Gejolak Politik Iran: Nasib Pemimpin Tertinggi Pasca Konflik Panas dengan Israel
Munculnya tagar Perang Dunia III menjadi sorotan tajam setelah konflik antara Israel dan Iran memanas pada 13 Juni 2025. Serangan udara Israel yang menyasar fasilitas militer dan nuklir Iran dibalas dengan ratusan rudal balistik dari Teheran. Amerika Serikat pun turut ambil bagian dengan menyerang fasilitas nuklir di Natanz, Fordow, dan Isfahan. Ketegangan ini akhirnya mereda setelah kedua negara menyepakati gencatan senjata setelah 12 hari yang menegangkan.
Namun, dalam perkembangan terbaru yang mengguncang peta politik kawasan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan tewas dalam sebuah serangan yang menyasar pusat kepemimpinan di Teheran. Berita ini sontak menimbulkan pertanyaan besar mengenai stabilitas dan masa depan Republik Islam Iran.
Sebelum kabar duka ini beredar, Ayatollah Ali Khamenei memegang kendali penuh sebagai otoritas tertinggi di Iran. Ia memiliki kuasa atas militer, perumusan kebijakan luar negeri, dan penentuan arah ideologi negara. Sejarawan menilai rezim di bawah kepemimpinannya menunjukkan stabilitas yang lebih baik dibandingkan era Syah Mohammad Reza Pahlavi, yang digulingkan dalam Revolusi Iran 1979 oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini. Di bawah Khamenei, kekuatan ekonomi dan militer terpusat pada kelompok loyalis, sembari melanjutkan garis ideologis yang diwariskan Khomeini dalam membentuk Republik Islam Iran.
Latar Belakang dan Perjalanan Hidup Ayatollah Ali Khamenei
Perjalanan hidup Ayatollah Ali Khamenei penuh dengan peristiwa menarik yang membentuk karakternya.
Keluarga dan Keyakinan Keturunan Nabi Muhammad SAW
Sayyid Ali Hosseini Khamenei lahir pada tahun 1939 di Mashhad, dari orang tua yang berasal dari Azerbaijan. Ia tumbuh dalam lingkungan yang sederhana. Ayahnya, Javad Khamenei, adalah seorang ulama yang sangat taat dan menjauhi segala bentuk kemewahan duniawi. Keluarga ini hidup di sebuah rumah sederhana yang hanya memiliki satu kamar.
Keluarga Javad Khamenei seringkali harus berjuang untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh kesibukan Javad Khamenei yang sering diundang untuk memberikan ceramah keagamaan. Akibatnya, delapan anaknya pun hidup dalam kesederhanaan. Meskipun demikian, Javad Khamenei adalah sosok yang disegani dan sering menjadi imam salat di dua masjid di Mashhad. Keluarga ini diyakini merupakan keturunan dari Ali Zeyn-ol-Abedin, Imam keempat dalam mazhab Syiah. Ali Khamenei sendiri juga mengklaim memiliki garis keturunan dari Nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini turut mendorong dua saudara kandungnya untuk mengikuti jejak ayah mereka sebagai ulama. Untuk menegaskan klaim keturunan Nabi Muhammad SAW, ketiga saudara kandung ini mengenakan sorban hitam.
Guru Spiritual: Ayatollah Ruhollah Khomeini
Sebagai seorang ulama terkemuka di wilayahnya, Javad Khamenei menginginkan putra-putranya mendapatkan pendidikan agama Islam yang mendalam. Oleh karena itu, Ali Khamenei mulai bersekolah di usia empat tahun di sebuah sekolah Muslim yang dikenal sebagai maktab. Sebagaimana tercatat dalam buku “Ali Khamenei” karya John Murphy, maktab bukanlah sekolah negeri, melainkan bagian dari sistem pendidikan Iran yang semakin sekuler.
Pada usia 11 tahun, Ali Khamenei telah memenuhi kualifikasi sebagai seorang ulama. Meski demikian, pendidikan agama yang ditempuhnya sempat diejek oleh sebagian kalangan. Namun, Ali Khamenei tetap tekun dalam studinya, meneladani ayahnya.
