Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta pemerintah dan penyelenggara meninjau kembali rencana konser Andrea Bocelli di Borobudur pada 31 Oktober 2026 dan di Jakarta pada 3 November 2026. Permintaan itu disampaikan di Jakarta pada Selasa (13/10/2026), setelah MUI menilai ada jejak sikap musisi Italia tersebut yang menunjukkan dukungan terhadap Israel di tengah situasi Palestina yang disebutnya masih berada dalam penjajahan dan genosida.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Bidang Luar Negeri, Safira Machrusah, mengatakan pihaknya memahami bahwa konser itu dikaitkan dengan promosi budaya dan dorongan ekonomi, terutama lewat pariwisata. Namun, ia menegaskan alasan ekonomi tidak boleh mengesampingkan konsistensi Indonesia dalam membela kemerdekaan Palestina. Menurut dia, pemilihan Bocelli perlu dipertimbangkan ulang karena namanya memunculkan keberatan di tengah publik yang sensitif terhadap isu kemanusiaan di Gaza.
Safira menyebut MUI menelusuri sejumlah peristiwa yang dinilai berkaitan dengan dukungan Bocelli kepada Israel. Salah satunya adalah kehadirannya dalam kegiatan penggalangan dana pada 2010 yang dikaitkan dengan Israel Defense Forces (IDF). Ia juga menyinggung kehadiran Bocelli di Tel Aviv pada 2008 dalam acara yang berhubungan dengan Shimon Peres. Selain itu, MUI mencatat peristiwa pada 2025 ketika Bocelli mengundang seorang mantan sandera Hamas ke kediamannya di Miami, Amerika Serikat.
Menurut Safira, rangkaian peristiwa itu menjadi alasan MUI memandang Bocelli tidak netral dalam isu Palestina. Ia menilai ketiadaan pernyataan Bocelli yang menyinggung Gaza dalam momen tersebut juga patut diperhatikan. Karena itu, MUI mempertanyakan mengapa penyelenggara memilih Bocelli, padahal menurut mereka masih banyak penyanyi lain yang bisa menarik penonton tanpa membawa kontroversi politik serupa.
Di sisi lain, Safira mengakui konser di kawasan Borobudur memiliki potensi promosi yang besar. Borobudur merupakan warisan budaya Indonesia yang telah diakui UNESCO, sehingga kehadiran artis dunia bisa menarik wisatawan dan memberi efek ekonomi. Meski begitu, ia menekankan bahwa manfaat tersebut harus diimbangi dengan kepekaan terhadap suara masyarakat Indonesia yang selama ini konsisten mendukung Palestina.
Safira juga mengaitkan sikap itu dengan sejarah panjang dukungan Indonesia terhadap perjuangan Palestina. Ia mengingatkan bahwa pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, sejumlah tokoh Palestina ikut memberi dukungan. Ia pun menyinggung Presiden Soekarno yang tidak mengundang Israel dalam Konferensi Asia Afrika 1955 dan justru memberi perhatian pada Palestina. MUI, kata dia, telah menyalurkan bantuan kemanusiaan lebih dari Rp 22 miliar untuk Palestina melalui Baznas RI, hasil penggalangan dana dari masyarakat.
MUI menyatakan tetap terbuka untuk berdialog dengan pemerintah maupun penyelenggara konser, termasuk Shoemaker Live yang disebut mendapat dukungan sejumlah kementerian. Safira mengatakan lembaganya tidak sedang menolak kebijakan pemerintah, tetapi berharap ada ruang pembahasan untuk mencari solusi. Ia juga membuka kemungkinan adanya sikap tegas dari Bocelli yang menolak genosida dan mendukung kemerdekaan Palestina sebagai bahan pertimbangan dalam polemik ini.




