Harga sejumlah kebutuhan pokok di berbagai wilayah Indonesia terus mengalami perubahan, baik naik maupun turun. Perubahan ini terjadi akibat berbagai faktor seperti fluktuasi pasokan, permintaan pasar, serta kebijakan pemerintah. Dalam beberapa bulan terakhir, kenaikan harga bahan pokok menjadi isu yang sering muncul, terutama menjelang momen penting seperti Ramadhan dan Lebaran.
Kenaikan Harga Bahan Pokok di Jawa Timur
Di Jawa Timur, harga sejumlah komoditas pangan pokok seperti cabai rawit, daging ayam ras, dan telur ayam ras mengalami kenaikan signifikan. Menurut data Siskaperbapo Provinsi Jatim, harga cabai rawit mencapai Rp 83.000 per kilogram (kg), daging ayam ras hampir Rp 40.000 per kg, dan telur ayam ras hampir Rp 31.000 per kg. Kenaikan ini disebabkan oleh berkurangnya pasokan barang dari produsen akibat gangguan cuaca ekstrem, yaitu hujan terus-menerus yang mengganggu produksi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jatim, Ibrahim, menyatakan bahwa kenaikan harga ini diprediksi akan berlangsung hingga Lebaran dengan angka kenaikan tertinggi terjadi pada pekan ketiga Ramadhan. Pemprov Jatim telah menyiapkan langkah strategis untuk mengendalikan laju kenaikan harga pangan sekaligus menjaga daya beli masyarakat.
Strategi Pemerintah dalam Mengendalikan Inflasi
Untuk mengendalikan inflasi, Pemprov Jatim menggelar operasi pasar murah di 15 lokasi di sejumlah kabupaten/kota selama Ramadhan. Selain itu, strategi jangka menengah pengendalian inflasi dilakukan melalui empat langkah utama:
- Menjaga keterjangkauan harga dengan intensifikasi berupa 500 kegiatan operasi pasar dan 209 kegiatan gerakan pangan murah di 38 daerah selama setahun.
- Memastikan ketersediaan pasokan bahan pangan dengan penguatan cadangan pangan pemerintah, pengembangan pertanian berkelanjutan, dan hilirisasi sektor pertanian.
- Menjaga kelancaran distribusi menjelang hari besar keagamaan nasional, baik distribusi logistik maupun arus penumpang.
- Membangun komunikasi efektif dengan berbagai pihak dan mengelola ekspektasi publik mengenai harga bahan pokok melalui berbagai platform informasi di media sosial ataupun media massa.
Selain itu, Pemprov Jatim juga sedang mengupayakan optimalisasi penurunan harga tiket pesawat melalui Bandara Abdurrahmah Saleh, Malang, agar pemudik tidak terbebani dengan kenaikan harga tiket.
Perubahan Harga di Wilayah Lain
Di luar Jawa Timur, kondisi serupa juga terjadi. Di Kalimantan Timur, misalnya, warga mengeluhkan kelangkaan beras medium dan premium di pasar retail. Kelangkaan ini diperkirakan akan terus berlanjut akibat terhentinya produksi penggilingan padi di beberapa daerah. Harga beras medium di pasar tradisional di Jawa sudah menyentuh angka Rp12.500-Rp13.000 per kilogram dan beras premium mencapai Rp15.000-Rp16.000 per kilogram.
Di Medan, Sumatra Utara, Juleha, seorang pedagang warung nasi, mengeluhkan kesediaan beras yang sempat langka dan harganya melambung tinggi. Ia harus memutar otak untuk menjaga kualitas beras dan harga dagangannya karena kenaikan harga beras memengaruhi usahanya.
Faktor Penyebab Perubahan Harga
Beberapa faktor penyebab perubahan harga kebutuhan harian antara lain:
- Cuaca ekstrem: Curah hujan yang tinggi mengganggu produksi komoditas hortikultura, daging ayam, dan telur ayam.
- Permintaan pasar: Momen Ramadhan meningkatkan permintaan pasar, sehingga memicu kenaikan harga.
- Kebijakan pemerintah: Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan intervensi pemerintah dalam distribusi beras dapat memengaruhi harga pasar.
- Produksi yang kurang optimal: Gangguan pada produksi akibat cuaca atau kebijakan yang tidak sesuai dapat mengurangi pasokan.
Prediksi dan Tindakan Lanjutan
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memprediksi kenaikan harga bahan pokok akan berlangsung hingga Lebaran. Namun, kenaikan harga tertinggi biasanya terjadi pada pekan ketiga Ramadhan. Untuk menghadapi hal ini, Khofifah meminta Perum Bulog menggelontor pasokan beras dan minyak goreng ke pasar-pasar.
Selain itu, semua bupati dan wali kota diminta untuk turun langsung ke pasar memantau perkembangan harga komoditas pangan, mengecek langsung ketersediaan barang, dan mengawasi pasokan atau distribusi barang. Jika ada persoalan, harus segera dilaporkan dan ditangani agar inflasi tetap terkendali, daya beli masyarakat terjaga, dan kebutuhan terpenuhi.



















