Kebiasaan Belanja Unik Ayah Ayu Ting Ting dan Ancaman Kecanduan Belanja Online
Ayu Ting Ting, penyanyi dangdut ternama, baru-baru ini menyinggung kebiasaan belanja sang ayah, Abdul Rozak, yang akrab disapa Ayah Rojak. Kebiasaan ini kerap membuat keluarga geleng-geleng kepala lantaran keunikannya. Hampir setiap hari, Ayah Rojak berbelanja menggunakan sistem Cash on Delivery (COD), di mana pembayaran dilakukan saat barang diterima. Dana untuk pembelian ini tentu saja berasal dari penghasilan Ayu Ting Ting.
Yang lebih menarik, Ayah Rojak kerap meminta anggota keluarga di rumah untuk membayarkan barang pesanannya begitu paket tiba. Kebiasaan ini terungkap ketika Ayu Ting Ting hendak berangkat syuting dan melihat ayahnya sedang mencoba sepatu boots baru yang dibelinya dari platform marketplace. Momen sederhana ini kembali memunculkan perbincangan mengenai kebiasaan belanja sang ayah.
“Kemarin kan gue sempet bilang di Lapor Pak kalau bapak gue itu kerjaannya COD setiap hari ngeluarin duit engga orang rumah yang disuruh bayar,” ungkap Ayu Ting Ting. Mendapat “teguran” dari putri kesayangannya yang menjadi tulang punggung keluarga, Ayah Rojak hanya bisa tersenyum.
Ayu Ting Ting kemudian meminta Ayah Rojak untuk memperlihatkan sepatu boots setinggi lutut yang sedang dicobanya. “Sekarang dia pesen ape lagi tuh lihat sepatu boots nya baru dateng,” ujar pelantun lagu “Alamat Palsu” ini. Ia juga menceritakan pengalaman sebelumnya ketika ayahnya membeli bibit tanaman secara daring, namun hingga kini benih tersebut tidak kunjung tumbuh. Ayu menduga bibit yang dibeli ayahnya adalah palsu. Diketahui, kakek Bilqis ini sedang gemar berkebun, bahkan Ayu berencana untuk memeriksa kebun ayahnya yang disebut-sebut sudah tertata rapi.
Ancaman Kecanduan Belanja: Fenomena Buying-Shopping Disorder (BSD)
Di balik kisah ayah Ayu Ting Ting, terselip isu yang lebih luas mengenai kebiasaan berbelanja, terutama di era digital ini. Siapa yang tidak suka berbelanja? Aktivitas ini seringkali memberikan rasa senang dan bahagia, apalagi dengan maraknya diskon di berbagai toko, terutama menjelang akhir tahun. Namun, bagi sebagian orang, belanja online telah berubah menjadi masalah serius. Fenomena ini dikenal sebagai Buying-Shopping Disorder (BSD), atau gangguan belanja kompulsif.
Diperkirakan, sekitar 5 persen remaja di negara maju berjuang melawan kebiasaan belanja yang kompulsif dan obsesif. Pakar kesehatan bahkan menyerukan agar gangguan ini secara resmi diklasifikasikan sebagai penyakit mental. Kecanduan belanja terjadi ketika seseorang terus-menerus berbelanja hingga melampaui batas kemampuan dan secara negatif memengaruhi berbagai aspek kehidupannya. Ini merupakan salah satu efek samping dari pesatnya perkembangan e-commerce.
Sebuah penelitian berskala kecil yang diterbitkan dalam jurnal Comprehensive Psychiatry menemukan bahwa BSD telah merambah ke ranah ritel online. Sekitar sepertiga pasien yang mencari pengobatan untuk BSD dalam penelitian tersebut melaporkan bahwa gejala mereka dipicu oleh aktivitas belanja online.
“Tingginya angka buying-shopping disorder yang mengakibatkan gangguan fungsi di kehidupan sehari-hari harus diakui sebagai kondisi penyakit mental secara terpisah,” ujar Astrid Müller, peneliti utama studi tersebut dan psikoterapis di Hannover Medical School, Jerman. Meskipun demikian, penelitian ini masih memerlukan populasi yang lebih besar untuk menarik kesimpulan yang pasti. Dalam Klasifikasi Penyakit Internasional, BSD saat ini dikategorikan sebagai “gangguan kontrol impuls spesifik”, bukan sebagai gangguan kesehatan mental tersendiri.
BSD: Lebih dari Sekadar Belanja Berlebihan
BSD, atau belanja kompulsif, pada dasarnya merupakan perpaduan antara kecanduan dan gangguan kontrol impuls. Menurut Müller, kondisi ini ditandai dengan hasrat yang tak tertahankan untuk berbelanja. Sebagian besar barang yang dibeli oleh penderita BSD seringkali tidak diperlukan atau bahkan tidak pernah digunakan. Ironisnya, mereka rela menghabiskan uang lebih banyak dari yang mereka mampu.