Ali Khamenei kemudian melanjutkan pendidikan di Sulayman Khan Madrasah di Mashhad. Di sinilah ia mulai mengenal semangat politik sekaligus spiritual. Saat menempuh pendidikan di madrasah, Ali Khamenei mendengarkan khotbah dari ulama revolusioner Iran, Mutjaba Nawwab Safawi. Safawi berkhotbah tentang perlunya menggulingkan Syah dan mengembalikan sistem pemerintahan Iran yang berlandaskan ajaran Islam. “Pada saat itulah, karena Nawwab Safawi, kesadaran aktivisme Revolusioner Islam muncul dalam diri saya,” ungkap Ali Khamenei di situs web pribadinya.
Setelah menyelesaikan pendidikan di Najaf, Irak, pada tahun 1957, ayahnya memintanya untuk kembali ke Iran. Setibanya di Iran, ia menjadi mahasiswa di kota Qom. Di sana, ia mengambil kelas dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang kelak menjadi pemimpin Revolusi Iran.

Perjalanan Menuju Kepemimpinan Tertinggi yang Tak Terduga
Ayatollah Ali Khamenei dikenal sebagai putra yang berbakti dan seorang ulama yang berdedikasi. Namun, tidak banyak yang menduga bahwa ia akan menjadi tokoh politik Iran yang sangat disegani dan bahkan menduduki posisi tertinggi sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. Keponakannya, Mahmood Mordankhani, pernah menjelaskan kepada BBC bahwa Ayatollah Ali Khamenei adalah seorang pecinta puisi, ramah, dan terbuka. “Namun, yang menarik,” kata Mahmood Mordankhani, “dalam ingatan saya, Ali Khamenei adalah orang yang sederhana.”
Ali Khamenei memang merupakan mahasiswa yang cukup menonjol saat menempuh pendidikan di Qom. Aktivitas revolusionernya, yang didorong oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini yang saat itu diasingkan, membuatnya ditangkap sebanyak enam kali. Selama masa tahanannya di penjara pada tahun 1970-an, Ali Khamenei sempat berbagi sel dengan seorang aktivis komunis bernama Houshang Asadi.
Serupa dengan yang diungkapkan Mahmood Mordankhani, Houshang Asadi menilai Ali Khamenei sebagai pribadi yang menyenangkan dan memiliki selera humor yang baik. Houshang Asadi pun tidak menyangka bahwa Ali Khamenei akan menjadi pemimpin Iran di kemudian hari.
Penulis biografi Mehdi Khalaji turut membenarkan pernyataan-pernyataan tersebut, menyebut Ali Khamenei sebagai pribadi yang sederhana. Khalaji berpendapat bahwa kesederhanaan inilah yang menjadi kunci kesuksesan Ali Khamenei.
Namun, Houshang Asadi, yang gerakan komunisnya pernah bersekutu dengan kaum revolusioner Islam melawan Syah, menyayangkan perubahan kepribadian Ali Khamenei saat menjabat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran. “Ia (Ali Khamenei) berubah dari seorang laki-laki yang memiliki semangat juang untuk keadilan sekarang menjadi seorang diktator,” katanya kepada BBC. “Sekarang, Tuan Khamenei lebih merupakan seorang diktator daripada seorang Syah.”

Dua Periode Sebagai Presiden Iran dengan Kekuasaan Terbatas
Ayatollah Ali Khamenei sempat diasingkan dari ibu kota Teheran selama tiga tahun ketika Revolusi Iran meletus. Namun, berkat rasa hormat dan kepercayaan yang diberikan oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang saat itu menjabat sebagai penguasa tertinggi pertama Republik Islam Iran, Ali Khamenei justru mengalami kenaikan jabatan dalam pemerintahan Iran. Setelah menjabat sebagai anggota Dewan Revolusi, imam, dan wakil menteri pertahanan, Ali Khamenei terpilih menjadi anggota legislatif sebagai anggota Partai Republik Islam (IRP), sebuah lembaga politik yang turut ia dirikan, sebagaimana dicatat oleh Britannica. Tak lama kemudian, Ali Khamenei berhasil menjadi presiden Iran.
