8 Fakta Pemimpin Iran yang Dikabarkan Meninggal: Ayatollah Ali Khamenei

Diposting pada

Guncangan Politik Iran: Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei Dilaporkan Meninggal Dunia

Ketegangan global meningkat tajam menyusul laporan meninggalnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Perkembangan ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang sempat memicu kekhawatiran akan Perang Dunia III. Serangan udara Israel ke fasilitas militer dan nuklir Iran pada 13 Juni 2025 dibalas dengan ratusan rudal balistik dari Teheran. Amerika Serikat juga dilaporkan turut menyerang fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan, sebelum kedua negara menyepakati gencatan senjata setelah 12 hari pertempuran. Kematian Khamenei, yang menargetkan pusat kepemimpinan di Teheran, diprediksi akan mengguncang peta politik kawasan secara signifikan.

Sebelum kabar duka ini, Ayatollah Ali Khamenei memegang kendali mutlak sebagai otoritas tertinggi di Iran. Kekuasaannya mencakup militer, kebijakan luar negeri, dan arah ideologi negara. Sejarawan menilai rezim di bawah kepemimpinannya lebih stabil dibandingkan era Syah Mohammad Reza Pahlavi yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979 oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Di bawah Khamenei, kekuatan ekonomi dan militer terpusat pada kelompok loyalis, sambil terus melanjutkan garis ideologis yang diwariskan Khomeini dalam membentuk Republik Islam Iran.

Latar Belakang dan Perjalanan Kehidupan Ayatollah Ali Khamenei

Perjalanan hidup Ayatollah Ali Khamenei penuh dengan peristiwa penting yang membentuk perannya di panggung politik Iran. Berikut adalah beberapa aspek kunci dari kehidupannya:

  • Keluarga dan Keturunan Mulia
    Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada tahun 1939 di Mashhad, dari orang tua berdarah Azerbaijan. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sederhana. Ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama yang sangat taat dan menjauhi kemewahan duniawi, sehingga keluarga mereka hanya tinggal di rumah sederhana dengan satu kamar. Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan pangan kerap terjadi karena Javad Khamenei seringkali diundang untuk memberikan ceramah keagamaan. Meskipun hidup dalam kesederhanaan, Javad Khamenei adalah tokoh yang disegani, bahkan sering menjadi imam salat di dua masjid di Mashhad. Keluarga Khamenei diyakini merupakan keturunan Ali Zeyn-ol-Abedin, Imam keempat Syiah Islam. Ali Khamenei sendiri juga mengklaim memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini mendorong dua saudara kandungnya untuk mengikuti jejak ayah mereka sebagai ulama, dan ketiganya mengenakan sorban hitam untuk menegaskan klaim keturunan Nabi Muhammad SAW.

  • Guru Revolusioner: Ayatollah Ruhollah Khomeini
    Sejak usia dini, Javad Khamenei bertekad agar putra-putranya mendapatkan pendidikan agama Islam. Ali Khamenei memulai pendidikannya pada usia 4 tahun di sebuah maktab, sekolah Islam non-pemerintah yang menjadi alternatif di tengah semakin sekulernya sistem pendidikan Iran. Pada usia 11 tahun, ia telah memenuhi kualifikasi sebagai ulama. Meskipun pendidikannya terkadang diejek, Ali Khamenei tetap tekun belajar agama, meneladani ayahnya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sulayman Khan Madrasah di Mashhad, di mana ia mulai terpapar pada semangat politik dan spiritual. Di madrasah inilah ia mendengar khotbah dari ulama revolusioner Iran, Mutjaba Nawwab Safawi, yang menyerukan penggulingan Syah dan pengembalian sistem pemerintahan Iran berdasarkan ajaran Islam. Khamenei sendiri mengakui bahwa khotbah Safawi “menumbuhkan kesadaran aktivisme Revolusioner Islam dalam diri saya.” Setelah menempuh pendidikan di Najaf, Irak, pada tahun 1957, atas permintaan ayahnya, Ali Khamenei kembali ke Iran dan menjadi mahasiswa di Qom. Di kota ini, ia belajar di bawah bimbingan Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi pemimpin Revolusi Iran.

