Pocong Merah: Teror Dendam dan Kekuatan Keluarga Menggebrak Layar Lebar
Kengerian malam di Desa Kaliboyong tak lagi sama. Bisikan tentang sosok dukun santet bernama Katiyem, yang tewas secara tragis dan termutilasi, kini bergema lebih kuat. Namun, kematian bukanlah akhir baginya. Arwahnya bangkit, terbungkus kain kafan berlumuran darah, siap menuntut balas atas dendam yang tak pernah tuntas. Inilah premis mencekam yang diangkat dalam film horor terbaru, “Pocong Merah”.
Film yang digarap oleh sutradara asal Ajibarang, Banyumas, Hendra Lee, ini mulai menghantui layar bioskop di seluruh Indonesia sejak Kamis, 19 Februari 2026. Penonton di Purwokerto berkesempatan menyambut langsung para pemain dan kru dalam acara temu sapa yang digelar sehari sebelumnya, Rabu, 18 Februari 2026, malam.
Berbeda dari film horor pada umumnya yang kerap mengandalkan kejutan tiba-tiba (jump scare) untuk menakuti penonton, “Pocong Merah” menjanjikan pengalaman yang lebih mendalam. Film ini tidak hanya menyajikan adegan menegangkan, tetapi juga merajut narasi yang kaya akan konflik batin, dilema moral, serta nilai-nilai kekeluargaan yang kuat.
“Film ini memang bergenre horor, namun di dalamnya kami sisipkan elemen komedi dan juga pesan edukatif,” ujar Hendra Lee. Ia menambahkan, “Ada pesan penting tentang bahaya dendam yang membabi buta, keberanian untuk menghadapi kegelapan, serta pilihan moral yang harus diambil dalam lingkup keluarga.”
Salah satu pemain, Ahmad Pule, turut menggarisbawahi aspek religius dalam film ini. “Bagaimana cara kita menjaga seseorang, dan yang terpenting, jangan pernah menyekutukan Tuhan,” tuturnya, menyampaikan pesan moral yang ingin disampaikan melalui film ini.
Kisah “Pocong Merah” berpusat pada kebangkitan Katiyem, sang dukun santet yang mengalami akhir hidup yang brutal. Obsesi sang anak untuk membangkitkan kembali ibunya justru membuka gerbang malapetaka. Sosok pocong merah yang bangkit bukan hanya menebar teror, tetapi juga menyeret banyak nyawa dalam pusaran dendam yang mematikan.
Keindahan Banyumas Menjadi Latar Cerita Mencekam
Nama Hendra Lee semakin bersinar dalam industri perfilman berkat perjalanannya yang dimulai dari nol. Ia merintis karier melalui berbagai posisi teknis dan kreatif sebelum akhirnya mendapat kepercayaan untuk menyutradarai sebuah film layar lebar.
Bagi masyarakat Banyumas, “Pocong Merah” memiliki makna tersendiri, bukan hanya karena ceritanya yang mencekam. Seluruh proses pengambilan gambar film ini dilakukan sepenuhnya di wilayah Kabupaten Banyumas. Beberapa lokasi ikonik yang dipilih sebagai latar cerita antara lain kawasan Curug Cipendok yang memukau dan Hutan Pinus Sawangan yang eksotis di Ajibarang.
Proses syuting yang berlangsung selama kurang lebih 10 hari ini, menurut Hendra, sangat terbantu oleh keindahan visual alam Banyumas. “Sepenuhnya latar pengambilan gambar di Banyumas. Secara visual sangat mendukung,” ungkap Hendra, yang merupakan putra asli Ajibarang.
Lebih membanggakan lagi, produksi film ini juga memberikan ruang bagi talenta lokal. Sekitar 35 persen pemain dan kru yang terlibat berasal dari Banyumas. Komposisi keseluruhan tim produksi terdiri dari 65 persen profesional dari skala nasional dan 35 persen talenta lokal.
“Kita anak kampung juga bisa berkarya. Teman-teman di belakang layar juga punya kesempatan, meskipun di daerah, tetap bisa menghasilkan karya yang berkualitas,” tegas Hendra, menyemangati para kreator muda di daerah. Ia berharap, keterlibatan masyarakat lokal dalam produksi film ini dapat membuka wawasan mereka tentang dunia perfilman dan menumbuhkan rasa percaya diri warga Banyumas.
Deretan Aktor Muda yang Menghidupkan Karakter
“Pocong Merah” juga diperkuat oleh jajaran aktor muda berbakat yang berhasil menghidupkan setiap karakter. Adinda Halona tampil memukau memerankan Nadia, seorang kakak yang tegar dan menjadi tumpuan harapan keluarga dalam menghadapi teror gaib.
Sementara itu, Ahmad Pule memerankan Joko, pemuda desa yang harus berhadapan dengan dilema besar. Ia terpaksa melawan kakaknya sendiri demi memutus kutukan yang mencekam desanya. Ketegangan cerita semakin memuncak dengan kehadiran Yogi Werner sebagai Aryo, tokoh antagonis yang menjadi dalang di balik ritual kebangkitan Pocong Merah.
Selain mereka, Putri Nabilla Aurora dan Ferdian Ariyadi juga turut memperkuat jajaran pemain utama, memberikan dimensi akting yang kaya pada film ini.
Kehadiran “Pocong Merah” di layar bioskop diharapkan mampu memberikan pengalaman sinematik yang berbeda bagi para penonton. Mereka tidak hanya akan disuguhi ketegangan yang mencekam, tetapi juga diajak untuk merenungkan konsekuensi dari tindakan balas dendam dan pentingnya makna keluarga di tengah situasi yang penuh kesulitan.
Bagi masyarakat Banyumas, film ini lebih dari sekadar tontonan horor. Ia adalah bukti nyata bahwa dari tanah Ajibarang dan pelosok Banyumas, karya layar lebar berkualitas dapat lahir dan berhasil menembus pasar perfilman nasional, menghantui bioskop di seluruh negeri.




