu instrumen untuk memperjuangkan kepentingan publik.
“Buat kami, aksi itu salah satu alat perjuangan, bukan tujuan akhirnya. Yang penting isu yang kami bawa jelas dan gerakannya benar-benar punya dampak,” tutur Andira.
Pandangan BEM SI Soal Kasus Driver Ojol yang Meninggal Dunia
Terkait agenda khusus untuk memperingati peristiwa yang melibatkan pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia ditabrak rantis polisi Affan Kurniawan, Andira mengatakan bahwa BEM SI masih melihat dinamika serta hasil konsolidasi yang berjalan.
Andira menekankan bahwa BEM SI tidak ingin momentum tersebut hanya menjadi peringatan tahunan tanpa ada upaya menyelesaikan persoalan yang melatarbelakanginya.
“Tapi yang jelas, kami tidak ingin peristiwa itu hanya diperingati setiap tahun kemudian selesai. Yang lebih penting justru bagaimana kita melihat persoalan yang ada di balik peristiwa tersebut, dan memastikan hal serupa tidak kembali terjadi,” katanya.
Karena itu, apabila BEM SI nantinya mengambil sikap, Andira memastikan langkah tersebut tidak sekadar seremonial.
“Jadi kalau nantinya BEM SI mengambil sikap, kami ingin bukan sekadar memperingati, tetapi ada substansi dan persoalan masyarakat yang memang kami kawal,” ujar dia.
Ingatkan Mahasiswa Tak Terjebak Informasi Viral di Media Sosial
Di tengah munculnya isu mengenai aksi besar pada Agustus, Andira juga mengingatkan mahasiswa agar berhati-hati terhadap informasi yang beredar di media sosial. Ia menyoroti adanya video lama yang kembali beredar seolah-olah menggambarkan kejadian baru.
Menurut Andira, informasi semacam itu berpotensi membentuk persepsi publik yang keliru. Namun, dia meminta publik tidak buru-buru menyimpulkan bahwa penyebaran konten tersebut merupakan bentuk framing atau agenda setting tertentu tanpa bukti.
“Apakah ini sebuah framing atau agenda setting tertentu, menurut saya kita jangan langsung menyimpulkan tanpa bukti. Yang paling penting justru bagaimana kita kembali melihat fakta dan kondisi sebenarnya di lapangan,” ungkap dia.
Andira menilai mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima sebelum menyebarkan maupun mengambil sikap.
“Jangan sampai karena sebuah isu viral, kita langsung ikut menyebarkan atau mengambil sikap tanpa tahu kebenarannya,” ujarnya.
Meski demikian, Andira menegaskan bahwa BEM SI menghormati demonstrasi sebagai bentuk penyampaian aspirasi yang sah selama dilakukan secara kondusif. Sebaliknya, dia menolak segala bentuk anarkisme dan perusakan.
“Demonstrasi mahasiswa itu bagian dari penyampaian aspirasi yang sah. Selama dilakukan secara kondusif, kami tentu menghormati itu. Tapi kami tidak pernah membenarkan anarkisme atau pun perusakan,” katanya.
BEM SI Tetap Kritis Meski Cara Penyampaian Berubah
Andira juga membantah anggapan bahwa mahasiswa saat ini sudah tidak kritis atau memilih “tiarap”. Menurutnya, yang berubah adalah cara mahasiswa dalam menyampaikan kritik.
BEM SI, menurut Andira, tetap konsisten mengkritisi kebijakan pemerintah yang dinilai perlu dikoreksi. Namun, demonstrasi bukan satu-satunya jalur yang dapat ditempuh.
“Ada audiensi, kajian, advokasi, dan berbagai jalur lain yang legal dan konstitusional,” tuturnya.
Ke depan, BEM SI ingin membangun gerakan mahasiswa yang tidak hanya bereaksi ketika sebuah isu menjadi viral. Mereka ingin terlebih dahulu turun ke lapangan, mendengar masyarakat, mengumpulkan fakta, dan mengkaji persoalan sebelum menentukan langkah.
“Kami ingin turun langsung, melihat masalahnya, ngobrol dengan masyarakat, mengumpulkan fakta, kemudian mengkaji apa yang sebenarnya perlu diperjuangkan,” ujar dia.
Andira berharap BEM SI ke depan tidak hanya menjadi pihak yang merespons isu, tetapi mampu menjadi penggerak isu atau lead the issue.
“Jadi kami yang datang melihat masalahnya, memahami persoalannya, kemudian menentukan bagaimana gerakan mahasiswa bisa hadir dan memberikan dampak,” katanya.
Bagi Andira, keberhasilan gerakan mahasiswa tidak semata-mata diukur dari frekuensi aksi demonstrasi, tetapi dari perubahan yang mampu dihasilkan.
“Karena menurut saya, ukuran gerakan mahasiswa bukan cuma seberapa sering kita turun ke jalan, tapi seberapa jauh gerakan itu bisa membawa perubahan,” tutur Andira.




