AS Tambah Kekuatan Laut di Timur Tengah, Tiga Gugus Tempur Kapal Induk Berpotensi Berkumpul

Diposting pada

Amerika Serikat kembali mengirim tambahan kekuatan laut ke Timur Tengah di tengah ketegangan dengan Iran. Seorang pejabat AS yang mengetahui operasi sensitif itu, namun meminta identitasnya dirahasiakan, menyebut Washington menyiapkan gugus tempur kapal induk ketiga bersama unit serbu amfibi. Dengan penempatan ini, AS berpeluang memiliki tiga kapal induk di kawasan tersebut paling cepat pada akhir Oktober 2026, saat Presiden Donald Trump juga mengisyaratkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran.

Armada yang bergerak ke kawasan itu membawa lebih dari 7.000 pelaut dan 2.000 anggota Marinir. Di dalamnya ada gugus tempur USS Theodore Roosevelt yang baru berlayar bersama kapal penjelajah rudal berpandu USS Chosin. Komponen lain adalah kelompok kesiapan amfibi USS Makin Island, yang disertai dua kapal pendarat amfibi, USS John P. Murtha dan USS Anchorage. Jika digabung dengan personel yang sudah lebih dulu berada di Timur Tengah, jumlah prajurit laut AS di wilayah itu akan melampaui 20.000 orang, ditambah ratusan pesawat.

Skala pengerahan tersebut menandai tingkat kehadiran militer AS yang jarang terjadi. Sebelumnya, Angkatan Laut AS juga pernah menempatkan tiga gugus tempur kapal induk di Timur Tengah pada April, untuk pertama kalinya sejak 2003. Kini, penguatan armada berlangsung ketika perang dengan Iran belum menunjukkan tanda mereda dan menjelang pemilu sela di Amerika Serikat, sehingga langkah militer ikut memengaruhi kalkulasi politik di Washington.

Susunan kapal induk AS di kawasan itu pun terus berubah. USS George H.W. Bush dan USS George Washington saat ini sudah berada di Timur Tengah bersama kelompok kesiapan amfibi USS Boxer. George Washington, yang biasanya bertugas di Samudra Pasifik, dipindahkan untuk menggantikan USS Abraham Lincoln. Penugasan Abraham Lincoln sebelumnya disebut sangat berat karena awaknya harus berada di laut selama lebih dari 260 hari tanpa jeda. Setelah USS Theodore Roosevelt tiba, George Washington berpeluang bergeser ke perairan dekat Jepang.

Di sisi lain, Trump mengaitkan situasi ini dengan agenda politik dalam negeri. Dalam wawancara dengan majalah Time yang terbit Kamis (1/10/2026) dan dilakukan pada Senin (28/9/2026), ia mengatakan bahwa dirinya “mungkin” akan meningkatkan pengeboman di Iran setelah pemilu sela pada 3 November. Saat diminta menjelaskan lebih jauh, Trump menolak menguraikan detail rencana itu. Ia berkata, “Saya tidak bisa memberitahukan hal itu kepada Anda karena begini, Anda tahu, Anda menanyakan di mana kita akan mengebom?”

Trump juga menyatakan telah menolak usulan gencatan senjata terbaru dari Iran. Ia menyinggung tawaran Teheran untuk membuka Selat Hormuz sebagai jalur penting pengiriman energi, tetapi menilai proposal tersebut belum memadai. Dalam wawancara yang sama, Trump sempat mengakui perang yang semakin tidak populer itu bisa berdampak pada Partai Republik, namun kemudian menegaskan bahwa isu Iran justru dapat menguntungkan karena negara itu tidak boleh memiliki senjata nuklir. Sementara itu, TRT World melaporkan pada Kamis (1/10/2026) bahwa Trump memberi sinyal awal yang menghubungkan Iran dengan kasus kopilot yang menikam kaptennya dan mencoba menjatuhkan penerbangan menuju Israel pada Rabu (30/9/2026).

Sumber: www.idntimes.com

Tinggalkan Balasan