Harga TBS Sawit: Apkasindo Aceh Desak Koreksi Indeks K Hingga 10 Maret 2026

Diposting pada

Penetapan Harga Tandan Buah Segar (TBS) Kelapa Sawit di Aceh Periode 25 Februari – 10 Maret 2026

Pemerintah Aceh, melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan, telah secara resmi menetapkan harga untuk Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit. Penetapan harga ini berlaku untuk periode 25 Februari hingga 10 Maret 2026 dan mencakup wilayah timur serta barat Aceh. Kebijakan ini dirancang untuk memberikan pedoman harga yang jelas bagi para pekebun, baik yang tergabung dalam skema plasma maupun swadaya.

Informasi mengenai penetapan harga ini disampaikan oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Aceh, Ir. Netap Ginting. Penetapan harga ini merupakan langkah penting dalam mendukung stabilitas pendapatan para petani kelapa sawit di provinsi tersebut, mengingat kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan utama yang berkontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah.

Rincian Harga TBS Kelapa Sawit untuk Pekebun Mitra Plasma

Harga TBS kelapa sawit untuk pekebun mitra plasma ditetapkan berdasarkan usia tanaman. Perbedaan usia tanaman tentu saja berimplikasi pada volume dan kualitas hasil panen, sehingga menjadi faktor penentu dalam penetapan harga per kilogramnya.

Wilayah Timur Aceh:

  • Usia 3 tahun: Rp 2.486 per kilogram
  • Usia 4 tahun: Rp 2.723 per kilogram
  • Usia 5 tahun: Rp 2.888 per kilogram
  • Usia 6 tahun: Rp 3.037 per kilogram
  • Usia 7 tahun: Rp 3.155 per kilogram
  • Usia 8 tahun: Rp 3.217 per kilogram
  • Usia 9 tahun: Rp 3.241 per kilogram
  • Usia 10-20 tahun: Rp 3.314 per kilogram
  • Usia 21 tahun: Rp 3.191 per kilogram
  • Usia 22 tahun: Rp 3.159 per kilogram
  • Usia 23 tahun: Rp 3.120 per kilogram
  • Usia 24 tahun: Rp 3.037 per kilogram
  • Usia 25 tahun: Rp 3.018 per kilogram

Wilayah Barat Aceh:

  • Usia 3 tahun: Rp 2.452 per kilogram
  • Usia 4 tahun: Rp 2.685 per kilogram
  • Usia 5 tahun: Rp 2.848 per kilogram
  • Usia 6 tahun: Rp 2.994 per kilogram
  • Usia 7 tahun: Rp 3.111 per kilogram
  • Usia 8 tahun: Rp 3.172 per kilogram
  • Usia 9 tahun: Rp 3.196 per kilogram
  • Usia 10-20 tahun: Rp 3.268 per kilogram
  • Usia 21 tahun: Rp 3.147 per kilogram
  • Usia 22 tahun: Rp 3.115 per kilogram
  • Usia 23 tahun: Rp 3.076 per kilogram
  • Usia 24 tahun: Rp 3.030 per kilogram
  • Usia 25 tahun: Rp 2.976 per kilogram

Penetapan Harga TBS Kelapa Sawit untuk Pekebun Mitra Swadaya

Selain untuk pekebun mitra plasma, harga TBS juga ditetapkan untuk pekebun mitra swadaya. Perbedaan utama pada kategori ini adalah adanya variasi komposisi antara varietas Tenera dan Dura pada tandan buah. Komposisi ini memengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan, sehingga turut diperhitungkan dalam penentuan harga.

Wilayah Timur Aceh:

  • Komposisi Tenera 100%: Rp 3.041 per kilogram
  • Komposisi Tenera 90% dan Dura 10%: Rp 3.023 per kilogram
  • Komposisi Tenera 80% dan Dura 20%: Rp 3.004 per kilogram
  • Komposisi Tenera 70% dan Dura 30%: Rp 2.984 per kilogram
  • Komposisi Tenera 60% dan Dura 40%: Rp 2.968 per kilogram
  • Komposisi Tenera 50% dan Dura 50%: Rp 2.948 per kilogram
  • Komposisi Tenera 40% dan Dura 60%: Rp 2.929 per kilogram

Wilayah Barat Aceh:

  • Komposisi Tenera 100%: Rp 2.998 per kilogram
  • Komposisi Tenera 90% dan Dura 10%: Rp 2.981 per kilogram
  • Komposisi Tenera 80% dan Dura 20%: Rp 2.962 per kilogram
  • Komposisi Tenera 70% dan Dura 30%: Rp 2.943 per kilogram
  • Komposisi Tenera 60% dan Dura 40%: Rp 2.926 per kilogram
  • Komposisi Tenera 50% dan Dura 50%: Rp 2.907 per kilogram
  • Komposisi Tenera 40% dan Dura 60%: Rp 2.888 per kilogram

Produksi dan Tantangan Sektor Perkebunan Sawit Aceh

Menjelang dan selama bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah, Ketua Apkasindo Aceh, Ir. Netap Ginting, mengonfirmasi bahwa produksi sawit dari para petani masih dalam kondisi normal. Rata-rata produksi yang dilaporkan berkisar di angka 1.400 kilogram per hektar setiap bulannya. Angka ini menunjukkan konsistensi pasokan dari para pekebun.

Namun, di balik angka produksi yang stabil, terdapat beberapa tantangan yang masih dihadapi oleh sektor perkebunan sawit di Aceh. Salah satu sorotan utama adalah Indeks K di Aceh yang masih berada di angka 87 persen. Indeks K merupakan sebuah faktor kinerja krusial yang digunakan sebagai salah satu dasar perhitungan dalam menentukan harga TBS kelapa sawit.

Menurut Netap Ginting, angka 87 persen ini masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan provinsi lain yang juga merupakan sentra kelapa sawit, seperti Riau dan Sumatera Barat, yang telah mencapai 92 persen. Kesenjangan ini berpotensi memengaruhi daya saing dan nilai jual TBS sawit di Aceh.

Selain itu, Netap Ginting juga menyoroti isu potongan timbangan TBS kelapa sawit di pabrik. Ia menyebutkan bahwa persentase potongan timbangan ini belum mengalami perubahan yang signifikan dan masih berkisar antara 4 hingga 7 persen. Potongan timbangan yang terlampau besar ini dianggap sangat merugikan para petani sawit di Aceh. Hal ini secara langsung mengurangi jumlah hasil yang diterima petani, meskipun kualitas dan kuantitas panen yang mereka bawa sudah sesuai standar.

Upaya untuk meningkatkan Indeks K dan meninjau kembali kebijakan potongan timbangan diharapkan dapat menjadi perhatian serius pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa para petani kelapa sawit di Aceh dapat memperoleh imbalan yang adil atas kerja keras mereka, serta meningkatkan daya saing komoditas sawit Aceh di pasar nasional maupun internasional.

Gambar Gravatar
Hendra merupakan jurnalis yang meliput berbagai topik, mulai dari berita nasional, ekonomi, hingga dinamika sosial di daerah. Dengan gaya penulisan yang lugas, ia berkomitmen menghadirkan informasi akurat dan terpercaya.

Tinggalkan Balasan