Ali Khamenei mendapat dukungan penuh dari Ayatollah Ruhollah Khomeini, yang sangat menghargai kesetiaan Ali Khamenei. Dalam pemilihan umum pada Oktober 1981, Ali Khamenei menang telak dengan 95 persen suara. Namun, pada saat itu, jabatan presiden Iran lebih bersifat seremonial. Kekuasaan politik sesungguhnya dipegang sepenuhnya oleh perdana menteri. Hal ini menyebabkan Ali Khamenei sering berselisih dengan perdana menteri yang berkuasa saat itu, Mir Hossein Mousavi, yang memiliki pandangan lebih moderat.
Kendati demikian, perselisihan tersebut berhasil diselesaikan demi kepentingan Ali Khamenei oleh Dewan Wali. Ini menunjukkan pengaruh Ali Khamenei dalam kebijakan luar negeri Iran. Kekuasaan Ali Khamenei sempat dibatasi hingga ia menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini sebagai Pemimpin Tertinggi. Perubahan konstitusional yang mendorong penghapusan jabatan perdana menteri dan penguatan kekuasaan presiden dilakukan pada saat Ali Khamenei naik takhta.

Upaya Pembunuhan yang Nyaris Merenggut Nyawanya
Republik Islam Iran tidak lepas dari gejolak pasca Revolusi Iran. Banyak mantan sekutu Ayatollah Ruhollah Khomeini, termasuk kelompok sayap kiri dan komunis, merasa dikhianati dan tidak dilibatkan dalam pemerintahan. Sebagai respons, Mujahidin-e Khalq, sebuah kelompok oposisi Marxis, melancarkan kampanye pemberontakan terhadap para pemimpin pemerintahan teokratis baru di Iran pada awal tahun 1980-an.
Mujahidin-e Khalq merencanakan serangkaian pembunuhan dan pengeboman. Kelompok ini berhasil membunuh lebih dari 70 tokoh penting Iran yang beraliansi dengan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Di antara para korban adalah Mohammad Ali Rajai, Presiden Iran, dan Mohammad Javad Bhonar, Perdana Menteri.
Ali Khamenei bertugas di kementerian pertahanan pada saat rencana pembunuhan ini berlangsung, sekaligus mempersiapkan diri untuk pemilihan presiden. Pada Juni 1981, saat Ali Khamenei berpidato di sebuah masjid di Teheran, sebuah bom yang disembunyikan di dalam perekam pita audio (tape deck) meledak. Akibat ledakan tersebut, lengan kanan Ali Khamenei mengalami kelumpuhan permanen. Paru-parunya juga mengalami kerusakan, dan suaranya terpengaruh. Ia harus menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa bulan.
Selama masa pemulihannya, Ali Khamenei menerima pesan pribadi dari Ayatollah Ruhollah Khomeini yang memuji kesetiaannya. Ali Khamenei sendiri menganggap keselamatannya sebagai tanda dari Allah SWT bahwa ia dipilih untuk mengemban tugas yang jauh lebih berat.

Suksesi Kepemimpinan yang Memerlukan Revisi Konstitusional
Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia pada tahun 1989, meninggalkan kekosongan dalam pemerintahan Republik Islam Iran. Selama hampir sepuluh tahun, Hussein Ali Montazeri dianggap sebagai calon pengganti utama Ayatollah Ruhollah Khomeini. Namun, Montazeri sering mengkritik pemerintahan Khomeini, bahkan pernah menyebut badan intelijen rezim tersebut lebih brutal daripada badan intelijen Syah. Pernyataan kontroversial ini membuatnya kehilangan dukungan dari kalangan politikus Iran.
Putra Ali Khomeini dan seorang ulama terkemuka Iran mengaku menjadi saksi bahwa sebelum Ayatollah Ruhollah Khomeini meninggal dunia, ia pernah berwasiat dan menunjuk Ali Khamenei sebagai penggantinya sebagai Pemimpin Tertinggi. Kemudian, dewan yang bertanggung jawab atas amandemen konstitusi Iran menunjuk Ali Khamenei dua hari setelah kematian Ayatollah Ruhollah Khomeini.
Sebenarnya, terdapat keraguan dari beberapa pihak mengenai kesiapan Ali Khamenei untuk menerima jabatan tersebut. Kepribadiannya dianggap tidak sekuat Ayatollah Ruhollah Khomeini. Selain itu, latar belakang pendidikan agamanya dan prestasinya dianggap masih remeh. Terdapat pula hambatan hukum bagi Ali Khamenei untuk menjadi Pemimpin Tertinggi, karena konstitusi mensyaratkan Pemimpin Tertinggi harus seorang Grand Ayatollah. Sementara itu, Ali Khamenei saat itu hanya seorang ulama.
