Lonjakan Harga Minyak Lampaui 100 Dolar AS, Trump Sebut “Harga Kecil” untuk Keamanan Global
Washington D.C. – Pasar minyak global bergejolak hebat pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026, dengan harga minyak mentah melesat menembus angka 100 dolar AS per barel. Lonjakan tajam ini memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi global, namun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menganggapnya sebagai pengorbanan yang perlu demi menjaga keamanan internasional.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan melalui platform media sosialnya, Trump menekankan bahwa kenaikan harga minyak yang terjadi saat ini bersifat sementara. Ia berpendapat bahwa harga tersebut akan segera terkoreksi begitu ancaman nuklir dari Iran berhasil dinetralisir.
“Dalam jangka pendek harga minyak memang naik, tetapi akan turun dengan cepat setelah ancaman nuklir Iran dihancurkan,” tulis Trump. “Ini adalah harga yang sangat kecil untuk keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat dan dunia.”
Presiden Trump juga secara tegas menyatakan bahwa pihak mana pun yang memiliki pandangan berbeda mengenai situasi ini tidak memahami konteks keamanan global yang sebenarnya. Ia bahkan melontarkan pernyataan tegas, “HANYA ORANG BODOH YANG BERPIKIR BERBEDA.”
Akar Masalah: Ketegangan di Timur Tengah dan Gangguan Pasokan
Lonjakan harga minyak ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan di kawasan Timur Tengah. Situasi ini secara signifikan meningkatkan kekhawatiran akan potensi gangguan terhadap pasokan energi global yang krusial. Salah satu titik kritis yang menjadi sorotan adalah Selat Hormuz, jalur distribusi minyak yang sangat vital bagi perdagangan dunia.
Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis yang dilalui oleh sekitar seperlima dari total perdagangan minyak global. Ketidakstabilan di wilayah ini secara historis selalu berdampak langsung pada kenaikan harga minyak, karena pasar bereaksi cepat terhadap potensi hambatan pasokan.
Kenaikan harga minyak kali ini tercatat sebagai yang terbesar sejak awal pecahnya invasi Rusia ke Ukraina, yang sebelumnya juga sempat mengguncang pasar energi global. Para analis energi sepakat bahwa arah pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada dinamika dan perkembangan konflik di kawasan tersebut.
Prediksi Analis: Potensi Kenaikan Lebih Lanjut
Para analis memprediksi bahwa harga minyak bisa saja merangkak naik lebih tinggi lagi, bahkan mencapai 150 dolar AS per barel pada akhir Maret. Prediksi ini didasarkan pada skenario bahwa ketegangan di Timur Tengah terus berlanjut. Sebaliknya, jika ketegangan mereda, ada kemungkinan harga minyak akan mengalami penurunan. Namun, jika konflik meluas atau secara signifikan mengganggu produksi maupun distribusi minyak, tekanan harga diperkirakan akan bertahan lebih lama.
Dampak lanjutan dari lonjakan harga energi ini berpotensi menimbulkan efek domino bagi perekonomian global. Beberapa di antaranya adalah peningkatan angka inflasi yang signifikan, serta kenaikan biaya transportasi dan logistik di berbagai negara di seluruh dunia.

Peringatan Iran: Harga Minyak Bisa Mencapai Tingkat Ekstrem
Pemerintah Iran sendiri telah mengeluarkan peringatan keras. Mereka menyatakan bahwa serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas energi berisiko mendorong harga minyak dunia melonjak jauh lebih tinggi dari perkiraan saat ini.
Seorang juru bicara dari Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa eskalasi militer di kawasan tersebut dapat membawa harga minyak ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Jika Anda mampu menoleransi harga minyak lebih dari 200 dolar per barel, lanjutkan permainan ini,” katanya, merujuk pada serangan yang terjadi pada akhir pekan terhadap sejumlah lokasi energi.
Dampak ke Pasar Keuangan Global: Bursa Saham Merosot
Ketegangan yang meningkat di Timur Tengah dengan cepat mengguncang pasar keuangan global pada awal pekan perdagangan. Bursa saham di Asia dilaporkan mengalami penurunan tajam pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026.
Indeks Nikkei 225 di Tokyo tercatat turun sekitar 6,3 persen pada awal perdagangan. Sementara itu, indeks Kospi di Korea Selatan merosot 5,9 persen, dan indeks S&P/ASX 200 di Australia mengalami pelemahan sebesar 3,9 persen. Data perdagangan pra-pasar juga menunjukkan bahwa indeks utama di Wall Street diperkirakan akan dibuka melemah, menandakan potensi dimulainya pekan yang bergejolak bagi pasar ekuitas global.
Harga minyak mentah saat ini mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak masa pandemi COVID-19. Pada perdagangan hari Jumat saja, harga minyak mentah Amerika Serikat melonjak sekitar 10 dolar per barel.
Keraguan Pasar Terhadap Kemampuan Pemerintah AS
Clayton Seigle, seorang peneliti senior di Center for Strategic and International Studies, mengemukakan bahwa pasar saat ini mulai meragukan kemampuan pemerintah Amerika Serikat dalam menahan dampak krisis energi yang sedang terjadi. Menurutnya, pasar menghadapi potensi kekurangan pasokan minyak hingga 20 juta barel per hari, tanpa adanya tanda-tanda perbaikan dalam waktu dekat.
“Pasar sebelumnya memberi waktu bagi pemerintahan Trump, tetapi periode itu telah berakhir,” ujar Seigle. “Presiden Trump menuntut penyerahan tanpa syarat, sesuatu yang sangat kecil kemungkinannya terjadi.”
Secara keseluruhan, harga minyak global telah melonjak sekitar dua pertiga sejak awal tahun ini, bergerak dari kisaran 60 dolar per barel menjadi lebih dari 100 dolar per barel saat ini. Kenaikan ini sebenarnya sudah mulai terlihat sejak Januari dan Februari, namun mengalami peningkatan tajam setelah serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran lebih dari sepekan lalu. Serangan tersebut diketahui mengganggu jalur perdagangan penting yang krusial bagi pasokan minyak dari Timur Tengah.
Kekhawatiran akan kekurangan pasokan global ini semakin diperkuat oleh peringatan dari Qatar. Menteri energi negara tersebut menyatakan bahwa jika perang di Timur Tengah berlanjut tanpa henti, seluruh eksportir energi di kawasan Teluk berpotensi menghentikan produksi dalam beberapa pekan ke depan. Jika skenario terburuk ini terjadi, harga minyak diperkirakan dapat melonjak hingga mencapai sekitar 150 dolar per barel.


















