Tragedi di Makassar: Permainan Senjata Mainan Berujung Maut, Polisi Akui Senjata Tak Sengaja Meletus
Makassar, Sulawesi Selatan – Bulan Ramadan 2026 diwarnai insiden tragis yang menggemparkan publik. Permainan tembak-tembakan menggunakan senjata mainan jenis “omega” dengan peluru plastik hingga jeli, yang sempat marak di Makassar, justru berujung pada kematian seorang pemuda. Peristiwa ini menambah daftar panjang kekhawatiran masyarakat terkait potensi bahaya dari permainan yang awalnya dianggap sebagai hiburan semata.
Maraknya Permainan Berbahaya dan Respons Pemerintah
Permainan tembak-tembakan menggunakan senjata mainan omega, yang menggunakan peluru plastik atau jeli, telah menjadi fenomena yang kian populer di kalangan pemuda Makassar, terutama selama bulan suci Ramadan. Meskipun mulanya dimaksudkan sebagai sarana hiburan, aktivitas ini semakin hari menimbulkan kekhawatiran serius. Potensi mencederai warga dan mengganggu ketertiban umum menjadi alasan utama kekhawatiran tersebut.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Kota Makassar melalui Wali Kota Munafri Arifuddin menegaskan bahwa permainan ini tidak bisa dianggap remeh dan perlu ditindak tegas. Munafri menekankan bahwa meskipun hanya bersifat permainan, penggunaan senjata mainan dengan peluru tersebut tetap memiliki potensi untuk mencederai orang lain. Lebih lanjut, aktivitas ini dapat memicu konflik dan keresahan di tengah masyarakat, merusak harmoni sosial yang seharusnya dijaga, terutama di bulan penuh berkah.
Insiden Maut di Jalan Toddopuli
Kekhawatiran tersebut terbukti benar dengan terjadinya insiden yang viral di media sosial. Sebuah video memperlihatkan seorang pemuda di Makassar tewas tertembak oleh polisi saat aparat membubarkan aksi tembak-tembakan yang dilakukan sekelompok pemuda di tengah jalan. Peristiwa memilukan ini terjadi pada Minggu pagi, 1 Maret 2026, di kawasan Jalan Toddopuli, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar.
Korban diketahui bernama Bertrand Eka Prasetyo, seorang pemuda berusia 18 tahun. Ia menghembuskan napas terakhirnya setelah terkena tembakan saat polisi berusaha membubarkan aksi kejar-kejaran dan tembak-tembakan antar pemuda yang berlangsung di badan jalan.
Menanggapi kejadian yang menimbulkan perhatian luas ini, Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, memberikan keterangan bahwa senjata api yang digunakan oleh anggotanya meletus secara tidak sengaja. Pernyataan ini dikeluarkan menyusul keprihatinan mendalam dari publik atas hilangnya nyawa seorang pemuda akibat insiden tersebut.
Kronologi Kejadian Menurut Pihak Kepolisian
Dalam sebuah konferensi pers yang digelar di kantornya, Kombes Pol Arya Perdana merinci kronologi kejadian yang berujung pada tewasnya Bertrand. Laporan awal diterima pihak kepolisian sekitar pukul 07.00 WITA dari Kapolsek Rappocini melalui handy talky (HT). Laporan tersebut menginformasikan adanya sekelompok pemuda yang sedang bermain senapan omega dan mengganggu pengguna jalan.
“Jadi kejadiannya adalah pukul 7 pagi, di mana ada laporan dari salah satu kapolsek kami yaitu Kapolsek Rappocini di HT yang melaporkan bahwa ada anak-anak muda yang sedang bermain senapan omega,” ujar Arya dalam keterangannya.
Menindaklanjuti laporan tersebut, seorang perwira polisi berinisial Iptu N dilaporkan langsung menuju lokasi kejadian sendirian menggunakan mobil. Setibanya di Tempat Kejadian Perkara (TKP), Iptu N mendapati Bertrand sedang melakukan tindakan kasar terhadap seorang pengendara motor.
“Ketika datang ke TKP bertepatan dengan seorang anak muda atas nama Betran pada waktu itu sedang melakukan tindakan yang cukup keras kepada salah seorang pengendara motor,” terang Arya.
Saat Iptu N turun dari mobil dan berusaha melakukan penangkapan sambil memegang pelaku, ia sempat melepaskan tembakan peringatan ke udara. Namun, ketika Bertrand berusaha melarikan diri dan meronta, pistol yang masih dipegang oleh Iptu N dilaporkan meletus secara tidak sengaja dan mengenai bagian belakang tubuh korban.
