Trauma Mendalam Akibat Penganiayaan Bertahun-tahun: Kisah Pilu Anak Angkat di Balikpapan
Seorang pemuda berusia 21 tahun di Balikpapan Barat, Kalimantan Timur, harus menanggung trauma mendalam akibat penganiayaan brutal yang dialaminya selama sepuluh tahun terakhir oleh orang tua angkatnya sendiri. KH, demikian nama korban, telah menjadi sasaran kekerasan fisik yang mengerikan sejak usianya masih 10 tahun, meskipun ia telah diasuh oleh keluarga angkatnya sejak bayi. Polresta Balikpapan kini telah menetapkan pelaku sebagai tersangka dan langsung menahannya setelah proses hukum berjalan.
Kapolresta Balikpapan, Jerrold HY Kumontoy, menyatakan bahwa penetapan tersangka dilakukan setelah pemeriksaan mendalam, pengumpulan barang bukti, dan gelar perkara. “Setelah melakukan pemeriksaan, mengumpulkan barang bukti, serta gelar perkara, yang bersangkutan sudah kami tetapkan sebagai tersangka,” ujar Kumontoy. Sejumlah saksi juga telah diperiksa untuk memperkuat konstruksi perkara ini. Mendapat kepastian hukum, korban mengaku merasa lega. “Saya senang, karena sekarang sudah tidak takut lagi,” tuturnya.
Kondisi fisik korban memprihatinkan. Hampir seluruh tubuh KH dipenuhi bekas luka, mulai dari wajah, tangan, hingga kaki. Luka yang paling parah terlihat pada jari tengah tangan kirinya, yang nyaris putus akibat kekerasan yang diduga dilakukan oleh orang tua angkatnya.
Momen Mengerikan: Penyiraman Air Panas dan Pengekangan
KH menceritakan kronologi mengerikan yang dialaminya pada Rabu, 11 Februari 2026, dini hari. Peristiwa itu bermula ketika ia diminta memijat ibu angkatnya. Namun, karena pijatannya dianggap tidak sesuai harapan, KH diminta keluar rumah. “Saya disuruh pijat ibu, tapi katanya tidak ada rasanya. Saya disuruh keluar, tapi saya tidak mau keluar,” kenang KH.
Situasi kemudian memburuk. KH mengaku dipukuli sebelum akhirnya diseret masuk ke dalam kamar. Tak lama berselang, ibu angkatnya diduga mengambil air panas dari dapur dan langsung menyiramkannya ke tubuh KH. “Dia masuk dapur ambil air panas, langsung disiram ke saya. Disiram di muka, paha, sama tangan,” ungkapnya. Kejadian yang terjadi sekitar waktu subuh itu meninggalkan luka bakar serius. KH bahkan mendengar langsung rencana penyiraman tersebut sebelum air panas disiramkan. “Air panas itu memang direbus untuk menyiram saya,” katanya.
Meskipun menderita luka bakar yang parah, KH mengaku masih dipaksa melakukan pekerjaan rumah tangga beberapa jam setelah kejadian. Sekitar pukul 11.30 Wita, ia diminta memasak seperti biasa. Namun, karena tidak sanggup menahan rasa sakit, KH akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah. “Saya disuruh masak, tapi saya tidak masak. Saya kabur dari rumah,” jelasnya.
Pertolongan Warga dan Perjalanan Hukum
KH berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya ditemukan oleh warga di sekitar kawasan Pasar Baru. Seorang warga yang baik hati menolongnya dan membawanya bermalam di rumahnya. Keesokan harinya, pelapor kejadian tersebut kepada ketua RT setempat. Dari laporan inilah, kasus ini diteruskan ke pihak kelurahan dan unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), sebelum akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian.
Korban kemudian segera dibawa ke rumah sakit untuk menjalani perawatan medis. Dalam pengakuannya, KH mengungkapkan bahwa kekerasan yang dialaminya bukanlah insiden tunggal. Ia mengaku telah mengalami perlakuan kasar sejak usia sekitar 10 tahun, bahkan ia sering dipukul menggunakan berbagai benda seperti cetakan besi hingga centong nasi. “Kadang dipukul di kepala, kadang di badan,” katanya, bahkan ia pernah diinjak. Kondisi lututnya sempat bengkok akibat pukulan keras, membuatnya tidak bisa berjalan.
Penyiraman air panas pun bukan pertama kali terjadi. KH mengaku sudah mengalaminya sekitar lima kali. Untuk meredakan rasa sakit dan mencegah luka yang lebih parah, ia biasanya segera berlari ke kamar mandi dan menyiram tubuhnya dengan air dingin.
