Perayaan Imlek Penuh Makna: Sarwendah Jalani Tradisi dengan Penyesuaian di Tengah Duka
Perayaan Tahun Baru Imlek seringkali identik dengan kemeriahan, warna merah yang menyala, tradisi bagi-bagi angpao, serta hidangan khas keluarga yang melimpah. Namun, bagi aktris Sarwendah, perayaan Imlek tahun ini terasa berbeda. Masih dalam masa berkabung atas kepergian sang ayah tercinta, Hendrik Lo alias Yeye, yang meninggal dunia pada 19 Juli 2025, Sarwendah memilih untuk merayakan momen penting ini dengan penuh kesederhanaan, hanya bersama keluarga terdekat.

Keputusan untuk merayakan Imlek secara khidmat ini didasari oleh belum genapnya satu tahun kepergian sang ayah. “Imlek hari ini senang ngumpul bareng keluarga. Enggak ada acara yang kayak gimana, enggak boleh ada perayaan terlalu gimana-gimana karena kebetulan kan Yeye belum sampai satu tahun,” ujar Sarwendah saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan pada Selasa, 17 Februari.
Adaptasi Tradisi demi Menghormati Masa Berkabung
Meskipun Imlek identik dengan berbagai simbol kemeriahan, Sarwendah mengaku harus melakukan sejumlah penyesuaian demi menghormati masa berkabung. Salah satu hal yang paling sering ditanyakan adalah mengenai tradisi bagi-bagi angpao.
- Angpao: Meskipun diperbolehkan, Sarwendah harus menghindari penggunaan amplop merah yang menjadi ciri khas.
- Pakaian: Pilihan busana pun dibatasi. Sarwendah dan anggota keluarga lainnya tidak mengenakan pakaian berwarna merah terang.
- Hidangan Khas: Kue lapis, yang secara tradisional melambangkan kelapisan rezeki, tidak dibuat tahun ini. Biasanya, ibu Sarwendah, yang akrab disapa Nai Nai, selalu menyiapkan shabu-shabu dan kue lapis. Namun, karena belum setahun kepergian sang ayah, kue lapis ditiadakan. “Setiap Imlek pasti Nai Nai masak shabu-shabu, kue lapis biar rezekinya berlapis-lapis. Tapi kalau kue lapisnya enggak boleh karena Yeye belum setahun,” jelas Sarwendah.

Tidak Ada Barongsai, Fokus pada Makna Keluarga
Penyesuaian lain yang terasa signifikan adalah absennya pertunjukan barongsai di rumah. Sarwendah menjelaskan bahwa ia telah memberikan pengertian kepada anak-anaknya mengenai hal ini. “Jadi enggak boleh ada barongsai di rumah. Kemarin sebelum Sincia ada makan keluarga di restoran yang ada barongsainya. Jadi sudah dikasih tahu anak-anak juga, barongsainya lagi enggak bisa kita ajak ke rumah,” tuturnya.
Meskipun banyak penyesuaian yang harus dilakukan, Sarwendah menegaskan bahwa pada dasarnya, tradisi Imlek keluarganya tetap sama. Inti dari perayaan ini, yaitu kebersamaan keluarga, tidak hilang. Namun, ia tak bisa memungkiri adanya rasa kehilangan yang mendalam. “Sebenarnya tradisinya masih sama aja. Cuma ya beda, ada atau nggak ada kehadiran Yeye itu pasti beda jauh,” ungkapnya dengan nada lirih.

Harapan untuk Masa Depan yang Lebih Cerah
Di tengah perayaan Imlek yang penuh makna ini, Sarwendah menyampaikan harapannya untuk masa depan keluarganya. Ia berharap agar tahun yang baru ini membawa kebahagiaan yang lebih besar, terlepas dari segala hal yang kurang menyenangkan di masa lalu.
“Harapannya semoga di tahun yang baru ini hidupnya bisa makin bahagia, lepas dari segala sesuatu yang tidak enak. Dan yang pastinya anak-anak sehat selalu, bahagia selalu, bisa mencapai apa pun yang mereka ingini,” pungkasnya, menunjukkan keteguhan hati dan harapan yang kuat untuk keluarga tercinta. Perayaan Imlek kali ini, meskipun sederhana, menjadi pengingat akan pentingnya keluarga, kekuatan menghadapi duka, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.




