  • Tak Terduga Menjadi Pemimpin Tertinggi
    Meskipun dikenal sebagai putra yang berbakti dan ulama yang berdedikasi, tidak banyak yang menduga bahwa Ayatollah Ali Khamenei akan menjadi tokoh politik yang sangat disegani dan akhirnya memegang posisi tertinggi di Iran. Keponakannya, Mahmood Mordankhani, menggambarkan Khamenei sebagai pribadi yang mencintai puisi, ramah, dan terbuka, namun tetap memegang erat kesederhanaan. Saat menempuh pendidikan di Qom, Khamenei adalah mahasiswa yang menonjol. Aktivitas revolusionernya, yang dipengaruhi oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini yang saat itu diasingkan, menyebabkan ia ditangkap sebanyak enam kali. Selama masa tahanannya di tahun 1970-an, ia berbagi sel dengan aktivis komunis, Houshang Asadi. Asadi, sama seperti Mordankhani, mengenang Khamenei sebagai pribadi yang menyenangkan dan memiliki selera humor yang baik, dan juga tidak menyangka ia akan menjadi pemimpin Iran. Penulis biografi Mehdi Khalaji turut membenarkan pernyataan ini, menyebut kesederhanaan Khamenei sebagai kunci kesuksesannya. Namun, Houshang Asadi menyayangkan perubahan kepribadian Khamenei setelah menjadi pemimpin tertinggi, menyebutnya “berubah dari seorang laki-laki yang memiliki semangat juang untuk keadilan sekarang menjadi seorang diktator,” bahkan lebih diktator daripada Syah.

  • Dua Periode Kepresidenan Tanpa Kekuasaan Penuh
    Ali Khamenei sempat diasingkan dari Teheran selama tiga tahun ketika Revolusi Iran meletus. Namun, berkat rasa hormat dan kepercayaan dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, penguasa tertinggi pertama Republik Islam Iran yang baru, Khamenei justru mendapatkan posisi penting dalam pemerintahan. Setelah menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, imam, dan wakil menteri pertahanan, ia terpilih sebagai anggota legislatif dan turut mendirikan Partai Republik Islam (IRP). Tak lama kemudian, Ali Khamenei terpilih menjadi presiden Iran. Dukungan penuh dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang sangat menghargai kesetiaannya, membantunya memenangkan pemilihan umum Oktober 1981 dengan 95 persen suara. Namun, jabatan presiden saat itu bersifat seremonial, dengan kekuasaan politik yang sepenuhnya dipegang oleh perdana menteri. Hal ini menyebabkan perselisihan antara Khamenei dan perdana menteri petahana, Mir Hossein Mousavi, yang lebih moderat. Perselisihan ini akhirnya diselesaikan demi kepentingan Khamenei oleh Dewan Wali, mengingat pengaruhnya yang besar pada kebijakan luar negeri Iran. Kekuasaan Khamenei sempat dibatasi hingga ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai pemimpin tertinggi. Perubahan konstitusional pasca-kematian Khomeini, termasuk penghapusan jabatan perdana menteri dan penguatan kekuasaan presiden, turut memperkuat posisinya.

  • Target Upaya Pembunuhan yang Nyaris Fatal
    Republik Islam Iran tidak luput dari gejolak pasca-Revolusi. Banyak mantan sekutu Ayatollah Ruhollah Khomeini, termasuk kelompok sayap kiri dan komunis, merasa dikhianati dan tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Sebagai respons, Mujahidin-e Khalq, kelompok oposisi Marxis, melancarkan kampanye pemberontakan terhadap para pemimpin pemerintahan teokratis baru Iran pada awal tahun 1980-an. Mujahidin-e Khalq merencanakan pembunuhan dan pengeboman yang menewaskan lebih dari 70 tokoh penting Iran yang bersekutu dengan Khomeini, termasuk Presiden Mohammad Ali Rajai dan Perdana Menteri Mohammad Javad Bhonar. Pada saat itu, Ali Khamenei bertugas di kementerian pertahanan sembari mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden. Pada Juni 1981, saat berpidato di sebuah masjid di Teheran, sebuah bom yang disembunyikan dalam perekam pita audio meledak. Ledakan tersebut menyebabkan lengan kanannya lumpuh, paru-paru dan suaranya rusak, serta mengharuskan ia dirawat di rumah sakit selama beberapa bulan. Selama masa pemulihan, ia menerima pesan pribadi dari Ayatollah Ruhollah Khomeini yang memuji kesetiaannya. Khamenei sendiri menganggap keselamatannya sebagai tanda dari Allah SWT bahwa ia dipilih untuk tugas yang lebih berat.

Jalan Menuju Kepemimpinan Tertinggi

  • Suksesi yang Memerlukan Revisi Konstitusional
    Kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989 meninggalkan kekosongan kekuasaan di Republik Islam Iran. Selama hampir satu dekade, Hussein Ali Montazeri dianggap sebagai calon penggantinya. Namun, Montazeri kerap mengkritik pemerintahan Khomeini, bahkan menyebut badan intelijen rezim lebih brutal daripada badan intelijen Syah. Pernyataan kontroversial ini membuatnya kehilangan dukungan politik.