Kendati demikian, Ali Khamenei akhirnya diangkat menjadi Ayatollah, persyaratan untuk menjadi Pemimpin Tertinggi dilonggarkan, dan politisi terkemuka Iran, termasuk calon presiden Ali Akbar Hashemi Rafsanjani, mendukung pengangkatannya. Namun, setelah menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei lebih selektif dalam memilih sekutu dibandingkan pendahulunya. Ia juga membuat kesepakatan dengan kelompok garis keras untuk memperkuat posisinya.

Hubungan Erat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC)
Sejak diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Iran pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei didukung oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Asosiasi ini sudah terjalin bahkan sebelum ia menduduki jabatannya saat ini, mengingat Ali Khamenei pernah menjabat sebagai komandan IRGC.
Meskipun pernah memimpin IRGC, para anggotanya pada tahun 1980-an tidak sepenuhnya yakin dengan pandangan Ayatollah Ali Khamenei, sebagaimana dikutip oleh Foreign Policy. IRGC menganggap Ayatollah Ali Khamenei terlalu moderat. Ketidakpercayaan ini begitu tinggi sehingga Ayatollah Ali Khamenei pernah ditolak untuk mengunjungi garis depan Perang Iran-Irak.
Namun, pada tahun 1989, Ayatollah Ali Khamenei justru menjadi Pemimpin Tertinggi Iran, meski tanpa kepercayaan penuh dari para tetua rezim. Untuk mengamankan posisinya, Ayatollah Ali Khamenei menegosiasikan kesepakatan dengan IRGC. Jika IRGC menerimanya sebagai Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Ali Khamenei akan memberikan hak istimewa kepada IRGC dalam urusan politik. IRGC dijanjikan menjadi lembaga pertama yang didanai pemerintah, mendirikan badan intelijen independen sendiri, memveto inisiatif kebijakan luar negeri, dan mengambil bagian penting dari perekonomian Iran. IRGC menerima kesepakatan tersebut, dan sejak saat itu, IRGC telah menjadi penopang utama rezim Ali Khamenei.

Kesederhanaan Sebagai Pilihan Hidup
Teladan kesederhanaan yang ditunjukkan oleh ayahnya terus melekat pada Ayatollah Ali Khamenei sepanjang hidupnya. Ia pernah bercerita tentang masa kecilnya yang tinggal di rumah dengan satu kamar tidur, hanya makan roti dan kismis untuk makan malam, dan tidak membeli pakaian baru jika pakaian lamanya sudah bolong. Ibunya akan menjahit pakaiannya yang bolong dengan pakaian bekas ayahnya.
Masyarakat Iran pun beranggapan bahwa Ali Khamenei masih hidup sederhana hingga saat ini. Kesederhanaan yang ditunjukkannya bukanlah karena keterbatasan, melainkan pilihan pribadinya. Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei tentu saja tercukupi dari segala aspek. Namun, ia memilih untuk hidup apa adanya dan tidak berlebihan.
Selama masa kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei, pemerintahannya memang menghadapi berbagai tantangan, salah satunya adalah protes besar-besaran yang terjadi setelah meninggalnya seorang perempuan bernama Mahsa Amini, yang sempat viral di jagat maya.
Jika kabar wafatnya Ayatollah Ali Khamenei terbukti benar, pertanyaan besar berikutnya adalah siapa yang akan mengambil alih kepemimpinan Iran. Mengutip laporan Al Jazeera, konstitusi Iran telah mengatur mekanisme khusus apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia. Dalam skenario tersebut, kepemimpinan sementara akan dijalankan oleh sebuah dewan yang beranggotakan tiga orang: presiden Iran, kepala lembaga peradilan, serta seorang ulama yang mewakili Dewan Penjaga Konstitusi.
Selain itu, kewenangan tertentu juga disebut diberikan kepada Ali Larijani, yang menjabat sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, dalam proses transisi kekuasaan tersebut.



























