Semarang – Forum Investasi dan Bisnis Jawa Tengah (CJIBF) 2026 kembali digelar pada Senin (11/5/2026) hingga Selasa (12/5/2026) esok. Agenda tahunan ini menjadi ruang bagi pemerintah daerah maupun pelaku usaha di Jawa Tengah untuk memamerkan sejumlah potensi investasi yang dimilikinya kepada calon penanam modal, baik Penanaman Modal Asing (PMA) maupun Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN).
Sakina Rosellasari, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Tengah, menyebut ada 21 Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang dipamerkan dalam gelaran CJIBF tahun ini. Adapun total investasi yang ditawarkan mencapai angka Rp30 triliun.
Proyek-proyek berstatus IPRO ini dipastikan telah memiliki kejelasan status lahan, kajian kelayakan dasar, hingga potensi imbal hasil yang menjanjikan, sehingga relatif feasible. Berbagai sektor ditawarkan, mulai dari manufaktur, infrastruktur, hingga proyek-proyek berkelanjutan yang menjadi magnet baru bagi lanskap investasi global saat ini.
“Agenda CJIBF yang dilaksanakan 11-12 Mei 2026 ini memiliki banyak rangkaian, mulai Business Forum berupa talkshow yang menghadirkan Gubernur Jawa Tengah, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, juga kepeminatan Letter of Intent (LOI) yang dilanjutkan dengan One-on-One Meeting antara calon investor dengan pemilik proyek investasi dan kawasan industri,” jelas Sakina.
Agenda promosi investasi seperti CJIBF menjadi strategi konkret di tengah gejolak geopolitik yang terjadi belakangan. Deputi Gubernur Bank Indonesia Aida S. Budiman memberikan perhatian serius pada kondisi tersebut. Perang tidak hanya berdampak pada harga minyak, tetapi ikut mengganggu distribusi barang, serta memberikan tekanan besar bagi perekonomian banyak negara. Dalam situasi tarik-menarik kepentingan global inilah, Indonesia harus pandai mencari celah.
Alih-alih berpangku tangan, Aida mendorong pemangku kepentingan untuk bersama-sama ikut mendorong permintaan domestik sebagai upaya untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia. Konsumsi masyarakat harus terus dijaga agar tetap kuat. Dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, pasar domestik adalah benteng pertahanan yang solid. Ketika keran ekspor terhambat oleh lesunya daya beli negara-negara mitra dagang yang tengah dilanda krisis, mesin ekonomi di dalam negeri harus dipastikan terus menderu.
“Investasi ini punya backward linkage dan forward linkage. Artinya kalau sisi industri bisa jalan, faktor-faktor input di belakangnya juga meningkat. Kalau dia menghasilkan sesuatu, produksi itu akan menjadi input bagi forward linkage ke depan,” jelas Aida.
Aida menyebut, untuk mencapai target Indonesia Emas di tahun 2045, pertumbuhan ekonomi harus terus dipacu melalui strategi kolaboratif. Di Indonesia sendiri, target pertumbuhan ekonomi 8% masih coba direalisasikan oleh pemerintah pusat. Namun demikian, beberapa daerah seperti Jawa Tengah per hari ini sudah mampu menembus pertumbuhan ekonomi hingga lebih dari 5%. Bahkan, pada Kuartal I/2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat menyentuh angka 5,89%.
“Artinya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan pangsa yang cukup besar terhadap pertumbuhan domestik kita, atau lebih dari 8% maka Jateng memiliki peran yang strategis,” tegas Aida.
Peran strategis Jawa Tengah juga dikonfirmasi oleh Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu. Berdasarkan data realisasi investasi tahun 2025, Jawa Tengah menempati peringkat keenam dalam realisasi investasi tahunan. Per Kuartal I/2026, Jawa Tengah telah mengantongi investasi sebesar Rp23 triliun. Arus investasi tersebut menyerap tenaga kerja baru sebanyak 95.000 jiwa.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi melihat bahwa ketersediaan lahan yang masih luas, dipadukan dengan potensi kabupaten/kota yang belum sepenuhnya tereksplorasi, menjadikan Jawa Tengah sebagai kanvas kosong yang menjanjikan bagi para pelaku industri. Terutama dengan adanya dorongan untuk memperbanyak kawasan industri baru dan integrasi sistem perizinan yang dipangkas menjadi hitungan hari saja.
“Kita tahu Jawa Tengah adalah salah satu provinsi yang punya populasi besar dan di sini tumbuh sangat masif industri manufaktur. Sebenarnya selain investasi besar-besaran yang coba kita datangkan, harapannya selain itu adalah kontribusi terhadap perekonomian daerah, penyerapan tenaga kerja, dan juga bisa menciptakan ekosistem bagi pelaku usaha termasuk Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Jawa Tengah untuk semakin tumbuh,” imbuhnya.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menyebut strategi kolaboratif merupakan ujung tombak dari upaya promosi investasi di wilayah tersebut. Bersama kepala daerah tingkat kabupaten dan kota, Luthfi terus mempromosikan potensi investasi yang ada ke pelaku usaha di dalam dan luar negeri. Dalam pandangannya, para bupati dan wali kota saat ini tidak boleh lagi hanya duduk manis di belakang meja sebagai birokrat, melainkan ikut bertransformasi menjadi manajer pemasaran bagi daerahnya masing-masing.
Pengembangan ekonomi baru ini bukan hanya isapan jempol. Saat ini, Jawa Tengah berani tampil beda dengan memberikan insentif pajak khusus bagi penanam modal di sektor ekonomi terbarukan dan ekonomi hijau. Mulai dari potensi energi bayu (angin), tenaga air, hingga gas, semuanya dieksplorasi sebagai respons atas tuntutan pengetatan energi global saat ini.
Berkat upaya tersebut, sepanjang tahun 2025, Jawa Tengah berhasil mengantongi realisasi investasi sebesar Rp110 triliun. Serapan tenaga kerja yang dihasilkan juga mencapai angka 480.000 yang tersebar di berbagai sektor industri.
Untuk menjaga tren positif ini, pemerintah daerah berkolaborasi erat dengan kementerian teknis untuk memberangus penyakit birokrasi klasik seperti lambatnya izin lokasi, amdal, maupun persetujuan bangunan gedung. Berbagai layanan perizinan mulai didelegasikan langsung ke pengelola kawasan industri, menerapkan prinsip persetujuan fiktif positif dan post-audit, sehingga bisnis dapat langsung berjalan tanpa harus menunggu bertahun-tahun.
Mohammad Noor Nugroho, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Tengah, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung upaya Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mendorong investasi di wilayah tersebut. BI juga ikut memberikan pendampingan dalam bentuk asesmen ekonomi terkait potensi serta multiplier effect dari proyek investasi yang coba dikembangkan di Jawa Tengah.
“Kami tidak berhenti di sini. Dalam perkembangannya, nanti kami akan coba bawa IPRO yang ada di Jawa Tengah untuk juga dipromosikan ke luar negeri. Kami ada beberapa kantor perwakilan yang siap untuk mempromosikan ini,” lanjutnya.



