    Putra Ali Khomeini dan seorang ulama terkemuka Iran mengaku menjadi saksi bahwa sebelum meninggal, Ruhollah Khomeini berwasiat dan menunjuk Ali Khamenei sebagai penggantinya sebagai pemimpin tertinggi. Dewan yang bertanggung jawab atas amandemen konstitusi Iran menunjuk Ali Khamenei dua hari setelah kematian Khomeini.

    Awalnya, ada keraguan mengenai kelayakan Khamenei untuk menduduki posisi tersebut. Kepribadiannya dianggap tidak sekuat Khomeini, dan latar belakang pendidikan agama serta prestasinya dianggap biasa saja. Terdapat pula hambatan hukum, karena konstitusi mensyaratkan pemimpin tertinggi bergelar ayatollah agung, sementara Khamenei saat itu hanya seorang ulama. Namun, Khamenei akhirnya diangkat menjadi ayatollah, persyaratan untuk menjadi pemimpin tertinggi dilonggarkan, dan didukung oleh politisi terkemuka seperti calon presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani. Setelah menjadi pemimpin tertinggi, Khamenei terbukti lebih berhati-hati dalam memilih sekutu dibandingkan pendahulunya, dan membuat kesepakatan dengan kelompok garis keras untuk memperkuat kekuasaannya.

  • Hubungan Erat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)
    Sejak diangkat menjadi pemimpin tertinggi pada 1989, Ayatollah Ali Khamenei didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Hubungan ini sebenarnya sudah terjalin sebelum posisinya saat ini, karena Khamenei pernah menjabat sebagai komandan IRGC. Meskipun demikian, pada tahun 1980-an, anggota IRGC tidak sepenuhnya yakin dengan pandangan Khamenei, menganggapnya terlalu moderat. Ketidakpercayaan ini begitu tinggi hingga Khamenei pernah ditolak untuk mengunjungi garis depan Perang Iran-Irak.

    Namun, pada tahun 1989, ketika Khamenei naik menjadi pemimpin tertinggi, ia menegosiasikan kesepakatan penting dengan IRGC. Sebagai imbalan atas dukungan IRGC, Khamenei menjanjikan hak-hak signifikan dalam urusan politik. IRGC dijanjikan menjadi lembaga pertama yang didanai pemerintah, memiliki badan intelijen independen, hak veto atas inisiatif kebijakan luar negeri, dan bagian penting dari ekonomi Iran. IRGC menerima kesepakatan tersebut, dan sejak saat itu, mereka menjadi pilar pendukung rezim Ali Khamenei.

  • Kesederhanaan yang Tetap Terjaga
    Teladan kesederhanaan dari ayahnya melekat pada Ayatollah Ali Khamenei sepanjang hidupnya. Ia sering bercerita tentang masa kecilnya yang tinggal di rumah satu kamar, hanya makan roti dan kismis untuk makan malam, dan tidak membeli pakaian baru jika pakaian lamanya bolong. Ibunya akan menjahit pakaian yang bolong dengan pakaian bekas ayahnya. Masyarakat Iran pun meyakini bahwa Khamenei tetap hidup sederhana hingga kini, bukan karena keterbatasan, melainkan sebagai pilihan pribadi. Sebagai pemimpin tertinggi Iran, ia tentu memiliki kecukupan materi, namun ia memilih untuk hidup apa adanya dan tidak berlebihan.

Masa Depan Iran Pasca-Khamenei

Pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei tidak lepas dari tantangan, termasuk protes besar-besaran yang terjadi setelah meninggalnya Mahsa Amini. Jika kabar wafatnya terbukti benar, pertanyaan besar muncul mengenai siapa yang akan menggantikannya. Konstitusi Iran telah mengatur mekanisme khusus untuk skenario ini. Kepemimpinan sementara akan dijalankan oleh dewan yang beranggotakan tiga orang: presiden Iran, kepala lembaga peradilan, dan seorang ulama perwakilan dari Dewan Penjaga Konstitusi. Selain itu, kewenangan tertentu dalam proses transisi kekuasaan juga disebut diberikan kepada Ali Larijani, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional. Kepergian Ali Khamenei diprediksi akan membuka babak baru yang penuh ketidakpastian bagi masa depan Iran dan stabilitas kawasan.

Gambar Gravatar
Rizki merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan