Dedi Mulyadi Jelaskan Perbedaan Sikapnya di Bogor dan Jatiluhur yang Ramai di Media Sosial

Diposting pada

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi akhirnya menanggapi meme yang membandingkan reaksinya saat berada di Bogor dan di Jatiluhur. Menurut dia, dua peristiwa yang viral di media sosial itu tidak bisa disamakan karena situasi, agenda, dan kewenangannya berbeda. Dedi juga menepis anggapan bahwa dirinya meresmikan proyek data center kecerdasan buatan di kawasan Waduk Jatiluhur.

Kisah yang ramai dibicarakan bermula dari unggahan video saat Dedi tampak menangis dan bersandar di pagar ketika melihat kerusakan lingkungan di Bogor. Di sisi lain, ia juga disorot setelah disebut hadir di Jatiluhur dalam agenda yang dikaitkan dengan pembangunan data center AI, proyek yang kemudian menuai polemik karena dikhawatirkan berdampak pada ketersediaan air waduk. Dedi menegaskan, narasi itu tidak tepat.

Dalam penjelasannya, Dedi menyebut kunjungannya ke Bogor terjadi ketika ia mengikuti kegiatan Menteri Lingkungan Hidup dan Menko Pangan Zulkifli Hasan. Saat itu, menurut dia, penindakan berupa penyegelan bangunan dilakukan oleh pihak kementerian, bukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ia mengatakan dirinya hanya melihat langsung kondisi lapangan dan merasa prihatin terhadap kerusakan yang ditemukan.

Dedi menuturkan, yang paling membuatnya keberatan adalah keberadaan jembatan gantung yang melintasi area pepohonan serta wahana flying fox. Ia menilai kawasan hutan tidak semestinya dijadikan tempat rekreasi yang menempatkan orang berada di atas pohon. Menurutnya, Pemprov Jabar hanya bisa mengambil tindakan pada bagian yang memang masuk kewenangannya.

Terkait Jatiluhur, Dedi menjelaskan bahwa pada 28 Juli 2026 ada rombongan pengusaha yang datang ke kantor Gubernur Jawa Barat bersama anggota DPR RI Mulyadi untuk membahas rencana pembangunan data center. Ia mengatakan menerima mereka dan meminta agar seluruh syarat administrasi dipenuhi terlebih dahulu. Setelah itu, beberapa hari kemudian, ia memutuskan turun langsung ke lokasi untuk memeriksa keadaan di lapangan.

Dedi membantah dirinya datang atas undangan maupun sebagai pihak yang mengundang. Ia menyebut kehadirannya semata-mata untuk mengecek proses perizinan, termasuk izin yang menurut pengusaha sudah terbit melalui jalur penanaman modal asing dan sistem OSS di pusat. Ia juga menyinggung bahwa kewenangan amdal dan persetujuan bangunan gedung berada di Kabupaten Purwakarta, lalu sempat menanyakan status IMB kepada bupati setempat.

Menurut Dedi, saat di lokasi ia juga menerima sambutan dari tuan rumah, termasuk tawaran berteduh di tenda dan makan sore bersama anak yatim. Namun ia memilih menghormati tuan rumah, menerima makanan ringan berupa singkong, lalu pulang. Ia menegaskan, tidak ada peresmian maupun pembangunan yang dilakukan pada kunjungan itu. Dedi bahkan menyarankan publik melihat video yang ia unggah pada 28 Juli 2026 untuk memahami konteks lengkapnya.

Sumber: news.republika.co.id

Tinggalkan Balasan