Tarekat Naqsabandiyah Mulai Tarawih Lebih Awal, Begini Penjelasannya
Di Kota Padang, Sumatera Barat, suasana spiritual Ramadan telah terasa lebih awal bagi jemaah Tarekat Naqsabandiyah. Pada Senin malam, 16 Februari 2026, mereka telah melaksanakan ibadah salat tarawih pertama. Pelaksanaan ibadah ini digelar di surau gadang yang berlokasi di Kecamatan Pauh, Kota Padang, dan diikuti oleh belasan jemaah yang khusyuk.
“Malam ini jemaah di surau gadang telah melaksanakan salat tarawih dan witir malam pertama,” ujar Buya Zahar, Imam Tarekat Naqsyabandiyah Surau Baru. Penetapan awal ibadah ini didasarkan pada perhitungan internal tarekat tersebut. Menurut Buya Zahar, Tarekat Naqsabandiyah menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Selasa, 17 Februari 2026. Oleh karena itu, pada hari Selasa tersebut, para jemaah akan melaksanakan sahur sebelum memulai puasa satu hari penuh.
Metode Hisab, Rukyat, dan Kias Menjadi Dasar Penetapan
Buya Azhar menjelaskan lebih lanjut mengenai dasar penetapan 1 Ramadan oleh Tarekat Naqsabandiyah. Metode yang digunakan adalah kombinasi dari hisab (perhitungan astronomis), rukyat (observasi hilal atau bulan sabit), dan dalil kias (analogi berdasarkan dalil-dalil syariat). Berdasarkan perhitungan yang matang menggunakan ketiga metode tersebut, 1 Ramadan diproyeksikan jatuh pada Selasa, 17 Februari 2026.
Hasil perhitungan ini sedikit berbeda dengan penetapan resmi pemerintah yang biasanya diumumkan setelah sidang isbat. Namun, perbedaan ini dinilai bukan menjadi masalah besar oleh pihak tarekat. “Meski begitu, pihaknya menilai hal itu bukanlah masalah karena hanya berbeda dalam metode penghitungan,” tegas Buya Azhar. Perbedaan ini mencerminkan keragaman dalam metode penentuan awal bulan dalam kalender Hijriah, sebuah praktik yang telah lama ada dalam tradisi Islam.
Sidang Isbat dan Pemantauan Hilal oleh Kementerian Agama
Sementara itu, Kementerian Agama Republik Indonesia akan melaksanakan pemantauan hilal untuk menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah pada hari Selasa, 17 Februari 2026. Kegiatan pemantauan ini akan dilakukan secara serentak di 96 lokasi strategis di seluruh Indonesia, yang dipilih berdasarkan kriteria ketinggian hilal dan visibilitasnya.
Sidang isbat penentuan awal Ramadan ini akan dihadiri oleh berbagai pihak penting, menunjukkan komitmen pemerintah dalam mengambil keputusan yang inklusif dan berdasarkan ilmu pengetahuan serta pandangan para ahli. Beberapa pihak yang akan hadir antara lain:
- Duta Besar negara-negara sahabat
- Ketua Komisi VIII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)
- Perwakilan dari Mahkamah Agung
- Majelis Ulama Indonesia (MUI)
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
- Badan Informasi Geospasial (BIG)
- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
- Perwakilan dari Observatorium Bosscha Institut Teknologi Bandung (ITB)
- Perwakilan dari Planetarium Jakarta
- Para pakar falak (ilmu perbintangan untuk menentukan waktu ibadah) dari berbagai organisasi massa Islam
- Pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam
- Perwakilan dari pondok pesantren
- Tim hisab rukyat Kementerian Agama
Keikutsertaan berbagai elemen masyarakat dan lembaga ilmiah ini diharapkan dapat menghasilkan keputusan yang bulat dan diterima oleh seluruh umat Islam di Indonesia mengenai kapan dimulainya ibadah puasa Ramadan tahun 1447 Hijriah. Perbedaan metode yang digunakan oleh berbagai kelompok, seperti Tarekat Naqsabandiyah dan pemerintah, merupakan bagian dari kekayaan tradisi keagamaan di Indonesia dan menunjukkan adanya upaya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing, sembari tetap menghormati hasil keputusan bersama.



