Meskipun dorongan untuk berbelanja dapat memberikan sensasi menyenangkan, bahkan euforia, namun efek setelahnya bisa sangat melemahkan. Setelah melakukan pembelian, seringkali muncul perasaan bersalah, penyesalan, atau rasa malu. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menimbulkan konflik besar dengan pasangan dan tentu saja merusak kondisi keuangan.
Penting untuk membedakan BSD dengan overshopping atau belanja berlebihan yang sesekali dialami banyak orang. Direktur Klinik Kelainan Kontrol Impuls, Elias Aboujaoude, menjelaskan bahwa perbedaan utamanya terletak pada efek kesehatan mental dan dampak jangka panjang terhadap kehidupan seseorang.
Situs Belanja Online Memperburuk Keadaan
Belanja kompulsif bukanlah fenomena baru. Masalah ini telah dikenal sejak lebih dari 100 tahun lalu ketika psikiater Jerman, Emil Kraepelin, pertama kali mendefinisikannya sebagai “membeli mania”. Sejak saat itu, jutaan orang, termasuk tokoh publik, dilaporkan pernah mengalaminya.
Ketika internet pertama kali muncul, banyak yang beranggapan bahwa belanja online akan membantu pasien BSD karena dianggap dapat melindungi mereka dari godaan pemasaran di toko fisik. Namun, kenyataannya justru sebaliknya. Pemasaran online jauh lebih canggih dan ditargetkan secara mikro. Kemudahan berbelanja sepanjang waktu melalui internet justru semakin mempersulit pengendalian diri.
Selain kenyamanan “satu klik”, penelitian menunjukkan bahwa jauh lebih mudah menghabiskan uang virtual daripada uang tunai secara fisik. Satu studi menemukan bahwa orang cenderung menghabiskan 100 persen lebih banyak saat menggunakan kartu kredit dibandingkan uang tunai. Fenomena ini dikaitkan dengan konsep coupling, yaitu seberapa erat pembelian terkait dengan pembayaran. Saat membayar tunai, kita langsung menyadari biaya yang dikeluarkan. Namun, dengan kartu kredit, ada jeda waktu antara pembelian dan pembayaran, membuat kita kurang sadar akan pengeluaran.
“Kapan pun Anda ketika membeli sesuatu dengan satu klik, jarak antara Anda dan uang Anda jauh lebih besar sehingga Anda tidak sadar,” ujar April Benson, seorang psikolog yang berspesialisasi dalam overshopping.
Menurut Müller, berbagai faktor pemasaran online, seperti kecepatan transaksi, pilihan produk yang luas, penargetan iklan yang masif, dan sistem pembayaran yang mudah, dapat memicu “kecanduan” pada otak dan memperparah gangguan BSD.
Cara Mengatasi Buying-Shopping Disorder (BSD)
Mengatasi kebiasaan belanja kompulsif membutuhkan kesadaran dan langkah-langkah konkret. Donald Black, seorang profesor psikiatri yang banyak meneliti perilaku belanja kompulsif, merekomendasikan beberapa tips:
- Singkirkan Pemicu: Jauhkan kartu kredit atau buku cek yang seringkali menjadi pemicu belanja kompulsif. Penggunaan uang tunai dapat membantu mengendalikan pengeluaran.
- Hindari Berbelanja Sendirian: Kebanyakan orang cenderung tidak berbelanja secara kompulsif ketika ditemani orang lain. Kehadiran orang lain dapat memberikan pengingat dan dukungan.
- Ganti Kebiasaan: Ganti waktu yang biasanya digunakan untuk berbelanja dengan kegiatan lain yang lebih bermakna dan hemat biaya.
- Jalan-jalan santai
- Bergabung dengan komunitas kebugaran
- Menjadi relawan
- Mencoba membuat kerajinan kreatif baru
Semua kegiatan ini terbukti dapat meningkatkan kesehatan mental.
Benson menyarankan pasiennya untuk mencatat setiap pengeluaran harian dan menilai pentingnya setiap item yang dibeli. Tujuannya adalah untuk menyadarkan diri tentang berapa banyak uang yang bisa dihemat jika hanya membeli barang-barang yang benar-benar diperlukan.
“Desakan untuk berbelanja pada akhirnya akan menghilang, terutama jika Anda tidak terus memberinya peluang,” tegas Benson. Ia menekankan pentingnya mengambil langkah nyata untuk membuat kemajuan dan mengatasi kebiasaan yang dapat melumpuhkan kehidupan.



