“Kemudian Betran berusaha untuk melarikan diri, berusaha meronta dan ketika meronta pistol yang masih dipegang oleh IPTU N itu meletus dengan tidak sengaja terkena bagian tubuh belakang,” jelasnya.
Korban segera dilarikan ke Rumah Sakit Grestelina untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun, karena keterbatasan peralatan medis, Bertrand kemudian dirujuk ke RS Bhayangkara. Sayangnya, setibanya di RS Bhayangkara, nyawa Bertrand tidak dapat diselamatkan dan ia dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya kemudian menjalani proses otopsi pada malam itu juga.
Iptu N beserta senjata api yang digunakan juga turut diamankan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Pihak kepolisian, termasuk Kasat Reskrim dan Kabid Propam, juga melakukan olah TKP di lokasi kejadian. Meskipun hasil otopsi resmi belum keluar, Arya menyatakan kesimpulan sementara bahwa korban meninggal akibat tembakan tersebut.
“Tentu nanti hasil otopsi akan disampaikan oleh dokter karena kami tidak berwenang bukan ahlinya. Tetapi yang kami ketahui adalah bahwa korban memang meninggal karena letusan senjata yang tidak terprediksi oleh IPTU N ke tubuh korban,” tuturnya.
Kapolrestabes menegaskan bahwa pihaknya tidak akan menutup-nutupi kasus ini dan meminta masyarakat serta keluarga korban untuk mempercayakan proses hukum kepada kepolisian.
Kesaksian di Lokasi Kejadian
Seorang saksi mata berinisial DN (21) yang berada di lokasi kejadian menceritakan bahwa rombongan pemuda tersebut sempat bergerak dari Jalan Toddopuli 4 menuju Toddopuli 2 sebelum insiden terjadi di sekitar Toddopuli Raya.
“Kejadiannya itu, dia pertama, dia mengarah itu lawan, dia pertama dia dari Toddopuli 4. Toddopuli 4 terus dia pergi lagi, pergi, terus dia keluar lagi di Toddopuli 2,” ungkap DN.
Menurut DN, sempat terjadi bentrokan antar kelompok yang ia sebut sebagai pihak penyerang. “Eh di situ mulai kejadian situ tabrakan, tabrakan sesama yang menyerang. Iya (tabrakan) tapi sesamanya ji yang menyerang. Terus anak-anak tembaki dia, tembak mainan,” tambahnya.
DN juga mengaku mendengar suara orang mengokang senjata sebelum polisi datang menggunakan mobil biasa dari arah Hertasning. “Tidak lama itu, ada datang polisi dari Hertasning. Pakai mobil biasa. Terus tidak lama itu, dia turun, angkat senjata tembak mi satu kali, terus saya lari masuk,” ujarnya.
Keterangan Keluarga Korban
Ibu korban, Desi Manuhutu, mengaku menerima kabar duka saat berada di Jakarta. Ia baru mendapat informasi sekitar pukul 11.00 WITA, beberapa jam setelah kejadian.
“Baru dikasih informasi. Tapi bilangnya itu dibawa dari rumah sakit, katanya ada curi-curi gitu. Tapi belum dibilang meninggal, terus nggak lama, nggak sampai satu jam, sudah ada informasi bilang anakku meninggal,” ungkap Desi dengan mata berkaca-kaca.
Ia mengungkapkan rasa herannya atas kejadian tersebut, mempertanyakan bagaimana anaknya bisa tertembak. “Kok bisa, Pak, anak ketembak? Orang kan kalau polisi menembak itu kan ke atas, kenapa anakku bisa kena? Berarti ini kesalahan ini, Pak,” ujarnya penuh kepedihan.
Desi juga bersikeras meminta agar dilakukan otopsi terhadap jenazah putranya. “Saya bilang harus, anakku diotopsi. Saya bilang begitu, jadi diotopsi di sana. Tapi bapaknya yang urus itu, karena saya nggak ada kan,” tuturnya.
Setibanya di Makassar, ia melihat kondisi jenazah anaknya dengan sejumlah memar di wajah.
Kasus ini kini masih dalam proses penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian. Hasil otopsi resmi akan menjadi penentu utama dalam memastikan penyebab pasti kematian Bertrand, serta mendalami aspek prosedural terkait penggunaan senjata api oleh anggota kepolisian di lapangan. Pihak kepolisian berjanji akan transparan dalam penanganan kasus ini demi terciptanya keadilan.

