Beban Ganda: Kekerasan Fisik dan Eksploitasi
Selain kekerasan fisik, KH juga mengaku dipaksa mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga sejak kecil. Setiap hari, ia harus menyapu, mencuci pakaian, memasak, hingga membersihkan seluruh rumah. “Saya kerjakan semua pekerjaan rumah,” ujarnya. Kehidupan sosial KH sangat terbatas, ia jarang diizinkan keluar rumah dan hampir tidak memiliki kehidupan layaknya remaja pada umumnya. “Saya tidak boleh keluar. Cuma di rumah saja,” katanya.
Ketakutan yang mendalam juga melingkupinya. KH mengaku sempat takut melaporkan kejadian tersebut karena mendapat ancaman dari orang tua angkatnya. Lebih mengerikan lagi, ia mengaku diminta membayar uang sebesar Rp60 juta sebagai “biaya membesarkan” jika ingin keluar dari rumah tersebut. “Kalau mau pergi harus bayar Rp60 juta,” ungkapnya.
Akibat luka bakar serius di wajahnya, KH sempat menjalani operasi pada 14 Februari 2026. Saat ini, ia masih dalam proses pemulihan dan mendapatkan pendampingan psikologis dari unit PPA. KH juga mengikuti sejumlah kegiatan trauma healing untuk membantu memulihkan kondisi mentalnya. “Sekarang masih penyembuhan,” katanya.
Empat Hal Krusial Sebelum Memutuskan Adopsi Anak
Kisah pilu KH menjadi pengingat pentingnya pertimbangan matang bagi siapa pun yang berencana mengadopsi anak. Keputusan adopsi seringkali diambil karena berbagai alasan, mulai dari ketidakmampuan pasangan untuk memiliki anak secara biologis karena risiko kesehatan, hingga keinginan tulus untuk membantu sesama. Namun, terlepas dari latar belakang dan niat baik, proses adopsi memerlukan persiapan yang komprehensif, terutama dari segi mental.
Menurut Anindita Citra Setiarini, seorang Psikolog dari Klinik Light HOUSE, pasangan yang memutuskan adopsi seringkali telah melalui proses berduka yang kompleks. Ia menekankan pentingnya persiapan mental sebelum mewujudkan keinginan mengadopsi anak.
Berikut adalah empat hal penting yang wajib disiapkan sebelum memutuskan mengadopsi anak:
Ubah Gaya Hidup dan Jadikan Anak Prioritas
Bagi individu yang sibuk dengan aktivitas profesional, kesediaan untuk mengesampingkan beberapa kegiatan demi mengurus anak adalah sebuah keharusan. Mengesampingkan ego memang tidak mudah, mengingat kehidupan dan kesejahteraan anak sepenuhnya bergantung pada orang tuanya. Namun, penting juga untuk tetap memenuhi kebutuhan diri sendiri dan pasangan.Pelajari Cara Mengurus Anak
Mengikuti kelas khusus, seperti kelas ibu dan balita (untuk anak usia 0-5 tahun), dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam merawat, mendidik, memberikan ASI dan MPASI, memahami penyakit, hingga mendukung tumbuh kembang anak. Bekal pengetahuan ini penting agar tidak panik atau membahayakan anak karena ketidakadaan informasi.Atasi Tekanan Sosial
Di era digital yang serba cepat, informasi mengenai pola asuh anak bermunculan dari berbagai sumber. Hal ini dapat membuat orang tua baru merasa kewalahan dalam memilih metode terbaik. Tanpa disadari, hal ini bisa menimbulkan rasa kompetisi. Sebaiknya, lakukan riset mendalam mengenai kelebihan dan kekurangan suatu metode. Berkonsultasi dengan tenaga profesional juga sangat dianjurkan. Ingat, tidak perlu selalu mengikuti tren demi terlihat “keren”.Ambil Keputusan Membesarkan Anak Bersama Pasangan
Diskusi mendalam dengan pasangan dan melakukan trial and error dalam membesarkan anak sangatlah penting. Contohnya dalam memilih penggunaan popok sekali pakai atau popok kain. Dengan mencoba berbagai hal, pasangan akan menemukan metode yang paling sesuai untuk mereka dan anak. Setelah menemukan yang tepat, komitmen untuk meneruskannya tanpa keraguan adalah kunci.



















