Alwi Farhan tak mampu membendung luapan emosinya setelah memastikan diri sebagai salah satu wakil Indonesia yang berhasil melaju ke partai puncak Swiss Open 2026. Sebagai andalan di sektor tunggal putra, Alwi Farhan sukses membayar lunas kepercayaan yang diberikan dengan mengamankan satu tempat di laga final turnamen prestisius tersebut.
Keberhasilan ini diraih oleh pemain yang menduduki peringkat ke-14 dunia itu setelah menaklukkan unggulan pertama asal Tiongkok, Li Shi Feng. Pertandingan sengit ini dilangsungkan di St Jakobshalle, Basel, Swiss. Dalam duel yang memakan waktu 49 menit, Alwi berhasil mengungguli pemain peringkat ketujuh dunia itu melalui dua gim langsung dengan skor akhir yang meyakinkan, 21-10 dan 21-19.
Meskipun meraih kemenangan dalam dua gim langsung, Alwi Farhan yang baru berusia 20 tahun itu mengakui bahwa meredam permainan Li Shi Feng bukanlah perkara mudah. Perjalanannya menuju final diwarnai dengan berbagai penyesuaian strategi. Mengingat sang lawan merupakan salah satu pemain tunggal putra terbaik Tiongkok saat ini, Alwi menyadari perlunya adaptasi taktik yang cepat.
Motivasi Berlipat Demi Dukungan Publik
Lebih dari sekadar ambisi pribadi, motivasi Alwi semakin berlipat ganda karena ia tidak ingin mengecewakan para penggemar bulu tangkis Indonesia yang rela begadang hingga larut malam demi menyaksikan aksinya. Dukungan dari tanah air menjadi sumber kekuatan tersendiri baginya.
Berkaca dari performanya di babak semifinal, Alwi Farhan berharap dapat melanjutkan tren positif ini dan membawa pulang gelar juara ke Indonesia. Ia mengungkapkan rasa terima kasihnya atas doa dan dukungan yang diberikan, yang sangat berarti baginya, meskipun terdapat perbedaan waktu yang signifikan.
“Tentu tidak gampang melawan Li Shi Feng,” ujar Alwi. “Pertandingan yang susah dengan banyak perubahan strategi, tapi saya tidak mau mengecewakan penonton di Indonesia yang sudah rela tidak tidur.”
“Terima kasih banyak buat doa dan dukungannya, sangat berarti bagi saya, merasa ditemani walaupun banyak perbedaan jam,” tambahnya. “Semoga besok saya bisa membawa piala ke Indonesia.”
Analisis Pertandingan dan Momen Kebangkitan
Dalam analisisnya mengenai jalannya pertandingan, Alwi menyoroti performa Li Shi Feng, khususnya pada gim kedua. Ia mengamati bahwa lawannya kerap melakukan kesalahan sendiri yang justru menguntungkan Alwi.
“Tadi di gim kedua setelah dia unggul jauh, malah ada beberapa poin dia melakukan kesalahan sendiri,” jelas Alwi. “Dan di situ adalah momen kebangkitan saya. Saya tahu, saya bisa merasakan tekanan yang dia rasakan.”
“Jadi saya tambah sedikit lagi memberi dia tekanan, sehingga saya bisa balik memegang kendali sepanjang sisa laga,” imbuhnya.
Dengan kemenangan ini, Alwi Farhan berhasil memperbaiki rekor pertemuannya melawan Li Shi Feng. Kini, keduanya sama-sama mencatatkan satu kemenangan dari total dua pertemuan mereka di lapangan.
“Di pertemuan pertama pastinya merasa agak kaget karena tidak menyangka permainan dia berbeda dengan yang saya lihat,” kenang Alwi tentang pertemuan pertama mereka. “Tapi hari ini, alhamdulillah, saya bisa melakukan penyesuaian, bisa lebih siap untuk menghadapi dia.”
Ekspresi Emosi yang Membuncah
Pada kesempatan yang sama, Alwi juga menegaskan bahwa ia akhirnya dapat melepaskan emosinya melalui selebrasi yang cukup ekspresif setelah berhasil menaklukkan Li Shi Feng. Ia mengaku telah berusaha menahan diri sepanjang pertandingan agar tidak berlebihan.
“Saya sudah menahan diri saya sepanjang laga untuk tidak berlebihan, jadi ketika menang saya tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata,” ucap Alwi. “Saya hanya bisa melepaskan emosi yang ada di dalam diri saya. Makanya tadi selebrasinya cukup ekspresif.”
Kemenangan ini tidak hanya menjadi pencapaian pribadi bagi Alwi Farhan, tetapi juga menjadi harapan besar bagi Indonesia untuk meraih gelar juara di Swiss Open 2026. Perjalanannya dari babak awal hingga final menunjukkan ketangguhan mental, kemampuan adaptasi, dan semangat juang yang luar biasa. Duel final nanti diprediksi akan semakin menegangkan, mengingat Alwi telah membuktikan kemampuannya untuk bersaing di level tertinggi.



















